Penyelidikan Terpadu Daerah Panas Bumi Pulu

PENYELIDIKAN TERPADU DAERAH PANAS BUMI PULU,

 KAB. DONGGALA-SULTENG

 

Oleh:

Bakrun, Herry Sundhoro, Bangbang Sulaeman, Ario Mustang, Solaviah

Subdit. Panas Bumi

 

 

ABSTRACT

 

Geothermal manifestations are generally as hot springs (Pulu, Mapane, Kabuliburo, Sibalaya, Limba, Walatana and Simoro) with temperature between 40-95oC and neutral pH (6,5-8,6). These thermal manifestations are located around Pulu and Pakuli villages. Group of hot springs in this area are generally of bicarbonate hot water type and some of them are as “immature waters” like Sibalaya, Walatana, Limba and Simoro, while Pulu, Mapane and Kabuliburo are in the “partial equilibrium”. The subsurface temperature is estimated about 179oC (SiO2 geothermometer conductive cooling), which could be categorized into “intermediate enthalpy”.The heat source is associated to an intrusion rock.

Hg soil value varies from 76 to 965 ppb with background value 506 ppb. CO2 soil air contents are between 0,16 – 2,20% with background value 1,07%, while Pakuli area have anomaly background value 412 ppb for Hg and 0,41% for CO2.

High gravity anomalies in the part of northeast are associated with scist rocks while in the northwest and south are with granitic rocks. Gravity lineaments in the west and east part are predicted to have correlation with the Rogo and Pandere fault, and the lineaments in the middle part have correlation with Palu fault.

High magnetic anomaly in the south part is predicted to have correlation with the intrusion of granite rocks that appear in the west part. High anomaly spots are predicted as reflections of magnetic rock fragments near the surface.

Low resistivity (<25 Wm) consistently appears for electrode spacing (AB) changes, although the low area tends to be smaller as penetrating current going deeper, and undetected at AB/2=1000 meter.

There are two prospect areas: in the northeast part of Pulu hot springs with the prospect area is about 0,8 km2 and in the west of Pakuli hot spring with the prospect area is about  3,5 km2. These are supported by Hg soil and CO2 soil air data that have high values in both area. The two prospects are predicted as outflows of Pakuli geothermal system. The predicted potency from the two propect is about 58 MWe.

A head on structure along Line P is almost vertical around Pulu hot spring, however this structure is undetected along Line R. It is possible that the strucure, which is assumed as a fault structure, is shifting to the west as it is only found in a shallow depth at AB/2=200m along Line R. The depth of the prospect area is about 500 meter.

The geothermal prospect areas are presumably better developed for direct uses. However, small-scale electricity generation is also possible.

.

 

SARI

 

 

Manifestasi panas bumi pada umumnya berupa  mata air panas seperti : (Pulu, Mapane, Kabuliburo, Sibalaya, Limba, Walatana dan Simoro) bertemperatur antara 40-95 °C dengan pH netral (6.5 – 8,6).

Manifestasi termal ini terdapat di daerah Pulu, Pakuli dan sekitarnya. Sumber panas berasosiasi dengan batuan terobosan yang tidak muncul dipermukaan.Pada umumnya mata air panas di daerah ini termasuk ke dalam tipe air panas bikarbonat yang sebagian berupa “immature waters ”seperti Sibalaya, Walatana, Limba dan Simoro, sedangkan Pulu, Mapane dan Kabuliburo berada didaerah “partial equilibrium” Estimasi temperatur bawah permukaan sekitar 180 o C(Geotermometer SiO2  conductive cooling ) yang dapat dimasukan  ke dalam “ intermediate enthalphy”.

Kandungan Hg dalam tanah bervariasi antara 76 - 965 ppb dengan nilai background anomali 506 ppb di daerah Pulu. Sementara itu kandungan CO2 dalam udara tanah berkisar antara 0.16 – 2.20 % (v/v), dengan nilai background anomali 1.07 % (v/v). Sedangkan daerah Pakuli dengan nilai background anomali  412 ppb untuk kandungan Hg  dalam tanah dan 0,41 % (v/v)  untuk CO2 dalam udara tanah.

Anomali-anomali positip tinggi hasil penyelidikan  gayaberat di bagian timurlaut berasosiasi dengan batuan  sekis sedangkan yang di bagian baratlaut dan selatan akibat batuan granit.  Struktur/sesar di bagian barat dan timur diduga berhubungan berturut-turut  dengan sesar Rogo dan Pandere, yang di bagian tengah dengan sesar Palu. Hal ini ditunjang oleh spot-spot anomali tinggi di sepanjang jalur sesar, yang diperkirakan sebagai cerminan dari fragmen batuan bersifat magnetik dekat permukaan.

Tahanan jenis rendah <25 ?m secara konsisten ada disetiap bentangan AB/2, walaupun semakin dalam luasnya cenderung makin mengecil dan pada AB/2=1000 meter tidak terdapat tahanan jenis rendah. Terdapat dua buah  daerah prospek  yaitu di sebelah timur-utara  airpanas Pulu dengan luas 0.8 Km2 dan sebelah barat airpanas Pakuli di ujung lintasan B, C dan D dengan luas 3.5 Km2, hal ini ditunjang anomali Hg tanah dan CO2 udara tanah yang mempunyai nilai tinggi di kedua daerah tersebut, diduga berupa outflow dari airpanas Pakuli. Potensi cadangan terduga dari dua kelompok mata airpanas tersebut adalah sebesar  58 MWe.

Strukrur hasil pengukuran head on pada lintasan P, mempunyai kemiringan hampir tegak lurus terdapat di sekitar airpanas Pulu, pada lintasan R struktur tersebut tidak menerus, kemungkinan sesar tersebut bergeser ke arah barat, hanya ditemukan pada kedalaman dangkal pada bentangan AB/2=200 meter. Kedalaman daerah prospek kurang lebih 500 meter.

Panas bumi di daerah ini dapat dikembangkan untuk penggunaan langsung, maupun tidak langsung terutama untuk wisata dan pengeringan..

 


 

1.  PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang Penyelidikan

Untuk memenuhi kebutuhan energi daerah  kabupaten Donggala khususnya dan Sulawesi Tengah pada umumnya, masih harus dipasok bahan bakar dari daerah lain, karena daerah ini tidak memiliki sumber energi fosil seperti minyak bumi, gas dan batubara, sehingga subsidinya menjadi lebih mahal. Untuk mencukupi kebutuhan energi yang semakin hari terus meningkat, daerah ini berupaya mencari sumber energi lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dari data inventarisasi yang pernah dilakukan sebelumnya, bahwa daerah Donggala ini memiliki sumber panas bumiyangbesar; mungkin akan bisa dikembangkan sebagai energi alternatif dimasa mendatang.

Sub Direktorat Panas Bumi telah melakukan penyelidikan secara terpadu yang merupakan   salah satu kegiatan dari rencana kerja Proyek Inventarisasi Potensi Panas Bumi pada triwulan 3 tahun  anggaran  2003 yaitu : pemetaan geologi, geokimia dan geofisika  pada daerah manifestasi panas bumi Pulu, Kabupaten Donggala, Sulawesi  Tengah.

 

1.2  Maksud dan Tujuannya 

     Maksud penyelidikan ini adalah untuk memperoleh data yang  lengkap dan terpadu   yang mencakup aspek geologi,  geokimia dan geofisika, daerah Pulu, Pakuli dan sekitarnya.   

Tujuan dari penyelidikan terpadu ini adalah untuk mengetahui keadaan sistem,  fluida dan potensi panas bumi di Daerah Panas Bumi Pulu berdasarkan kompilasi data dari beberapa metoda penyelidikan (geologi, geokimia dan geofisika). Hasil akhir yang diperoleh dari ketiga metoda tersebut  digunakan sebagai acuan untuk melakukan penyelidikan rinci berikutnya di masa mendatang.

 

1.3    Posisi  Penyelidikan

Penyelidikan terpadu ini lebih difokuskan pada daerah pemunculan manifestasi panas bumi di sekitar Pulu dan Pakuli yang secara administratif termasuk ke dalam 2 wilayah kecamatan yaitu Dolo dan Sigi Biromaru , Kabupaten tingkat II Donggala, Sulawesi Tengah. Luas daerah yang dilakukan penyelidikan berkisar  17 x 15 km2, pada posisi geografis antara 119o 51Â’ 00Â’Â’ -  119o 59Â’ 00” bujur timur  dan 01o 07Â’ 00” – 01o 16Â’ 00” lintang selatan (gbr.1).

 

2.       Geologi

Bentuk morfologi daerah penyelidikan termasuk jenis perbukitan bergelombang tajam – lemah dengan ketinggian antara 200 – 1400 m dari muka laut dan dapat dibagi menjadi 3 satuan morfologi seperti berikut :

 -  Satuan morfologi perbukitan terjal

 -  Satuan morfologi perbukitan bergelombang

 -  Satuan pedataran

 

Batuan penyusun stratigrafi daerah panas bumi Pulu Kabupaten Donggala berdasarkan kepada batuan yang tersingkap (gbr.2) dapat dibagi menjadi 6 satuan:

    -    Satuan batuan Sekis hijau (TrS)

    -    Satuan batuan Granit geneis (Trgn)

    -    Satuan batuan Sabak-Filit (Km)

    -    Satuan batuan granit (Tgr)

    -    Coluvium (Qcl)

-     Aluvium  (Qa)

 

Satuan batuan Sekis hijau (TrS )

Satuan batuan Sekis hijau (metamorf) merupakan satuan batuan tertua sebagai basement yang berumur Trias (TrS) terdapat di bagian timur daerah penyelidikan. Luas penyebarannya cukup luas sekitar 20% menutupi daerah penelitian dengan ketebalan diperkirakan lebih dari 300 meter (?). Batuan Sekis hijau ini tersingkap pada penorehan struktur sesar dijumpai pada bagian tebing sungai Binangga hingga ke bagian selatan didaerah desa  Pakuli dan Simoro.

Satuan ini tersingkap sebagai Sekis hijau, berwarna hijau tua, berlapis sebagai bidang foliasi, kompak, berbutir halus, lanau sampai lempung dan setempat-setempat rekahan terisi oleh urat-urat kwarsa maupun  kalsit.

Berdasarkan referensi, umur satuan Sekis  setara dengan Formasi Wana berumur Trias (T.O. Simanjuntak,dkk. 1991).

 

Satuan Granit geneis (Trgn)

Batuan granit geneis ini diperkirakan merupakan bagian dari tubuh intrusi granitoid  regional  yang berumur Trias (Trgn). Sebagian dari granit ini terlihat telah terubah menjadi batuan metamorf akibat proses tektonik regional yang telah berlangsung berulang kali didaerah ini. Kondisi batuannya kompak, berwarna abu-abu tua berbintik-bintik hitam, kehijauan, bertekstur porpiritik sampai phaneritik tersebar disebelah timur desa Pandere, Sibalaya yang membentuk jalur perbukitan yang memanjang hingga ke utara diluar daerah penyelidikan. Satuan  granit genes ini masih memperlihatkan rekahan-rekahan,  kekar kolom, yang diisi oleh cairan mineral  baru seperti kwarsa, kalsit dan juga mineral  pirit.

Komposisinya terdiri dari plagiokals, kwarsa, orthoklas, mika dan mineral opak.

              

 

Satuan Batuan Sabak-Filit (Km)

Satuan batuan filit dan batusabak dan batu tanduk yang tersingkap di selatan baratdaya daerah penyelidikan yang mencirikan adanya perlapisan dan kontak dengan batuan granit di bagian utara yang merupakan tipe khas satuan batuan formasi Latimojong berumur Kapur Atas. Kondisi batuan ini agak lapuk, berbutir halus sekali, berwarna abu-abu kecoklatan, berlapis baik, retas. Komposisinya  mineral lempung, mika-biotit dan mineral opak.

             

Satuan Batuan Granit ( Tgr)

Satuan batuan granit ini mempunyai penyebaran paling luas terdapat di bagian barat didaerah penyelidikan. Granit ini masih kompak, dan pada bagian permukaan mulai lapuk, berwarna putih-kelabu berbintik-bintik hitam, dengan komposisi mineral terdiri dari kwarsa, plagioklas, Orthoklas serta mineral gelap lainnya (biotit, amfibol?), bertekstur porfiritik-phaneritik, dengan bentuknya euhedral-subhedral.

Satuan granit (batholit) mengintrusi batuan yang telah ada seperti batuan metamorf, yang merupakan intrusi besar secara regional yang berumur Miosen. Pada tubuh batuan granit ini terlihat adanya intrusi kecil-kecil berupa aplit atau Rhyolit?, yang tebalnya dari 2 – 50 Cm. Seluruh puncak-puncak gunung yang tinggi sampai yang terendah dibangun oleh tubuh intrusi batuan granit ini berumur Miosen tengah – akhir.

 

Satuan Coluvial ( Qcl)

Satuan ini terdiri dari konglomerat, batu pasir, setempat-setempat berselingan dengan batu lempung karbonatan dan terlihat terlas dengan baik. Penyebarannya cukup luas diperkirakan menempati sekitar 15 % yang membentuk bukit-bukit rendah serta dataran pada bagian tengah daerah penyelidikan. Konglomerat berwarna coklat kemerahan hingga kekuningan, terdiri dari kepingan granit, diorit, andesit dan batuan malihan, berukuran pasir hingga kerakal, terpilah buruk dengan masa dasar pasir. Dari referensi menyebutkan bahwa satuan ini dikelompokkan ke dalam formasi Pakuli berumur Pleistosen akhir.

Pada umumnya satuan coluvial ini masih unconsolidated /kurang padat. Ditebing bagian barat dicirikan dengan batuan malihan, berupa filit, batu sabak dan batu tanduk yang mendominasinya. Sedang tebing sebelah timurnya ditempati oleh batuan granit dan sekis.

 

Aluvial (Qa)

Satuan Aluvium dijumpai daerah dataran rendah di bagian tengah daerah penyelidikan yaitu sepanjang aliran sungai besar Palu dan cabang-cabang yang alirannya menyatu dengan sungai besar. Satuan ini berasal dari hasil rombakan berbagai macam jenis batuan dari tua sampai termuda, baik itu batuan beku, sedimen maupun metamorf, kemudian terendapkan didaerah rendah seperti disepanjang aliran sungai, lembah-lembah pegunungan berupa lumpur, pasir, kerikil, kerakal dan  bongkah yang belum padu, berukuran sangat halus sampai terkasar (lempung- bongkah).

Daerah aluvial ini secara umum telah menjadi areal persawahan masyarakat setempat.

 

3.1.4 Pola Struktur Geologi Daerah Penelitian

Gejala struktur maupun pola kelurusan yang teramati di lapangan terindikasi berupa kekar gerus, zona hancuran, triangular facet, gawir patahan(scrap fault), milonitisasi, sliken side dan sesar-sesar minor yang merupakan jejak dari sesar yang berkembang pada daerah penelitian. Selain itu adanya pemunculan kenampakan gejala panas bumi berupa mata air panas dipermukaan yang mencerminkan indikasi struktur sesar baik sesar geser maupun sesar normal akan berfungsi sebagai media transfer panas kepermukaan.

Berdasarkan data-data dan bukti yang terdapat di lapangan, ada sekitar 8 buah sesar utama yang merupakan struktur kontrol geologi panas bumi yang berkembang pada daerah penelitian, meliputi kelurusan, sesar geser normal yang berarah baratdaya – timurlaut, serta sesar-sesar normal berarah hampir utara-selatan. Sesar utama yang melewati daerah peralihan adalah merupakan  bagian dari sesar utama Palu-Koro yang berarah barat laut – tenggara, berupa sesar geser sinistral ( strike slip fault) yang telah membentuk depresi sebagai graben Palu. Pada beberapa tempat akibat dari proses tektonik daerah ini menghasilkan sesar-sesar sekunder yaitu sesar-sesar Pulu, Rogo, Suluri, Bangga Pakuli, Pandere,  dan Binanga.

 

3. Geokimia

Dari hasil ploting dalam diagram segitiga Cl-SO4--HCO3 (Giggenbach,1988), menunjukkan bahwa mata air panas di daerah Pulu dan sekitarnya seluruhnya termasuk ke dalam tipe air bikarbonat (gbr.3), sedangkan  hasil ploting dalam diagram segitiga Na/1000-K/100-ÖMg menunjukkan sebagian  termasuk pada daerah “partial equilibrium ” yaitu mata air panas Pulu –1, Pulu-2, Mapane dan Kabuliburo (gbr.4) hal ini mencirikan  air panas di daerah ini langsung berasal dari ke dalaman, sedangkan mata air panas Limba, Sibalaya, Saluri-Walatana dan Simoro  termasuk dalam daerah “immature waters  “  hal ini menunjukkan adanya pengaruh air permukaan atau  air  meteoric cukup dominan dan pemunculan mata air panas di daerah Pulu dan sekitarnya berada di lingkungan vulkanik pada batuan granit dan sekis.

 

Dari kedua peta kontur sebaran Hg dan C02 terlihat adanya kelompok lokasi yang menunjukkan adanya kandungan  Hg diatas harga ambang (gbr 5).

Pola penyebarannya menunjukan arah hampir Utara-Selatan atau hampir tegak lurus arah aliran sungai Palu, demikian pula untuk  peta kontur sebaran C02 (gbr.6) terlihat adanya kelompok lokasi yang menunjukkan adanya konsentrasi C02 diatas harga ambang batas (nilai background sebesar) 1.05 %, berada di daerah Pulu, Walatana, Simoro, Pakuli yang merupakan daerah munculnya manifestasi air panas. Pola daerah anomali lainnya berada  pada litasan E, F dan random untuk  penyebaran  daerah anomali Hg  diatas 412 ppb.

Daerah tersebut merupakan lokasi tempat munculnya manifestasi air panas sehingga diperkirakan bahwa daerah tersebut merupakan zona-zona lemah akibat adanya pola struktur Palu.

 

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus geothermometer air panas, maka pendugaan temperatur bawah permukaan  adalah minimum  dipergunakan geothermometer SiO2 (“conductive cooling”)  dan maximum  Na/K Giggenbach, 1988 menunjukan kisaran temperatur antara 124 °C–180 °C , termasuk ke dalam “intermediate enthalphy”

 

4. Geofisika

4.1 Gayaberat

Anomali tinggi yang menyolok terlihat di bagian timurlaut (sekitar R56) dan selatan (sekitar R101), sedangkan di bagian tengah (sekitar B5500-B6500) beranomali rendah. Nilai anomalinya antara 10 –   40 mgal. Secara umum memperlihatkan lineasi kontur berarah utara-selatan di bagian timur, barat, dan tenggara serta barat-timur di bagian selatan. Densitas batuan di bagian tengah diperkirakan lebih rendah dari pada batuan di sekitarnya.

 

 

4.1.1  Anomali regional

Pada umumnya lineasi kontur anomali berarah utara-selatan. Anomali tinggi terdapat di bagian barat dan timur yang merefleksikan batuan dasar berturut-turut batuan granit dan sekis. Anomali rendah minimum berada di bagian utara, tengah, ke arah barat  dan timur nilai anomalinya membesar demikian pula dari utara ke selatan dengan nilai anomali  antara  17 – 35  mgal.

 

4.1.2  Anomali sisa

Anomali sisa memperlihatkan nilai positip dan negatip dengan nilai antara  -10 – 12  mgal. Anomali positip tinggi terlihat bagian timurlaut, baratlaut  dan di bagian selatan. Anomali negatip minimum berada di bagian tengah. Berdasarkan pola kontur dan nilai anomali maka diinterpretasikan  terdapat 3 buah struktur/sesar berarah baratlaut-tenggara  di bagian tengah, 2 struktur berarah hampir baratdaya-timurlaut di bagian utara, 1 struktur arah barat-timur di selatan dan 1 struktur berarah  utara-selatan di bagian tenggara (gbr.7) Di bagian tengah diperkirakan adanya struktur depresi sedangkan di bagian selatan diduga sebagai intrusi.

 

4.1.3  Pemodelan gayaberat 2-D

- Penampang AB (gbr 8):       

Penampang ini melewati airpanas Rogo, struktur/sesar di bagian barat dan timur. Hasil pembuatan Model 2D pada pusat anomali rendah memperlihatkan penyebaran densitas batuan dan struktur bawah permukaan dengan kontras densitas 0,7 gram/cm3 mendominasi dibawah batuan kolovium. Struktur-struktur sesar diinterpretasikan masih menerus hingga ke dalaman lebih dari  1000 m. Lokasi air panas Rogo bertepatan dengan salah satu struktur dan pada batas litologi antara granit dengan koluvium dan sekis. Di bagian tengah pada anomali rendah ke dalaman endapan aluvium dan kolovium mencapai 500 m, diinterpretasikan terdapat struktur depresi.

 

 

4.2  Geomagnet

Pengukuran magnet telah dilakukan sebanyak 7 (tujuh) lintasan ukur  (Lintasan: AA, A,B,C,D,E,F,), dengan jarak titik ukur 250 meter dan panjang lintasan 5000 - 9000 meter, sejumlah 204 titik. Pengukuran diluar lintasan  (regional), sebanyak 126 titik ukur, jarak 200 meter sampai 500 meter.

Hasil pengukuran magnet ditampilkan berupa profil  anomali magnet dan  peta anomali magnet total. 

 

Pendataan intensitas dilakukan dengan menggunakan 2 set perangkat magnetometer tipe  G-856  dengan ketelitian 0.01 gamma, medan magnet bumi normal IGRF, 41600 gamma. Data intensitas magnet total diperoleh dengan pencatatan langsung secara manual, kecuali data variasi harian. Harga variasi harian berfluktuasi antara 41520– 41600 gamma.

Intensitas magnet total yang diperoleh dari  hasil pengamatan lapangan  memperlihatkan kecenderungan makin menurun ke utara, walaupun pada beberapa tempat memperlihatkan variasi naik turun, diperlihatkan pada profil anomali magnet.

 

Besar anomali magnet total pada daerah selidikan umumnya menunjukan kontras harga yang tidak terlalu besar, berkisar antara –107.2 gamma sampai dengan 213.6 gamma, sebarannya digambarkan pada peta isomagnet dengan interval kontur 10 gamma.

 

Adanya beberapa kelurusan anomali magnet dengan nilai rendah/ tinggi yang berarah hampir utara-selatan, baratlaut-tenggara dan baratdaya-timurlaut yang ditafsirkan sebagai cerminan dari struktur patahan yang mempunyai hubungan erat dengan kenampakan manifestasi panas bumi (gbr.9).

 

Anomali magnet tinggi ( 50-150 gamma), melingkar di bagian selatan ditafsirkan sebagai batuan yang bersifat magnetik ( terdiri granit, atau bongkah-bongkah yang besifat magnetik dekat permukaan ).

Anomali magnet sedang ( 20 s/d  50 gamma) ditafsirkan sebagai batuan  bersifat nonmagnetik-magnetik ( terdiri dari granit lapuk, sedimen klastika). tersebar di bagian barat dan tengah.

Anomali magnet rendah  (20 s/d - 50 gamma)  ditafsirkan sebagai batuan  bersifat nonmagnetik, yang  tersebar di timurlaut  dan meluas ke selatan terdiri dari batuan malihan  atau batuan terlapuk kuat.

 

4.3 Geolistrik dan Head-On

Hasil penyelidikan geolistrik tahanan jenis diperoleh untuk bentangan AB/2=250 m, AB/2=500 m, AB/2=750 m dan AB/2=1000 m dan dibuat penampang tahanan jenis semunya pada setiap lintasan ( A, AA, B, C, D, E, dan F ).

Pada setiap lintasan terdapat beberapa titik sounding, kemudian dari lintasan-lintasan tersebut dibuat penampang tahanan jenisnya atau dibuat penampang memotong beberapa lintasan yang titiknya  berada pada satu garis yang hampir lurus.

 

Berdasarkan hasil pengukuran mapping pada bentangan  AB/2=250 meter (gbr 10), tahanan jenis rendah secara konsisten berada pada setiap bentangan, kecuali pada bentangan AB/2=1000 meter, tahanan jenis rendah sudah tidak ditemukan, hal ini mengindikasikan bahwa tahanan jenis rendah (<25 ?m) yang diduga mencerminkan aliran airpanas dari Pakuli ke bagian barat yang merupakan outflow dapat diketahui dari hasil pengukuran mapping pada bentangan AB/2=500 meter

Indikasi tahanan jenis rendah yang diduga mempunyai prospek bagus adalah di sekitar kenampakan mata airpanas Pulu yang diperoleh dari hasil pengukuran mapping pada bentangan AB/2=500 meter (gbr 11).

Hasil pengukuran sounding daerah prospek terdapat pada lapisan ketiga yaitu lapisan dengan harga tahanan jenis 15-20 ?m pada ke dalaman antara 300-500 meter, pada beberapa lokasi terdapat pada ke dalaman >800 meter.

 

Hasil interpretasi Head-On pada penampang lintasan P (gbr.12):,  tampak   sesar  hanya terdapat dekat permukaan  pada ke dalaman yang berhubungan dengan bentangan AB/2= 200 m.  Pada ke dalaman yang lebih besar tidak ditemukan perpotongan antara kurva hasil pengukuran dengan sumbu ke dalaman, akan tetapi dilihat dari ploting penampang tahanan jenis head on terdapat kontras antara tahanan jenis di bagian barat dengan timur, diinterpretasikan sebagai struktur sesar.

Pada lintasan R (gbr.13) seperti halnya lintasan P ,sesar hanya terdapat dekat permukaan pada ke dalaman yang berhubungan dengan bentangan AB/2=200 meter, pada ke dalaman yang lebih besar tidak ditemukan sesar.

 

5.   Model Panas Bumi

Model panas bumi daerah ini menggambarkan bentuk dan posisi akumulasi panas di zona-zona hancuran sepanjang struktur rekahan. Penampang model ini dibuat memotong struktur graben yaitu barat laut – tenggara yang  menggambarkan posisi bawah permukaan tubuh reservoar panas bumi yang diperkirakan (gbr.14).

Masa panas dari sisa panas magmatik akibat kegiatan terobosan granit, berakumulasi dengan air tanah membentuk system air panas yang terperangkap pada rekahan/retakan batuan dan diperkirakan sebagai reservoar dengan ke dalaman dibawah 1000 meter. Zona reservoar ini terbentuk dengan media struktur yang tidak mencerminkan adanya jenis ubahan batuan dipermukan. Sedangkan perkiraan kondisi dibawah,  kemungkinan adanya clay cap yang tidak begitu tebal yang terbentuk sepanjang zona struktur. Dugaan adanya daerah akumulasi panas dibawah permukaan terindikasi pemunculan mata air panas dipermukaan di Pulu dan Pakuli yang merupakan daerah penekukan morfologi. Dari hasil penyelidikan geolistrik tidak terditeksi adanya tubuh reservoar pada ke dalaman dangkal, kemungkinan tubuh reservoar sebagai tempat terakumulasi panas berada jauh dibawah permukaan. Ada kemungkinan air tanah ini yang  terpanasi sebagai out flow naik kembali kepermukaan dan muncul berupa mata air panas.

 

6. Potensi Sumberdaya Panas Bumi

Potensi sumberdaya panas bumi diperoleh dari nilai suhu bawah permukaan dan luas daerah prospek dari korelasi antara peta sebaran Hg dan CO2 dengan tahanan jenis rendah hasil pengukuran geolistrik mapping.

Pendugaan suhu bawah permukaan hasil perhitungan diperoleh Temperatur bawah permukaan minimum adalah 120 - 179 o C (Geotermometer SiO2  conductive cooling ) termasuk ke dalam “ intermediate enthalphy”. Terdapat dua buah  daerah prospek  yaitu di sebelah timur-utara  airpanas Pulu dengan luas 0.8 Km2 dan di ujung lintasan B, C dan D dengan luas 3.5 Km2dengan potensi keseluruhan sebesar  58 MWe.

 

7. Kesimpulan

1. Peranan struktur sesar sangat penting sebagai kontrol geologi dan panas bumi,  disamping merupakan media saluran naiknya panas kepermukaan dan juga berfungsi sebagai tempat berakumulasi panas sepanjang jalur rekahan tersebut. 

2. Gejala panas bumi panas bumi  yang terindikasi dipermukaan di daerah penelitian terdapat di desa Pulu dan Pakuli sekitarnya. Sumber panas diperkirakan dari tubuh terobosan dan juga kemungkinan adanya tubuh vulkanik yang merupakan batuan gang yang tidak muncul dipermukaan.

3. Berdasarkan perhitungan bahwa energi panas yang hilang sebesar 4.0 Kwe sekitar 90%).

4. Sebagai data awal hasil penyelidikan panas bumi daerah Pulu diperkirakan prospek dilihat aspek kenampakan permukaan dan sebaran geologi yang mencerminkan tubuh terobosan sebagai tubuh panas.

5. Gejala panas bumi daerah Pulu dicirikan oleh pemunculan beberapa mata air panas seperti Pulu, Mapane, Kabuliburo, Sibalaya, Limba, Walatana dan Simoro yang  bertemperatur antara 40.0- 94.8°C dengan pH netral (6.50 – 8,60).

6. Kelompok mata air panas daerah Pulu berdasarkan diagram segitiga Cl, SO4 dan HCO3 Giggenbach, termasuk ke dalam tipe air panas bikarbonat dan berdasarkan diagram segitiga Na/1000-K/100-ÖMg sebagian termasuk pada daerah “immature waters ”seperti Sibalaya, Walatana, Limba dan Simoro, sedangkan Pulu, Mapane dan Kabuliburo berada didaerah “partial equilibrium”

7. Temperatur bawah permukaan minimum adalah 120 - 180 o C (Geotermometer SiO2  conductive cooling ) termasuk ke dalam “ intermediate enthalphy”.

8. Kandungan Hg dalam tanah bervariasi antara 76 - 965 ppb dengan nilai background anomali 506 ppb di daerah Pulu. sementara itu kandungan CO2 dalam udara tanah berkisar antara 0.16 – 2.20 %(v/v), dengan nilai background anomali 1.07 % (v/v). Sedangkan daerah Pakuli dengan nilai background anomali  412 ppb untuk kandungan Hg  dalam tanah dan 0,41 % (v/v)  untuk CO2 dalam udara tanah .

9.       Anomali-anomali positip tinggi di bagian timurlaut berasosiasi dengan batuan    sekis sedangkan yang di bagian baratlaut dan selatan akibat batuan granit.

10.   Struktur/sesar di bagian barat dan timur diduga berhubungan berturut-turut  dengan sesar Rogo dan Pandere, yang di bagian tengah dengan sesar Palu.

13   Keterdapatan mata air panas di daerah Pulu kemungkinan besar berkaitan dengan batuan intrusi granit dan struktur sesar.

14.   Hasil penyelidikan dengan metoda magnet menunjukan adanya struktur-struktur patahan dan kelurusan-kelurusan anomali magnet yang berarah hampir  utara-selatan, baratlaut - tenggara, dan baratdaya-timurlaut dan ditandai munculnya mata airpanas.

15.   Terdapat anomali dengan nilai kemagnetan tinggi di bagian selatan diduga berhubungan dengan intrusi batuan granit yang muncul di bagian barat. Spot-spot anomali tinggi, diperkirakan sebagai cerminan dari fragmen batuan yang bersifat magnetik dekat permukaan.

16.   Interpretasi secara kwalitatip menunjukan bahwa daerah penyelidikan didominasi oleh batuan granit yang telah lapuk dan batuan malihan.

17.   Tahanan jenis rendah <25 ?m secara konsisten ada disetiap bentangan AB/2, walaupun semakin dalam luasnya cenderung makin mengecil dan pada AB/2=1000 meter tidak terdapat tahanan jenis rendah.

18.   Terdapat dua buah  daerah prospek  yaitu di sebelah timur-utara  airpanas Pulu dengan luas 0.8 Km2 dan di ujung lintasan B, C dan D dengan luas 3.5 Km2dengan potensi sebesar  58 MWe.

19.   Strukrur hasil pengukuran head on pada lintasan P, mempunyai kemiringan hampir tegak lurus, diperkirakan berada pada titik amat P-2300.

20.   Pada lintasan R sesar tersebut tidak menerus, disebabkan sesarnya bergeser ke arah barat, hanya ditemukan pada ke dalaman dangkal pada bentangan AB/2=200 meter.

21.   Ke dalaman daerah prospek kurang lebih 500 meter.

22.   Daerah ini cukup berpotensi untuk dikembangkan dalam bidang tenaga listrik maupun  sektor pariwisata.

Saran

 

1. Disarankan, jika dilanjutkan penyelidikan terpadu agar difokuskan kearah timur yaitu daerah desa Pakuli, kecamatan Sigi Biromaru, mengingat dari data  manifestasi dipermukaan menunjukkan lebih tinggi temperatur (96 oC) dibandingkan dengan daerah kenampakan panas bumi Pulu, kecamatan Dolo.

2. Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap, disarankan untuk melakukan penyelidikan geofisika dengan menggunakan metoda MT, diharapkan bisa diperoleh informasi bawah permukaan yang lebih dalam.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Apandi. T., N. Ratman dan Y. Yusuf. 1982, Laporan Geologi Lembar Mamuju, Sulawesi   Selatan, Skala  1 :  250.000. Pro. G. I. F. Bid. Geo. Reg. Puslitbang Geologi.

Djuri dan Sujatmiko, 1979.  Peta Geologi Bersistem, Lembar Mamuju-Palopa,Sulawesi Selatan, Skala  !  : 250.000. Direktorat Geologi.

Dobrin, M.b, 1960  :     Introduction to Geophysical Prospecting, publisher

Fournier, R.O., 1981 : Application of Water Geochemistry to Geothermal Exploration and Reservoir Engineering, “Geothermal System : Principles and Case Histories”. John Willey & Sons, New York.

Giggenbach, W.F., 1988 :        Geothermal Solute Equilibria Deviation of Na – K Mg – Ca Geo – Indicators, Geochemical Acta 52, 2749 – 2765.

Hasan Ngabito dkk. 1990 Peta Geologi dan Potensi Bahan Galian Prop. Sulawesi Selatan 

Hochstein M.P, 1982 : Introduction to Geophysical Prospecting, publisher

Irianto dkk. 2001 Penyelidikan Geologi Rinci Daerah Panas Bumi Mamasa, Kabupaten Polmas, Sulawesi Selatan, unpublish.

I. Saefudin, 1994.,  Umur Apatit dan Zirkon Batuan Granitik daerah Palu dan    sekitarnya, Sulawesi Tengah, Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Vol-IV.

Koga, A., 1978 : Hydrothermal Geochemistry, A Text for The 9th International Group Training Course on Geothermal Energy Heald at Kyushu University.

Lawless, J., 1995 : Guidebook an Introduction to Geothermal System, Short Course, Unocal Ltd., Jakarta.

Mahon K., Ellis, A.J., 1977 :Chemistry and Geothermal System, Academic Press, Inc. Orlando.

Menteri Kesehatan RI, 1975 : Syarat-syarat dan Pengawasan Kwalitas Air Minum, Peraturan Mennteri Kesehatan RI No. 01/Birhukmas/1/1975, Jakarta.

Murtolo., 1993., Geomorfologi Lembah Palu dan Sekitarnya, Sulawesi Tengah, Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Vol- III.

N. Ratman dan S. Atmawinata 1993 : Pemetaan Geologi Regional Lembar Mamuju, Sulawesi Selatan.

Parasnis D.S, 1971 :      Principle of Applied Geophysics, publisher

S. Breiner. 1973.,  Applications Manual for Portable Magnetometers.

Sjaiful Bachri dkk 1975 :         Inventarisasi Kenampakan Gejala Panas Bumi di Daerah Sulawesi Selatan. Direktorat Geologi, Bandung.

Sukido, D.Sukarna dan K.Sutisna, 1993 Laporan Geologi Lembar Pasangkayu, Sulawesi Tengah.

Simanjuntak T.O, Rusmana, Surono dan J.B. Supanjono 1991 Peta Geologi Bersistem Lembar Malili, Skala  !: 250.000, Puslitbang Geologi.

Seksi Mineral Vulkanogenik, 1980 Laporan Penyelidikan Geologi dan Geokimia tinjau regional daerah basin S.Ranosi dan S.Sadan, Kecamatan Walerang, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Sub Dit. Eksp. Mineral logam DSM.

Telford W.M., Geldart L.P., Sherif R.E., Keys   D.A., : Canbridge Geophysics University Press.

Toshihiro Uchida, Kohei Akaku Hiroyuki Kamenosono, Munetake Sasaki, Norio Yanagisawa, Shin-ichi Miyayazaky and Nobua Doi : Deep Geothermal Resources Survey Project in The Kakkonda Geothermal Field. Pp 215-222.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 Peta Lokasi Daerah Penyelidikan

 

        

  Gambar 2 Peta Geologi Daerah Panas Bumi Pulu-Sulteng

 

 

 

Gambar 5. Peta Sebaran Hg Tanah Daerah Panas Bumi PULU-Sulteng

  

Gambar 6. Peta Sebaran CO2  UdaraTanah Daerah Panas Bumi PULU-Sulteng

 

 

 Gambar 7.  Peta Anomali Sisa Daerah Panas Bumi  PULU-Sulteng

 

 

Gambar 8. Model Gaya Berat 2D Daerah Panas Bumi PULU-NTT

  

    

Gambar 9. Peta Anomali Magnet Total

 

 

  Gambar.10 Peta Anomali Tahanan Jenis Semu AB/2=250 m Daerah Panas Bumi Pulu-Sulteng

 

 

Gambar 11.  Peta Anomali Tahanan Jenis Semu AB/2=500 m Daerah Panas Bumi Pulu-Sulteng

 

 

Gambar 12  dan 13  Penampang Interpretasi  Tahanan Jenis Semu Lintasan Head-On P dan

   

 

Gambar 14  Model Gaya Berat 2D Daerah Panas Bumi PULU-NTT

 

 

data fisik