Jajak
Yang Online
We have 30 guests online
Total Pengunjung
Kegiatan Lapangan
Penyelidikan Batubara Daerah Jasa-Waksepan Kab. Sintang, Prov. Kalimantan Barat
Eko Budi Cahyono
Kelompok Program Penelitian Energi Fosil
S A R I
Kelompok Program Penelitian Energi Fosil
S A R I
Penyelidikan batubara di daerah Jasa - Waksepan dan sekitarya, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat dilakukan dalam rangka pencarian potensi bahan galian khususnya batubara yang berada di wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Pelaksanaan kegiatan penyelidikan batubara dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder berupa pencarian data dan informasi mengenai daerah yang bersangkutan, baik dari informasi dari pemerintah setempat, data pendukung geologis, penyelidik terdahulu dan segala informasi yang menunjang. Sedangkan penyelidikan di lapangan sebagai bentuk kegiatan primer dengan cara pencarian singkapan batubara dan mendapatkan informasi dari pemerintah serta penduduk setempat.
Secara umum geologi daerah peyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Ketungau. Secara stratigrafi formasi pembawa batubara di daerah peyelidikan adalah Formasi Ketungau, dimana luas wilayah formasi ini sebagian besar meluti di daerah penyelidikan.
Hasil penyelidikan di lapangan didapatkan lokasi singkapan batubara sebanyak 6 buah yang tersebar pada Formasi Ketungau dengan arah umum strike singkapan batubara adalah barat – timur, dengan kemiringan singkapan relatif datar, antara 6 O - 12 O. Ketebalan singkapan sangat tipis, berkisar antara 0,2 – 0,6 m. Analisa dari data laboratorium didapatkan nilai kalori rata-rata batubara sebesar 7.000 kal/gr (adb), dimana batubara mempunyai nilai kualitas tinggi.
Total perhitungan sumber daya batubara di daerah Jasa-Waksepan didapatkan sebesar 3.371.901,98 ton, dan hasil korelasi lapisan hanya terdapat 1 seam yang ada di wilayah ini, dengan bentangan lapisan batubara yang memanjang dari Desa Riam Sejawak hingga Nanga Bayan.
Secara umum geologi daerah peyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Ketungau. Secara stratigrafi formasi pembawa batubara di daerah peyelidikan adalah Formasi Ketungau, dimana luas wilayah formasi ini sebagian besar meluti di daerah penyelidikan.
Hasil penyelidikan di lapangan didapatkan lokasi singkapan batubara sebanyak 6 buah yang tersebar pada Formasi Ketungau dengan arah umum strike singkapan batubara adalah barat – timur, dengan kemiringan singkapan relatif datar, antara 6 O - 12 O. Ketebalan singkapan sangat tipis, berkisar antara 0,2 – 0,6 m. Analisa dari data laboratorium didapatkan nilai kalori rata-rata batubara sebesar 7.000 kal/gr (adb), dimana batubara mempunyai nilai kualitas tinggi.
Total perhitungan sumber daya batubara di daerah Jasa-Waksepan didapatkan sebesar 3.371.901,98 ton, dan hasil korelasi lapisan hanya terdapat 1 seam yang ada di wilayah ini, dengan bentangan lapisan batubara yang memanjang dari Desa Riam Sejawak hingga Nanga Bayan.
Read More...
Prospeksi Mineral Logam Di Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku
Franklin
Kelompok Program Penelitian Mineral
SARI
Kelompok Program Penelitian Mineral
SARI
Kabupaten Buru/Buru Selatan merupakan salah satu kawasan di luar Busur Banda (jalur gunung api) dengan formasi geologi bervariasi antara batuan sedimen dan metamorfik. Satuan litostratigrafi Kabupaten Buru Selatan disusun oleh batuan metamorfosa/malihan regional dinamotermal yang berumur Pra Tersier (Permo) yang ditutup oleh batuan sedimen baik selaras maupun tidak selaras di atasnya serta batuan terobosan/intrusi yang memotong batuan metamorfosa dan batuan sedimen di atasnya. Adanya poros lipatan (antiklin dan sinklin) dan tekanan gaya kompresional menyebabkan terjadinya sesar normal/turun tensional dan pasangannya (shear fault) ditambah dengan tingkat rekahan yang sangat intensif diharapkan menjadi faktor pengontrol adanya pembentukan minerali di wilayah ini. Indikasi pemineralan berdasarkan hasil analisis kimia terhadap conto batuan menunjukkan di daerah Waemese emas 6 gr/ton, As 2,6 gr/ton dan Hg 5,7 gr/ton. Conto lainnya Au 0,41 gr/ton, As 1,3 gr/ton dan Hg 0,3 gr/ton. Angka ini cukup berarti dan logam yang terkandung berasal dari batuan yang bersifat hydrous Iron Oxyde yang sifat pemineralannya adalah pengisian pada retakan-retakannya yang telah mengalami ubahahan. Conto batuan ini singkapannya cukup luas dan berdasarkan hasil analisis kimia didukung oleh hasil analisis mineragrafi untuk sementara daerah tersebut diperkirakan zona prospek untuk diteliti lebih lanjut
Read More...
Survei Magnetotelurik Daerah Panas Bumi Danau Ranau Lampung – Sumatera Selatan
SURVEI MAGNETOTELURIK DAERAH PANAS BUMI DANAU RANAU
LAMPUNG – SUMATERA SELATAN
Asep Sugianto, Muhammad Kholid, dan Edi Suhanto
Kelompok Program Penelitian Bawah Permukaan
SARI
LAMPUNG – SUMATERA SELATAN
Asep Sugianto, Muhammad Kholid, dan Edi Suhanto
Kelompok Program Penelitian Bawah Permukaan
SARI
Daerah panas bumi Danau Ranau berada pada perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan, secara administrasi masuk kedalam Kabupaten Lampung, Lampung dan Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan. Gejala panas bumi di daerah ini ditunjukkan dengan munculnya mata air panas di sebelah tenggara Danau Ranau atau di sebelah barat dan utara kaki Gunung Seminung. Pada tahun 2009, telah dilakukan survei magnetotelurik (MT) di daerah ini dengan tujuan untuk mengetahui keadaan bawah permukaan dan lebih menegaskan keprospekan (letak, delineasi, dan kedalaman) dari sistem panas bumi di daerah ini.
Pengukuran MT dilakukan pada 35 titik ukur yang tersebar membentuk 6 lintasan dengan jarak antar titik ukur sekitar 1000 meter. Hasil dari pengukuran MT memperlihatkan bahwa daerah prospek panas bumi Danau Ranau berada di sebelah utara dan barat laut Gunung Seminung dengan luas sekitar 24 km2 yang ditunjukkan oleh sebaran tahanan jenis semu rendah. Batuan penudung dari sitem panas bumi di daerah ini ditunjukkan oleh tahanan jenis rendah <20 Ohm-m yang berada pada kedalaman antara 200 – 800 meter dengan ketebalan 500 – 1500 meter, sedangkan reservoirnya diperkirakan berada pada kedalaman di atas 1000 meter.
Pengukuran MT dilakukan pada 35 titik ukur yang tersebar membentuk 6 lintasan dengan jarak antar titik ukur sekitar 1000 meter. Hasil dari pengukuran MT memperlihatkan bahwa daerah prospek panas bumi Danau Ranau berada di sebelah utara dan barat laut Gunung Seminung dengan luas sekitar 24 km2 yang ditunjukkan oleh sebaran tahanan jenis semu rendah. Batuan penudung dari sitem panas bumi di daerah ini ditunjukkan oleh tahanan jenis rendah <20 Ohm-m yang berada pada kedalaman antara 200 – 800 meter dengan ketebalan 500 – 1500 meter, sedangkan reservoirnya diperkirakan berada pada kedalaman di atas 1000 meter.
Read More...
Pemboran Dalam Dan Pengukuran Gas Dalam Lapisan Batubara Daerah Tanah Bumbu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan
Eko Budi Cahyono
Kelompok Kerja Energi Fosil
S A R I
Kelompok Kerja Energi Fosil
S A R I
Pengukuran kandungan gas dilakukan pada wilayah Desa Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Pengukuran kandungan gas ini dimaksudkan untuk mengetahui akan adanya komposisi dan kuantitas kandungan gas yang ada pada sampel inti bor batubara dan pada seluruh seam batubara berdasarkan luas daerah pengaruh di wilayah penyelidikan. Hasil pengukuran kandungan gas ini selain untuk mengetahui akan kandungan gas batubara di wilayah tersebut, dapat digunakan sebagai acuan atau referensi pentingnya kandungan gas dalam hubungannya dalam masalah keselamatan tambang, khususnya untuk tambang dalam, dan secara umum sebagai dampak akan adanya pengaruh gas yang keluar terhadap lingkungan sekitar tambang. Tujuan lainnya dari pengukuran dan analisa kandungan gas ini adalah mencari seberapa besar sumber daya gas yang ada di dalam lapisan batubara sebagi potensi energi yang dapat dijadikan sebagai salah satu energi yang cukup potensial untuk dimanfaatkan bagi negara.
Secara umum batubara geologi daerah penyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Pasir, dimana terdiri dari Formasi Warukin, Berai, Tanjung, dan Batuan Pra-Tersier. Dan Formasi Warukin dan Tanjung merupakan formasi pembawa batubara. Terdapat singkapan batubara sebanyak 21 buah yang tersebar pada beberapa Formasi Warukin dan Tanjung dengan kemiringan rata-rata sekitar 25O. Dari pemboran diperoleh 12 seam batubara dimana ada tiga seam yan mempunyai ketebalan lebih besar dari 1 meter, yaitu Seam E dengan ketebalan 0,96 m, Seam I dengan ketebalan 2,27 meter dan Seam J dengan ketebalan 5,05 meter
Diperoleh total sumberdaya batubara untuk tambang dalam sebesar 107.364.977 ton dan sumberdaya batubara untuk pengembangan kandungan gas sebesar 112.733.226 ton. Kemudian sumberdaya kandungan gas batubara diperoleh sebesar 5,164,389,763 Cuft. Secara komposisi, diperoleh gas O2 sebesar 519.715.517 cuft, N2 diperoleh sebesar 3.149.305.937 cuft, CH4 diperoleh sebesar 402.255.325 cuft dan CO2 diperoleh sebesar1.361.567cuft.
Secara umum batubara geologi daerah penyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Pasir, dimana terdiri dari Formasi Warukin, Berai, Tanjung, dan Batuan Pra-Tersier. Dan Formasi Warukin dan Tanjung merupakan formasi pembawa batubara. Terdapat singkapan batubara sebanyak 21 buah yang tersebar pada beberapa Formasi Warukin dan Tanjung dengan kemiringan rata-rata sekitar 25O. Dari pemboran diperoleh 12 seam batubara dimana ada tiga seam yan mempunyai ketebalan lebih besar dari 1 meter, yaitu Seam E dengan ketebalan 0,96 m, Seam I dengan ketebalan 2,27 meter dan Seam J dengan ketebalan 5,05 meter
Diperoleh total sumberdaya batubara untuk tambang dalam sebesar 107.364.977 ton dan sumberdaya batubara untuk pengembangan kandungan gas sebesar 112.733.226 ton. Kemudian sumberdaya kandungan gas batubara diperoleh sebesar 5,164,389,763 Cuft. Secara komposisi, diperoleh gas O2 sebesar 519.715.517 cuft, N2 diperoleh sebesar 3.149.305.937 cuft, CH4 diperoleh sebesar 402.255.325 cuft dan CO2 diperoleh sebesar1.361.567cuft.
Read More...
Penelitian Potensi Bahan Galian Untuk Pertambangan Sekala Kecil Daerah Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur Provinsi Sulawesi Utara
Ridwan Arief dan Rohmana
Kelompok Program Penelitian Konservasi, Pusat Sumber Daya Geologi
SARI
Kelompok Program Penelitian Konservasi, Pusat Sumber Daya Geologi
SARI
Daerah Penelitian terletak di Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara, diantaranya yaitu di Bukit Panang, Bukit Tungau, Molobog dan Matabulu. Para penyelidik terdahulu telah menemukan bahan galian emas. Terutama untuk lokasi Bukit Panang terletak diantara KP PT Avocet dan PT Aneka tambang, dimana di wilayah tersebut terdapat penambang lokal yang masih aktif hingga saat ini.
Geologi daerah Bukit Panang hingga Benteng terdiri dari batuan vulkanik bersifat andesitik, dengan mineral hornblende yang cukup mencolok, sehingga memperlihatkan bentuk plug dan di Bukit Tungau ditempati oleh batuan sedimen lanauan gampingan dan batugamping. Sedangkan di Molobog terdapat dua bukit ditempati batuan andesit vulkanik sedikit hornblende, bagian atas ditutupi oleh batuan vulkanik muda sebagian masih segar, bersifat andesitik dan sebagian mengalami pelapukan. Demikian juga di Matabulu geologinya sama dengan di Molobog, akan tetapi singkapannya tidak begitu luas, sehingga sulit untuk dilakukan pengambilan conto batuan terubah dan termineralisasi.
Hasil analisis laboratorium kadar emas di daerah Bukit Panang dan Bukit Tungau mempunyai nilai rata-rata kandungan emas sekitar 16,5 gr/ton, sedangkan di Daerah Molobog dan sekitarnya mengandung emas rata-rata sekitar 11,0 gr/ton.
Jumlah sumber daya hipotetik emas di Bukit Panang dan Bukit Tungau Desa Kotabunan, sekitar 1,109 ton emas , sedangkan sumber daya emas aluvial sekitar 117 kg emas. Sumber daya di daerah Molobog dan Bukit Auk, Kecamatan Nuangan sekitar 693,0 kg emas, selain bahan galian emas di daerah penelitian terdapat pula bahan galian/endapan belerang dijumpai di wilayah Kawah Gunung Ambang dengan cadangan 121.456 metrik ton. Kemudian potensi panas bumi di daerah Lombongo (50º C), Binggele (81º C), Hunggayono (40º C) dan Tulabado (80º C) (Hadian dkk., 1974).
Geologi daerah Bukit Panang hingga Benteng terdiri dari batuan vulkanik bersifat andesitik, dengan mineral hornblende yang cukup mencolok, sehingga memperlihatkan bentuk plug dan di Bukit Tungau ditempati oleh batuan sedimen lanauan gampingan dan batugamping. Sedangkan di Molobog terdapat dua bukit ditempati batuan andesit vulkanik sedikit hornblende, bagian atas ditutupi oleh batuan vulkanik muda sebagian masih segar, bersifat andesitik dan sebagian mengalami pelapukan. Demikian juga di Matabulu geologinya sama dengan di Molobog, akan tetapi singkapannya tidak begitu luas, sehingga sulit untuk dilakukan pengambilan conto batuan terubah dan termineralisasi.
Hasil analisis laboratorium kadar emas di daerah Bukit Panang dan Bukit Tungau mempunyai nilai rata-rata kandungan emas sekitar 16,5 gr/ton, sedangkan di Daerah Molobog dan sekitarnya mengandung emas rata-rata sekitar 11,0 gr/ton.
Jumlah sumber daya hipotetik emas di Bukit Panang dan Bukit Tungau Desa Kotabunan, sekitar 1,109 ton emas , sedangkan sumber daya emas aluvial sekitar 117 kg emas. Sumber daya di daerah Molobog dan Bukit Auk, Kecamatan Nuangan sekitar 693,0 kg emas, selain bahan galian emas di daerah penelitian terdapat pula bahan galian/endapan belerang dijumpai di wilayah Kawah Gunung Ambang dengan cadangan 121.456 metrik ton. Kemudian potensi panas bumi di daerah Lombongo (50º C), Binggele (81º C), Hunggayono (40º C) dan Tulabado (80º C) (Hadian dkk., 1974).
Read More...
Eksplorasi Umum Batumulia Di Daerah Pulau Kasiruta Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara
Irwan Muksin, Zulfikar, Herry R.E., Martua R. P
Kelompok Program Penelitian Mineral
Sari
Secara administratif, lokasi eksplorasi umum Batumulia terletak di daerah Pulau Kasiruta, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis, daerah ini dibatasi oleh koordinat 127º 05’ 28” - 127º 12’ 56” Bujur Timur dan 0º 17’ 41” - 0º 28’ 57” Lintang Selatan.
Satuan batuan yang terdapat di daerah penyelidikan adalah Satuan Lava Andesit, satuan ini hampir menutupi sebagian besar daerah penyelidikan; Satuan Batugamping, menempati bagian utara timur daerah penyelidikan: Satuan Breksi Volkanik, menempati sedikit wilayah daerah penyelidikan di sudut selatan; Endapan Aluvium, menempati daerah pedataran bagian selatan daerah penyelidikan.
Keterdapatan batumulia jenis krisokola dijumpai berupa urat - urat mengisi rekahan yang terdapat pada batuan lava andesit, secara geologi termasuk dalam penyebaran satuan lava andesit yang berumur Oligosen. Batumulia jasper dijumpai berupa bongkah-bongkah di sungai dan di pantai, terdapat bersama-sama dengan bongkah-bongkah krisokola. Di pantai Waringin, Desa Imbuimbu krisokola mempunyai sumber daya hipotetik sebesar 2.000 m3, sedang jasper dengan sumber daya hipotetik sebesar 1.000 m3.
Keterdapatan batumulia krisokola di daerah Pulau Kasiruta ini tersebar di tujuh lokasi meliputi wilayah empat desa, yaitu Desa Palamea, Desa Imbuimbu, Desa Doko dan Desa Bisori. Sedangkan batumulia jasper tersebar di dua desa yakni Desa Doko dan Desa Imbuimbu.
Batumulia krisokola dan jasper dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku batu permata atau perhiasan.
Satuan batuan yang terdapat di daerah penyelidikan adalah Satuan Lava Andesit, satuan ini hampir menutupi sebagian besar daerah penyelidikan; Satuan Batugamping, menempati bagian utara timur daerah penyelidikan: Satuan Breksi Volkanik, menempati sedikit wilayah daerah penyelidikan di sudut selatan; Endapan Aluvium, menempati daerah pedataran bagian selatan daerah penyelidikan.
Keterdapatan batumulia jenis krisokola dijumpai berupa urat - urat mengisi rekahan yang terdapat pada batuan lava andesit, secara geologi termasuk dalam penyebaran satuan lava andesit yang berumur Oligosen. Batumulia jasper dijumpai berupa bongkah-bongkah di sungai dan di pantai, terdapat bersama-sama dengan bongkah-bongkah krisokola. Di pantai Waringin, Desa Imbuimbu krisokola mempunyai sumber daya hipotetik sebesar 2.000 m3, sedang jasper dengan sumber daya hipotetik sebesar 1.000 m3.
Keterdapatan batumulia krisokola di daerah Pulau Kasiruta ini tersebar di tujuh lokasi meliputi wilayah empat desa, yaitu Desa Palamea, Desa Imbuimbu, Desa Doko dan Desa Bisori. Sedangkan batumulia jasper tersebar di dua desa yakni Desa Doko dan Desa Imbuimbu.
Batumulia krisokola dan jasper dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku batu permata atau perhiasan.
Read More...
Pemboran Dalam Batubara/ Pengukuran Packers Dan Gas Di Daerah Tamiang Dan Sekitarnya Kabupaten Musi, Banyuasin Propinsi Sumatera Selatan
Oleh
Rahmat Hidayat, Sigit Arso Wibisono dan S. M. Tobing
(Kelompok Program Penelitian Energi Fosil)
S A R I
Rahmat Hidayat, Sigit Arso Wibisono dan S. M. Tobing
(Kelompok Program Penelitian Energi Fosil)
S A R I
Kegiatan pemboran dalam batubara dan gas telah dilakukan di daerah Tamiang, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan. Kegiatan ini adalah untuk mengetahui keadaan geologi, ketebalan dan penyebaran batubara, sumber daya batubara dan kandungan gas batubara.
Formasi pembawa batubara adalah Fm. Muaraenim dengan keempat anggotanya M1, M2, M3, dan M4., dimana setiap anggota memiliki lapisan batubara dan karakteristik masing-masing.
Dua titik bor menembus 4 (empat) lapisan batubara pada titik bor TBM-01 dengan ketebalan 0,20 – 7,65 m. Pada titik bor TBM-02 ditembus 10 (sepuluh) lapisan batubara dengan ketebalan mulai dari 0,35 – 2,60 m. Lapisan batubara yang paling tebal terdapat pada titik bor TBM-01 pada kedalaman 44,35 – 52,00 m, setebal 7,65 m. Penyebaran endapannya mengikuti sayap sinklin dengan arah Baratlaut – Tenggara dengan kemiringan 5o – 40o.
Kualitas batubara termasuk ke dalam ‘low - medium rank coal’ dengan nilai kalori berkisar dari 5.199 – 5.838 kal/gr. Kandungan abu 5,29 – 9,75%, sulfur total 0,61 – 2,81% dan total moisture 44,14 – 51,00% (ar).
Sumber daya batubara (M2) pada kedua titik ini dengan luas pengaruh sepanjang arah jurus lapisan batubara sekitar 1.000 m dan kedalaman sampai 200 m, adalah sekitar 31,792 juta ton.
Hasil analisis gas dalam batubara menunjukkan bahwa total gas 6.108.611,54 m3/ton (in place). Kandungan gas methan (CH4) sekitar 258.081,98 m3/ton atau sekitar 4,2249% CH4.
Formasi pembawa batubara adalah Fm. Muaraenim dengan keempat anggotanya M1, M2, M3, dan M4., dimana setiap anggota memiliki lapisan batubara dan karakteristik masing-masing.
Dua titik bor menembus 4 (empat) lapisan batubara pada titik bor TBM-01 dengan ketebalan 0,20 – 7,65 m. Pada titik bor TBM-02 ditembus 10 (sepuluh) lapisan batubara dengan ketebalan mulai dari 0,35 – 2,60 m. Lapisan batubara yang paling tebal terdapat pada titik bor TBM-01 pada kedalaman 44,35 – 52,00 m, setebal 7,65 m. Penyebaran endapannya mengikuti sayap sinklin dengan arah Baratlaut – Tenggara dengan kemiringan 5o – 40o.
Kualitas batubara termasuk ke dalam ‘low - medium rank coal’ dengan nilai kalori berkisar dari 5.199 – 5.838 kal/gr. Kandungan abu 5,29 – 9,75%, sulfur total 0,61 – 2,81% dan total moisture 44,14 – 51,00% (ar).
Sumber daya batubara (M2) pada kedua titik ini dengan luas pengaruh sepanjang arah jurus lapisan batubara sekitar 1.000 m dan kedalaman sampai 200 m, adalah sekitar 31,792 juta ton.
Hasil analisis gas dalam batubara menunjukkan bahwa total gas 6.108.611,54 m3/ton (in place). Kandungan gas methan (CH4) sekitar 258.081,98 m3/ton atau sekitar 4,2249% CH4.
Read More...
Eksplorasi Umum Timah Hitam (Pb) Di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat
Dwi Nugroho Sunuhadi dan Syahya Sudarya
Kelompok Program Penelitian Mineral
SARI
Kelompok Program Penelitian Mineral
SARI
Geologi daerah Tambangan, Jorong Petok, Nagari Panti, Kabupaten Pasaman mempunyai runtunan stratigrafi dari muda ke tua, yaitu : Alluvial berumur Kuarter, Satuan Batuan Filit (Formasi Kuantan) berumur Permokarbon serta Granit (Batholit Tandung Kumbang) berumur Permo Trias. Mineralisasi logam dijumpai berupa urat-urat halus larutan silika berukuran beberapa cm sampai 10 cm maupun penggantian pada batuan samping mengandung mineral-mineral sulfida seperti galena, pirit dan kalkopirit dengan oksida besi sebagai pengotor dalam masadasar silika, yang kehadirannya sangat dipengaruhi oleh struktur, litologi pembawanya maupun faktor alam seperti erosi dan morfologi. Batuan intrusi granit dari Formasi Tadung Kumbang sebagai pembawa mineralisasi tersebar luas di daerah ini, sehingga kemungkinan sumber daya yang mmpunyai nilai ekonomis masih dapat diharapkan. Hal ini didukung oleh besarnya sebaran anomali chargeability batuan yang mengandung logam yang terukur dengan makin bertambahnya kedalaman. Potensi sumberdaya tereka logam Pb berdasarkan interpretasi geofisika diperkirakan sebanyak 7.389.038 ton.
Read More...
















