Pemantauan Dan Evaluasi Konservasi Sumber Daya Mineral Di Daerah Kabupaten Luwu Timur

PEMANTAUAN DAN EVALUASI KONSERVASI SUMBER DAYA MINERAL

PADA WILAYAH USAHA PERTAMBANGAN DI KABUPATEN LUWU TIMUR,

PROVINSI SULAWESI SELATAN

Oleh :

R.Hutamadi, Umi Kuntjara, Hendro Fujiono

 

 

S a r i

Dalam rangka mendorong penerapan konservasi sumber daya mineral (bahan galian), pada Tahun Anggaran 2005 telah dilaksanakan pemantauan dan evaluasi konservasi pada penambangan di daerah Kabupaten Luwu Timur, Propinsi Sulawesi Selatan. Program ini dititikberatkan pada penambangan nikel laterit di wilayah Kontrak Karya PT.Internasional Nickel Indonesia (INCO) di Sorowako, Malili dan sekitarnya.

PT. Internasional Nickel Indonesia (INCO) mulai menandatangani kontrak karya generasi 2 dan 6 pada 27 juli 1968 sampai operasional hingga saat ini seluas 218.530 Ha. Cadangan Nikel sebesar 107,7 juta ton bijih berkadar rata-rata 1,83% Ni, setara dengan masa penambangan 18,9 tahun, dengan sistem penambangan terbuka (open pit) metode open cast, yang mampu memindahkan material sekitar 19,7 juta ton per tahun.

Material terbuang tersebut termasuk overburden terdiri dari laterit yang mengandung Fe sampai 20%, bijih dengan kadar marginal, dan mineral ikutan besi sebagai produksi buangan (slag) dalam jumlah sangat signifikan. Hal inilah yang senantiasa menjadi bahan pembahasan terutama Pemerintah Daerah melalui dinas terkait, karena hingga saat ini pemanfaatannya masih terbatas untuk ballast atau urugan pengerasan jalan.

Upaya evaluasi dan analisis untuk mengurangi losses perlu lebih serius dilakukan terutama slag yang berjumlah sangat besar. Penanganan bijih berkadar marjinal yang sudah dilakukan dengan menurunkan CoG, Akan tetapi perlu perhatian khusus untuk pengembangan teknologi pengolahan karena jumlah sumber daya di bawah CoG sangat besar. Pemerintah Daerah mengharapkan adanya kerjasama dengan PT INCO maupun lembaga penelitian terkait dalam mengupayakan optimalisasi pemanfaatan bahan galian kadar marjinal dan mineral ikutannya terutama slag yang berjumlah sangat besar, atau masih berpotensi ekonomis.

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Konservasi bahan galian merupakan kebijakan pengelolaan bahan galian yang mengutamakan pada optimalisasi manfaat dan mengupayakan sesedikit mungkin dampak negatif suatu usaha pertambangan, dengan menjaga kelestarian fungsi lingkungan. Disamping itu perlu perumusan konservasi untuk kepentingan penelitian, cagar alam geologi maupun laboratorium alam, serta cadangan bagi generasi yang akan datang. Upaya penerapan konservasi sebaiknya dilakukan mulai dari tahap awal sampai akhir usaha pertambangan, yaitu sejak eksplorasi sampai dengan pasca tambang.

Sayangnya penerapan azas konservasi bahan galian belum sepenuhnya dilakukan oleh para pelaku usaha pertambangan baik yang berskala kecil maupun besar. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengawasan pemantauan, pendataan di lapangan dan evaluasi agar penerapan aspek konservasi ini betul-betul terwujud, sehingga tidak ada unsur pemborosan atau penyia-nyiaan bahan galian.

Tulisan ini dibuat sebagai hasil pemantauan dan evaluasi konservasi di wilayah usaha pertambangan PT. INCO, Sorowako dan sekitarnya, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan yang dibiayai dari DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) Tahun Anggaran 2005 ini berlangsung selama beberapa hari pada bulan Juni, dan bertujuan untuk mendorong penerapan azas konservasi pada wilayah pertambangan di Indonesia.

Walaupun tidak ada sangsi apapun bagi pemegang IUP, akan tetapi hasil pemantauan dan evaluasi ini dapat menjadi masukan bagi perencanaan dan penentuan kebijakan dalam optimalisasi pemanfaatan bahan galian di daerah tersebut.

Lokasi dan Pencapaian Lokasi

Kabupaten Luwu Timur, beribukota Malili, secara administratif masuk dalam Provinsi Sulawesi Selatan. PT INCO, menandatangani kontrak karya eksplorasi nikel pada 27 juli tahun 1968 berdasarkan kontrak karya generasi II dan VI pada tahap operasional hingga saat ini, seluas 218.530 Ha, meliputi 118,387 Ha di wilayah Kabupaten Luwu Timur, 36,638 Ha di Provinsi Sulawesi Tengah dan   63,505 Ha termasuk Provinsi Sulawesi Tenggara Kegiatan penambangan berada di sekitar Sorowako dan Danau Matano, yang berjarak sekitar 240 km dari Makassar ibukota propinsi Sulawesi Selatan.

Sorowako dapat dicapai dari Bandung dengan perjalanan darat ke Jakarta, dilanjutkan dengan pesawat udara Jakarta – Makassar. Dari Makassar dapat dilanjutkan dengan kendaraan roda 4 ke Palopo – Malili – lokasi kegiatan. Atau dengan satu-satunya penerbangan langsung Makassar - Sorowako (Gambar 1).

Pelaksanaan Pemantauan Konservasi

Kegiatan ini dilakukan dengan pengumpulan data sekunder dan primer pada lokasi kegiatan penambangan yang sedang beroperasi, serta menginventarisasi bahan galian lain di sekitarnya. Percontoh dikumpulkan untuk analisis laboratorium sebagai bahan evaluasi. Pemantauan dan pendataan meliputi data hasil eksplorasi, sumber daya dan cadangan, penambangan, pengolahan dan produksi.

Data sekunder dikumpulkan dari literatur dan diskusi langsung dengan pejabat kabupaten yang berwenang, yang lingkup tugasnya juga meliputi kehutanan dan lingkungan hidup. Data primer dikumpulkan dengan pengamatan lapangan dan pengambilan percontoh, baik dalam areal tambang aktif maupun yang telah selesai, waste dump, stockpile, instalasi pengolahan, tailing, dan tempat lainnya di lokasi bekas penambangan PT. INCO.

Pengambilan percontoh batuan dan bahan galian lain dilakukan di daerah sekitar tambang untuk analisis laboratorium sebanyak 20 buah terdiri dari bijih, lumpur tailing, konsentrat nikel dan 2 buah perconto bahan galian lain.

KEADAAN GEOLOGI DAN BAHAN GALIAN

Geologi

Secara fisiografis daerah Malili dan sekitarnya termasuk dalam Mandala Geologi Sulawesi Timur dan Sulawesi Barat dengan batas Sesar Palu Koro yang berarah hampir Utara Selatan. (Gambar 2). Batuan yang tersingkap adalah Formasi Latimojong, Formasi Matano, Batuan Ultramafik dan Komplek Pompangeo.

Formasi Latimojong terdiri dari perselingan batusabak, filit, wacke, kuarsit, batugamping dan batulanau, sisipan konglomerat dan rijang, dan umumnya termalihkan lemah. Formasi Matano yang berumur Kapur Atas disusun oleh batugamping hablur dan kalsilutit, napal, serpih, sisipan rijang dan batusabak, formasi ini diendapkan di lingkungan laut dalam. Terakhir Batuan Ultramafik terdiri atas harzburgit, lherzolit, wehrlit, websterit, serpentin dan dunit. Batuan Ultramafik berbatasan sesar naik dengan Formasi Matano, dicirikan oleh suatu lajur batuan terserpentinkan dengan ketebalan mencapai puluhan meter.

 

 

Gambar 1. Peta Lokasi Wilayah IUP PT. INCO di Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi

 

Gambar 2. Peta geologi regional daerah Kab.Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sumber : Dinas Pertambangan, Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kab. Luwu Timur)

Bahan Galian di Kabupaten Luwu Timur

Laterit Nikel

Endapan nikel laterit terdapat pada sabuk ultrabasa yang potensial memanjang >120 km dan lebar >60 km. Batuan Ultramafik yang dianggap sebagai “source” merupakan akibat dari pergerakan tektonik lempeng pada zaman Kapur - Tersier ketika lempeng Pasifik bergerak menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Batuan tersebut terserpentinitkan oleh pelapukan tropis selama kurun waktu yang amat panjang, menghasilkan endapan laterit-nikel-kobalt. Nikel dan kobalt dalam mineral garnierite dan mangan oksida terkonsentrasi terutama pada lapisan saprolit. Lapisan endapan ini umumnya terdiri atas beberapa meter tanah pucuk, 5-15 m laterit dan 10-20 m saprolit yang merupakan lapisan bijih nikel.

Cadangan Nikel sebesar 107,7 juta ton bijih dengan kadar rata-rata 1,83% Ni, menurut rencana akan ditambang selama 18,9 tahun dengan kapasitas produksi 200 juta pon nikel pertahun. PT. INCO juga masih menyimpan sumber daya nikel sebesar 408,7 juta ton total dengan kadar rata-rata 1,69% logam Nikel.

Di wilayah IUP PT. INCO bijih laterit nikel dibedakan menjadi 2 tipe: Blok Barat yang dicirikan oleh lapisan limonit yang relatif tipis dan Blok Timur dengan lapisan limonit yang tebal seperti terlihat dalam Gambar 3. Lapisan limonit merupakan lapisan penutup (overburden) yang diperlakukan sebagai waste (material buangan). Karena kedua tipe bijih juga memiliki karakteristik fisik dan kimia yang berbeda, maka diperlakukan berbeda dalam sistem pengolahan, yaitu di stasion penyaring. Hal ini dilakukan agar proses peningkatan kadar bijih per ton dapat dioptimalkan.

Disamping itu keduanya juga harus dicampurkan dalam komposisi tertentu dalam instalasi pengolahan untuk memperpanjang umur pemakaian tanur listrik.

Wilayah konsesi PT INCO di Kabupaten Luwu Timur sebagian terletak di Sorowako Project Area (SPA) yang dikenal dengan Sorowako East & West block, dan sebagian di luar daerah Sorowako (Sorowako Outer Area).

Bahan Galian Lain

Bahan galian selain nikel yang terdapat di daerah kabupaten Luwu Timur cukup melimpah, yaitu pasir, batu kali, marmer. Marmer terletak di daerah Balambano, saat ini masih dalam tahap menunggu investor, untuk tahapan penyelidikan umum.

 

 

Gambar 3. Profil Stratigrafi Nikel Laterit (Sumber : PT INCO)

Ijin usaha pertambangan ekploitasi untuk golongan C komoditas sirtu (pasir batu) dan batu kali telah diberikan sejak 2 tahun terakhir di daerah  Kasintuwu, Kecamatan Mangkutana. 

PENAMBANGAN NIKEL OLEH PT. INCO

Sistem Penambangan

Kegiatan penambangan yang dilakukan diawali dengan kegiatan eksplorasi. Data hasil kegiatan eksplorasi tersebut digunakan dalam proses perencanaan tambang (mine planning) sebagai bahan masukan, pedoman atau acuan dalam pelaksanaan penambangan (mine operation). Alur data eksplorasi dalam proses penambangan dapat dilihat pada Gambar 5. Sedangkan Gambar 6 memperlihatkan alur kegiatan penambangannya.

Sistem penambangan yang dilakukan oleh PT Inco adalah open cast, yaitu penambangan terbuka yang aktifitasnya meliputi mengupas, membongkar dan menggali bahan galian yang terdapat di permukaan. Secara umum tahapan kegiatan tersebut sebagai berikut :

1         Pengupasan lapisan tanah penutup dan limonit setebal 15 – 20 meter ditimbun di tempat tertentu atau digunakan langsung untuk menutupi daerah bekas penambangan.

2         Penggalian lapisan tanah ketiga yang berkadar nikel tinggi (bijih nikel) setebal 7 – 10 meter diangkut ke stasiun penyaring.

3         Pemisahan bijih di stasiun penyaring berdasarkan ukurannya. Produk akhir hasil penyaringan bijih tipe Blok Timur adalah –18/-6 mesh, sedangkan produk akhir hasil penyaringan bijih tipe Blok Barat adalah – 4 mesh.

4         Penyimpanan bijih yang telah disaring ditimbun di tempat tertentu untuk pengeringan dan penyaringan ulang di pabrik.

5         Penghijauan (revegetasi) lahan-lahan daerah bekas tambang (purna tambang), mulai dari penimbunan material, pembuatan terasering dan penanaman kembali.

Penambangan aktif dilakukan di Shelley, Harapan, Inalahi dan Watulabu, (Gambar 7.) Pada gambar tersebut terlihat bahwa disposal area letaknya tersebar karena sebagian digunakan untuk reklamasi. Jarak pengangkutan dari front penambangan ke tempat pengolahan ± 2,34 km. Untuk mendukung kegiatan penambangan PT. INCO memiliki 57 buah truk, 5 buah shovel dan 12 buah excavator.  

 

 

 

Gambar 4. Profil West Block dan East Block (Sumber : PT INCO)

 

Gambar 5. Diagram Alir Data Eksplorasi (Sumber: PT INCO)

 

 

Gambar 6. Diagram Alir Kegiatan Penambangan (Sumber : PT Inco)

 

Tahun 2005 penambangan nikel ini dilakukan berdasarkan CoG sebesar 1,5% untuk top west block dan east block, untuk bottom, east block menggunakan patokan CoG sebesar 1,6% dan untuk west block sebesar 1,5%, dengan kadar rata-rata 1,87% Ni. ROM yang dihasilkan 16.169.793 WMT (Wet Metric Ton), dengan stripping ratio sekitar 2,73 (berat/berat dalam satuan wet metric ton).

Ketebalan laterit terlihat sangat tidak teratur (Gambar 4), merupakan salah satu aspek yang menyulitkan dalam penambangan, yang akan menyisakan sejumlah cadangan tertinggal. Untuk itu, perusahaan melakukan penggalian kembali, terutama pada lokasi – lokasi yang kaya kandungan nikelnya.

Pengolahan

Material ROM (Run of Mine) dimasukkan screening station (SS) menghasilkan screening station product (SSP) yang disimpan dalam stockpile dalam keadaan basah. SSP dikeringkan dalam Dryer Kiln menghasilkan Dryer Kiln Product (DKP) yang disimpan di Dried Ore Storage (DOS) untuk diolah menjadi produk akhir.

Pabrik pengolahan mempunyai kapasitas produksi ± 65.000 ton nikel setahun, berupa nikel matte yaitu produk dengan kadar nikel di atas 75%. Alur pengolahan bijih nikel dapat dilihat pada Gambar 8. Fasilitas yang digunakan dalam proses pengolahan dapat dilihat pada Tabel 1. Secara garis besar tahapan pengolahan adalah sebagai berikut :

1         Pengeringan dalam tanur pengering (dryer kiln), untuk menurunkan kadar air dalam bijih laterit dan memisahkan bijih yang berukuran + 25 mm dan –25 mm.

2         Kalsinasi dan reduksi dalam tanur pereduksi (reduction kiln), untuk menghilangkan kandungan air dari dalam bijih, mereduksi sebagian nikel oksida menjadi nikel logam dan sulfidasi.

3         Peleburan dalam tanur listrik (electric furnace), untuk melebur kalsin hasil kalsinasi/reduksi sehingga terbentuk fasa lelehan matte dan terak.

4         Pengkayaan dalam tanur pemurni (converter), untuk meningkatkan kadar Ni dalam matte dari ±27% menjadi >75%.

5         Granulasi dan pengemasan, untuk mengubah bentuk matte cair menjadi butiran-butiran. Matte diangkut dengan ladel ke dalam tundish, dituang perlahan-lahan sambil disemprot dengan air bertekanan tinggi.

6         Nikel matte dingin yang berbentuk butiran-butiran halus ini, yang kemudian dikeringkan dengan tanur pengering, disaring dan siap dikemas dalam kantong dengan kapasitas 3 ton matte (Gambar 10). Kemasan siap dikapalkan.

Recovery Penambangan

Recovery (perolehan penambangan adalah satu hal yang penting dalam aspek konservasi, seperti tertera dalam Tabel 1.

Untuk pengolahan, recovery secara umum dihitung dengan membandingkan produk akhir dengan DOS (Dried Ore Storage) tidak dirinci pada setiap tahapan pengolahan, misalnya dari driyer kiln ke reduction kiln, dari reduction kiln ke electric furnace, dan dari furnace ke converte, recovery yang dicapai adalah 88-90%.

 

Gambar 7. Peta Lokasi Kegiatan Penambangan Saat Ini (Sumber : PT Inco)

 

 

 

Gambar 8 . Diagram Alir Pengolahan (Sumber : PT INCO)

 

Tabel 1. Recovery penambangan PT INCO (Sumber : PT Inco)

    Produksi

Recovery

??       SSP / ROM

o EB (east block)

?                          -1”

?  -6”

?  -18”

o WB (west block)

 

??        DKP / ROM

o EB (east block)

?                          -1”

?                          -6”

?                          -18”

o WB (west block)

 

 

72%

78%

90%

60%

 

 

 

34%

51%

60%

25%

PEMBAHASAN KONSERVASI SUMBER DAYA MINERAL

Kegiatan pemantauan dan evaluasi konservasi di kabupaten Luwu Timur, baik di wilayah PT Inco dan sekitarnya telah dilaksanakan dan hasilnya memperoleh beberapa persoalan menarik yang menyangkut penerapan aspek konservasi sumber daya mineral.

 

Foto 9. Hasil pengolahan dalam karung berkapasitas 3 ton siap dikapalkan.

Estimasi sumber daya dan cadangan

Estimasi sumber daya dan cadangan dilakukan berdasarkan klasifikasi dan penentuan jarak titik informasi, sepert pada Tabel 2, yang dalam hal ini berupa titik bor. Sedangkan estimasi cadangan terbukti diperoleh dari sumber daya terukur yang ditingkatkan statusnya dengan memperhitungkan aspek teknis dan ekonomis. Aspek teknis dan ekonomis diterjemahkan oleh perusahaan sebagai desain pit. Begitu pula dengan cadangan terkira yang didapat dari sumber daya tertunjuk.

Tabel 2. Penentuan sumber daya

Klasifikasi Sumber Daya

Jarak Titik Informasi (x)

Terukur

X < 100 m

Tertunjuk

X=100 - 200 m

Tereka

200 < X < 450 m

Penghitungan sumber daya dan cadangan dilakukan dengan program Datamine, yang memakai variabel CoG (cut off grade), jarak titik informasi dan density. Setelah CoG ditetapkan dan luas area dihitung, maka volume dihitung dengan asumsi density dan kadar setiap area dari data pemboran. Kadar keseluruhan dihitung dengan melakukan pembobotan tonase.

Estimasi cadangan dilakukan dengan metode blok, dengan memasukkan unsur desain tambang. Setiap blok berukuran 12,5m x 12,5m x 1m, tidak lebih besar, sehingga memungkinkan perencanaan tambang dengan banyak kemungkinan alternatif.

Jumlah sumber daya dan cadangan

Jumlah sumber daya dan cadangan PT Inco berdasarkan data perusahaan seperti tertera pada Tabel 3, dengan waktu penambangan 18.9 tahun (tingkat produksi 200 juta pon nikel pertahun). Sumber daya dan cadangan hanya di wilayah Kabupaten Luwu Timur dapat dilihat pada 5.

Tabel 3. Jumlah total Cadangan dan Sumber Daya Nikel PT. INCO Tahun 2004

Cadangan Bijih :

Equivalen DMT DKP

% Ni

Terbukti

88.3 juta

1,84

Terkira

19.4  juta +

1,81

Total

107.7  juta

1,83

Di wilayah Sorowako Project Area (SPA), ±3000 Ha sudah selesai ditambang. Sedangkan di luar Sorowako Project Area (Sorowako Outer) belum ditambang meski beberapa telah diketahui sumber daya dan cadangannya. Hal ini disebabkan oleh instalasi pengolahan yang hanya terdapat di Sorowako.

Penambangan

Pada tahap pengupasan (stripping) lapisan tanah penutup yang mengandung besi (Fe) cukup signifikan, harus mendapat perhatian lebih serius. Diharapkan stripping dan dumping material ditata sedemikian rupa sehingga material tersebut masih berpotensi untuk pemanfaatan Fe di masa depan.

Penggalian dengan metode truck and shovel, dilakukan ore control secara kuantitas dan kualitas, agar sesuai dengan perencanaan tambang dan target produksi (Gambar 10).

Sampler juga terdapat pada screening station, sebagai quality control dari material yang digali. Bijih nikel kadar marjinal mungkin ikut terambil saat menambang bagian atas medium grade (1,3-1,5% Ni). Bijih nikel kadar marginal yang tertambang diperkirakan mencapai 300.000 ton per tahun.

 

Gambar 10. Pengawasan di Lapangan untuk Pengendalian Mutu (PT. INCO)

Upaya untuk menambang kembali lokasi bekas front penambangan yang kaya kandungan bijihnya yang sudah tertutup ballast, untuk meningkatkan recovery, sesuai tujuan konservasi agar pemanfaatan bahan galian lebih optimal.

Recovery Penambangan

Penghitungan recovery dilakukan oleh PT. INCO dengan perbandingan antara perolehan SSP (Screening Station Product) dan produksi dari front penambangan ROM (Run of Mine). Disamping itu juga perbandingan ROM terhadap model yang dimiliki. Proses ini dilakukan untuk dimensi area yang besar karena karakteristik endapan yang tidak beraturan sehingga jika dilakukan evaluasi secara detail akan kurang menguntungkan. Kajian mengenai model endapan terus dikembangkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan menghasilkan evaluasi yang lebih tajam.

Nilai recovery penambangan yang terbagi pada tahapan (SSP/ROM dan DOS/ROM) merupakan salah satu langkah yang baik untuk menganalisis kinerja. Walaupun hal ini tidak dapat menggambarkan secara detail kinerja perusahaan dalam setiap proses penambangan. Kajian secara detail di setiap proses penambangan akan lebih memudahkan evaluasi kinerja setiap proses, sehingga upaya yang dilakukan untuk meningkatkan recovery penambangan, pengolahan  dapat dilakukan tepat sasaran.

 

Gambar 13. Penggalian bijih pada bekas front penambangan, setelah tertutup ballast (PT INCO)

Pengolahan

Proses pengolahan dimulai dengan mengangkut SSP (screening station product) ke stockpile pengolahan. Dari pengamatan di lapangan dapat terjadi losses saat pengangkutan, tetapi data recovery tidak diperoleh, sehingga recovery pertahapan juga menjadi kurang akurat, diharapkan nantinya hal ini mendapat perhatian dari perusahaan.

Slurry hasil pengolahan yang ditampung dalam kolam pengendapan, secara berkala digali kembali dan dicampur dengan produk hasil penyaringan SSP dari stock pile pengolahan, lalu dimasukkan kembali ke dalam procces plant. Hal tersebut merupakan suatu upaya yang positif untuk mengoptimalkan perolehan atau meningkatkan recovery (Gambar 14).

Dalam proses pengolahan ini, masalah recovery dalam tiap tahapan perlu dievaluasi, secara rinci belum ada data, tetapi telah dilakukan upaya kea rah itu. Misalnya slurry diolah dalam pugmill dan dimasukkan kembali ke dalam dryer untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Titik berat optimalisasi yang dilakukan oleh PT INCO adalah pada peningkatan kapasitas produksi. Hal ini cukup wajar dilakukan mengingat tingginya harga nikel dunia saat ini, meskipun International Nickel Study Group (INSG) di Amsterdam memperkirakan bahwa peningkatan produksi nikel akan meningkatkan jumlah pasokan yang juga diiringi substitusi nikel pada industri yang akan menyeimbangkan pasar nikel dunia pada tahun 2005 ini.

Untuk menunjang peningkatan produksi yang lebih besar, dilakukan program peningkatan energi listrik. Tahap pertama adalah membuat bendungan baru di Sungai Larona dekat Desa Karebbe, untuk menambah kapasitas pembangkit listrik dari 275 MW menjadi 365 MW. Disamping itu, PT INCO juga menambah fasilitas pengolahan.

Sasaran produksi nikel matte pada tahun  2005 adalah 170 juta lbs = 77.146,448 ton dan sasaran penambangan seperti dalam Tabel 5.  Jika asumsi recovery DKP/ROM untuk keseluruhan blok adalah 34%, maka jumlah produksi DOS (Dried Ore Storage) tahun 2005 adalah 5.188.470 ton (34% dari target ROM 16.169.793 WMT). Jika kadar Ni ±1,8 %, maka total kandungan nikel pada produk yang akan diolah sebesar 93.392,46 ton.

 

Gambar 14.  Blending Slurry dan SSP di Stock pile (PT INCO)

 

Losses pengolahan sulit diperkirakan, karena data recovery untuk setiap tahapan tidak ada. Misalnya asumsi recovery pengolahan adalah 99%, dengan produk akhir sebesar 92.458,535 ton, maka jumlah nikel yang masih terkandung dalam sisa hasil proses sebesar 93.392,46 ton – 92.458,535 ton = 933,925 ton Ni yang cukup signifikan, nilai kehilangan ini tentunya akan lebih besar lagi apabila recovery pengolahannya kurang dari 99 %.

Kenyataannya di dalam proses pengolahan nikel selalu ada faktor kehilangan produksi, berupa debu, slurry dan slag baik yang dari furnace maupun converter dalam jumlah atau kuantitas yang tergantung pada metode, peralatan dan kapasitas produksi pengolahannya.

Tabel 4. Sumber daya dan Cadangan PT INCO di Luwu Timur (PT INCO)

 

Tabel 5. Sasaran Produksi Penambangan Tahun 2005

Target produksi Kalsin (ton per minggu)

85,000

Rasio Cadangan

(WT : ET)

70 : 30

CoG:

-70     West Block - top / bottom

-71     East Block – top / bottom

 

1.5 / 1.6

1.5 / 1.5

Budget 2005:

-72     WMT ROM

-73     WMT total material

-74     Ore exposed (WMT)

-75     DMT DKP

-76     %NI

 

16,169,793

60,265,800

1,503,516

5,188,470

1.87

Stripping Ratio

2.73

Dayly Rate (ton)

165,565

Haul Distance (KM)

2.34

Peralatan :

-77     Truck

-78     Shovels

-79     Backhoe

 

57

5

12

Recovery (perolehan):

-80     SSP / ROM

o          EB

o          WB

-81     DKP / ROM

o          EB

o          WB

 

 

 

72%

78%

90%

60%

 

34%

51%

60%

25%

 

Dalam tailing terdapat mineral ikutan terutama besi (Fe) dalam jumlah sangat signifikan, adalah sesuatu hal yang perlu dipikirkan, dan masalah ini senantiasa menjadi bahan pembahasan terutama pemerintah daerah melalui dinas terkait. Apalagi pemanfaatannya hingga saat ini masih terbatas untuk ballast atau urugan pengerasan jalan.

Hal tersebut terjadi terutama karena kondisi teknologi proses pengolahan dan permintaaan pasar saat ini. Oleh karena itu perlu adanya evaluasi, agar ada penerapan teknologi secara tepat, serta perlu dilakukan promosi untuk mengatasi hal tersebut, baik dari Pemerintah Pusat dan Daerah melalui dinas terkait, maupun dari perusahaan sendiri.

 

 

Gambar 15. Latar Depan Slag sebagai ballast jalan tambang

 

Bahan Galian Lain dan Mineral Ikutan

Bahan galian lain ataupun mineral ikutan di wilayah pertambangan laterit nikel ini telah banyak dibahas diatas, cukup signifikan dan potensial, namun belum ditangani dengan baik. Hal ini juga disebabkan belum ada aturan yang jelas. Hal ini sebenarnya telah terdapat dalam rancangan peraturan perundangan mineral dan batubara yang masih belum disahkan.

Yang dapat diharapkan hanyalah menempatkan disposal area sedemikian rupa, sehingga dapat dipetakan menurut jenis bahan galian dan kandungannya. Hal ini akan sangat mendukung pengelolaannya, jika suatu saat bahan galian tersebut diperlukan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1         Akurasi estimasi sumber daya dan cadangan didasarkan pada penggunaan jumlah titik informasi yang cukup. Kontrol model geologi juga dilakukan dengan memperpendek jarak titik informasi untuk meningkatkan tingkat kepercayaan. Hasil yang didapat belum maksimal karena karakteristik endapan nikel yang tidak teratur.

 

 

Gambar 16. Latar Belakang revegetasi yang  berhasil

 

2         Kontrol kualitas produksi telah sungguh-sungguh dilakukan oleh PT INCO, dengan melakukan sampling pada beberapa tahap pekerjaan, dianalisis laboratorium secara cepat untuk membuat kegiatan penambangan lebih terarah.

3         Upaya penanganan bijih kadar marjinal sudah dilakukan dengan menurunkan CoG, tetapi upaya pengembangan teknologi pengolahan perlu diperhatikan karena jumlah sumber daya di bawah CoG masih cukup besar.

4         Upaya evaluasi dan analisis untuk mengurangi losses perlu dilakukan lebih serius, terutama karena sisa hasil proses pengolahan seperti slag yang berjumlah sangat besar.

5         Slag dengan kandungan besi yang jumlahnya cukup besar, hanya dimanfaatkan untuk ballast atau urugan pengerasan jalan.

6         Penanganan OB yang mengandung Fe cukup tinggi hanya dimanfaatkan untuk menutup daerah bekas tambang atau sebagai material reklamasi. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai upaya “menyimpan” bahan galian lain/mineral ikutan di areal tertentu, walaupun masih memerlukan penanganan yang lebih baik agar dapat dipetakan.

Saran

1         Menjalin kerjasama dengan dinas terkait ataupun lembaga penelitian dan melakukan promosi untuk mengupayakan optimalisasi pemanfaatan bijih Ni kadar marjinal dan mineral ikutannya, terutama slag yang sangat besar jumlahnya dan berpotensi ekonomis.

2         Sosialisasi peraturan-peraturan yang berkaitan dengan penerapan, pembinaan dan pengawasan konservasi harus lebih sering dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Luwu Timur sesuai dengan kewenangannya.

Daftar Pustaka

Bimbingan Teknis, 2001, Inventarisasi, Eksplorasi dan Evaluasi Sumber Daya Mineral dan batubara dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia di daerah, DIM, DJGSM.

Endang S., Bambang N. Widi, dkk., 1998, Laporan       Eksplorasi Mineral Logam Mulia & Logam Dasar di Daerah Wotu dan sekitarnya Kabupaten Luwu Propinsi Sulawesi Selatan, Direktorat Sumber Daya Mineral, Bandung.

Hoppe, Richard, 1978, Operating Handbook of Mineral Surface Mining and Exploration, E-/MJ library of Operating Handbooks, Mc. Graw Hill, Inc., Avenue of The Americas New York, N.Y. 10020 USA.

Kepmen. No. 1453 K/29/MEM/2000, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral

Konsep Pedoman Teknis, 2001, Tata Cara Penetapan dan Pengawasan Sumber Daya dan Cadangan, DIM, DJGSM.

Konsep Pedoman Teknis, 2002, Tata Cara Pengawasan Recovery Penambangan dalam rangka Konservasi Bahan Galian, DIM.

Operating Mines (CoW and KP, 1999); Asia journal Mining, Indonesia Mineral Exploration and Mining Directory 1999/2000.

Simanjuntak, T.O., Rusmana, E., Surono dan Supanjono, J.B., 1991, Geologi Lembar Malili, Sulawesi, Puslitbang Geologi, Bandung

Widhiyatna D., 1997, Laporan Eksplorasi Geokimia Regional Bersistem daerah Kabupaten Kendari, Luwu Propinsi Sulawesi Selatan, Direktorat Sumber Daya Mineral, Bandung.

 

 

data fisik