Prospeksi Mineral Logam Mulia Dan Logam Dasar Di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Dwi Nugroho Sunuhadi dan Bambang Nugroho Widi


SARI


Berdasarkan hasil penyelidikan di lapangan kemudian diperkuat  dengan hasil analisis laboratorium (geokimia, petrografi, mineragrafi, inklusi fluida), maka dapat ditentukan sembilan daerah prospek yaitu (1). Kawasan Ciujung, (2). Kawasan Cisawang, (3). Kawasan Cidikit, (4). Kawasan Cihinit, (5). Kawasan Cipanas, (6). Kawasan Ciujung Atas, (7). Kawasan Cidikit (8). Kawasan Ciminyak dan (9). Kawasan G. Julang. Berdasarkan zona pembentukannya dibagi menjadi 2 zona yaitu zona mineralisasi bagian bawah yang diwakili oleh Cihinit dan Ciujung dan zona mineralisasi bagian atas diwakili kawasan G.Julang. Secara umum tipe mineralisasi adalah tipe mineralisasi epitermal.  

Zona mineralisasi epitermal bagian bawah yang diwakili oleh Cihinit dan Ciujung merupakan zona yang didominasi oleh logam dasar dengan asosiasi mineralnya terdiri dari sfalerit, kalkopirit, galena, dan pirit. Sedangkan zona mineralisasi epitermal bagian atas didominasi oleh logam mulia dengan asosiasi mineralnya emas dan pirit.  

Hasil analisis kimia dari zona bawah memiliki kandungan unsur Pb mencapai 18,26% dan Zn 4,6% terdapat di Cihinit dan 11,98% Pb dan 3,11 % Zn terdapat di daerah Ciujung.

Zona mineralisasi bagian atas yang diwakili oleh G. Julang merupakan zona yang didominasi oleh logam mulia dengan asosiasi mineralnya terdiri dari emas, dan pirit.

Hasil analisis kimia dari zona atas memiliki kandungan unsur Au cukup tinggi berkisar dari 8,5~39 g/t Au;dan 6 ~ 66 g/t. Ag dengan asosiasi alterasi propilit, argilik, silisifikasi.

Dengan melihat kedua fenomena tersebut diatas maka model pembentukan mineralisasi di kawasan ini dapat dijadikan sebagai standar/acuan untuk mengetahui daerah prospeksi di sekitarnya.

Secara ekonomi kandungan emas di wilayah ini (G. Julang) cukup potensial diperkirakan mempunyai sumberdaya hipotetik 250.000 ton bijih, namun kendala yang dihadapi adalah daerah tersebut masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.

 

PENDAHULUAN


Secara administratif daerah penyelidikan terletak di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten yang mencakup wilayah Kecamatan Sobang, Kecamatan Cimarga, Kecamatan Muncang, Kecamatan Lebak Gedong, Kecamatan Leuwidamar, Kecamatan Maja, Kecamatan Sajira dan Kecamatan Cipanas.

Pencapaian daerah menuju lokasi penyelidikan dapat ditempuh dari Bandung dengan menggunakan kendaraan roda empat dengan fasilitas jalan aspal dengan waktu tempuh 10 jam perjalanan dengan rute tempuh Bandung – Jakarta– Serang- Rangkasbitung – Leuwidamar – Muncang - Sobang (Gambar 1).

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencari daerah prospek yang memiliki kondisi lingkungan geologi yang cukup ideal seperti pola dan variasi struktur, litologi dan mineralisasi khususnya berkaitan dengan cebakan bertemperatur rendah, variasi mineralisasi yang lebih lengkap dibanding kawasan lain dengan lingkungan kedalaman mineralisasi yang tidak begitu dalam.

Tujuannya adalah mendapatkan suatu daerah prospek emas dan logam dasar di daerah lain.

Kubah Bayah merupakan salah satu zona mineralisasi logam di daerah Banten dan Jawa Barat. Berdasarkan pendapat para ahli ada 10 zona mineralisasi di daerah Jawa bagian barat seperti Kubah Bayah, G. Limbung, Cibugis, G. Ciawitali – Pongkor, Kubah Jampang, G. Cariu, Cikondang, Purwakarta, Soreang, G. Sawal dan Garut – Tasikmalaya (Yaya Sunarya, 1988). Zona mineralisasi tersebut umumnya merupakan zona mineralisasi logam mulia dan logam dasar yang terdapat dalam suatu deretan pegunungan selatan Jawa Barat yang ditempati oleh Formasi Andesit Tua (van Bemmelen, 1935) yang diindikasikan sebagai tempat kedudukan mineralisasi.

Sebagai tindak lanjut dari hasil kajian Pemodelan Konsep Eksplorasi di Kubah Bayah tahun 2007 oleh Kelompok Program Penelitian Mineral, maka Pusat Sumber Daya Geologi melakukan kegiatan prospeksi untuk melokalisir kembali daerah prospek mineral logam yang dialokasikan pada tahun anggaran tahun 2009.
 
GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN
 
Morfologi
Secara garis besarnya kondisi morfologi daerah penyelidikan dapat dibagi menjadi 3 satuan morfologi yaitu :
•    Morfologi perbukitan rendah
•    Morfologi perbukitan bergelombang
•    Morfologi perbukitan curam (Pegunungan).

Morfologi pedataran secara umum menempati wilayah bagian utara meliputi sebagian daerah Kecamatan Cimarga, Kecamatan Sajira, Kecamatan Maja dan Kecamatan Cipanas bagian utara. Morfologi perbukitan rendah memiliki ketinggian maksimum sekitar 200 meter diatas permukaan laut, umumnya merupakan areal pesawahan. Morfologi perbukitan bergelombang umumnya menempati wilayah bagian tengah meliputi bagian selatan daerah Kecamatan Cimuncang, bagian tengah Kecamatan Cipanas, Kecamatan Leuwidamar, dan bagian tengah Kecamatan Sajira. Morfologi perbukitan curam memiliki karakteristik morfologi tersendiri, ditandai oleh perbukitan yang curan dan lembah yang terjal serta bentuk sungai yang sempit. Kondisi ini dapat dilihat dari bentuk morfologi pada perbukitan di daerah Gunung Bongkok daerah Kecamatan Sobang, Gunung Julang, dan G. Endut. Morfologi perbukitan curam memiliki puncak tertingginya yaitu sekitar 1150 meter diatas permukaan laut (G. Endut).

Stratigrafi
Berdasarkan hasil survey di lapangan daerah penyelidikan disusun oleh jenis batuan sebagai berikut.

Batuan andesit tua (Formasi Cimapag)
Satuan ini berwarna abu-abu kehijauan hingga kemerahan, keras, terdapat banyak kekar-kekar atau rekahan, tekstur porfiritik, dengan mineral penyusun plagioklas, hornblende dengan masa dasar plagioklas. Sebagian berwarna abu-abu keputihan, batuan vulkanik andesit dan tufa telah termineralisasi.

Sebaran andesit tua cukup luas terutama di wilayah Kecamatan Sobang meliputi G. Bongkok, di Desa Cidikit, Sungai Cisimeut pada cabang kanan bagian hulu.

Batulempung sisipan batupasir
Batulempung dengan sisipan batupasir yang dijumpai di daerah penyelidikan ada 2 jenis batulempung, yaitu batulempung yang bersifat non karbonatan dan batulempung bersifat karbonatan.  

Batulempung yang bersifat non karbonatan dijumpai terutama di wilayah tenggara daerah penyelidikan yaitu di kawasan Sungai Cikancra. Batuan ini memiliki ciri abu-abu kehitaman, massif, setempat dalam keadaan lapuk berwarna merah. Satuan batulempung non karbonatan memiliki sebaran di terutama di S. Cikancra, S. Ciawitali, ke arah hilir yaitu S. Ciparasi, dan S. Cimaja.

Satuan yang kedua adalah batulempung karbonatan sisipan batupasir, ciri fisik; warna abu-abu kecoklatan berbutir sedang hingga kasar, berlapis dengan arah perlapisan N 160ºE/30º, tebal batupasir bervariasi antara 5 cm ~ 10 cm, bersifat karbonatan di beberapa tempat mengandung fosil koral (Foto 9). Selain bersifat karbonatan pada lapisan batulempungnya terdapat fosil kayu. Satuan batuan ini memiliki sebaran terutama banyak dijumpai di wilayah Cimarga. Sedangkan batulempung yang terdapat di wilayah Cibeunyeur dan hulu Sungai Ciujung mengandung batubara dan masuk ke dalam bagian dari Formasi Leuwidamar.

Batuan tufa
Secara fisik memperlihatkan warna coklat, Batuan tufa memiliki sebaran dan berkembang dengan baik terutama di wilayah daerah penyelidikan seperti di daerah Gunung Julang dan bagian selatan daerah penyelidikan terutama di wilayah Sungai Cirametek. Secara regional batuan tufa di daerah penyelidikan dapat disetarakan dengan Fomasi Cimapag.

Struktur Geologi
Struktur yang terdapat di daerah ini juga dapat diketahui dari pengamatan langsung di lapangan, penafsiran citra DEM dan peta topografi. Dari hasil penafsiran dapat diidentifikasi tiga jenis struktur yaitu meliputi struktur lipatan dan struktur sesar dan struktur kekar. Struktur lipatan berkembang di bagian utara yaitu di daerah Kecamatan Cimarga, Kecamatan Leuwidamar dan Kecamatan Bojongmanik. Sedangkan struktur sesar memiliki arah umumnya utara-selatan, berkembang di daerah Leuwidamar, dan daerah Cipanas serta Bojogmanik. Struktur kekar terdapat di banyak lokasi.  

Hasil dari pengamatan di lapangan menunjukkan indikasi struktur yang dijumpai di kawasan salah satu tandanya dapat teramati dengan baik yaitu berupa jejak geseran atau slickenside pada singkapan batuan di S. Cikuluwung. Selain itu adanya jejak struktur di lapangan dapat diketahui dari kenampakan bentang alam.

Pola struktur ini di kawasan ini diduga kuat merupakan bagian yang berperan erat dalam pembentukan mineralisasi, baik emas maupun logam dasar
 
Mineralisasi /Indikasi Bahan Gallian
Dari hasil pengamatan lapangan di seluruh wilayah pada kawasan ini dijumpai 6 daerah prospek yang menunjukkan adanya indikasi alterasi dan mineralisasi. Keenam indikasi prospek tersebut adalah daerah Cidikit, daerah Ciujung, daerah Cisawang, daerah Cipanas, daerah Cihinit dan daerah G. Julang

Keenam daerah mineralisasi tersebut dilihat dari ciri pola alterasi serta mineralisasi diperkirakan menunjukkan tipe mineralisasi epitermal sulfida rendah. Indikasi adanya mineralisasi dan alterasi di daerah ini ditunjukkan oleh adanya penerobosan fluida hidrotermal dalam bentuk urat kuarsa yang menerobos batuan samping andesit dan tufa.

Di daerah Ciujung, hasil analisis kimia pada batuan untuk unsur Pb nilai tertinggi yaitu pada L.09/08 AR (4960 ppm). L.09/09R, (2950 ppm), L.09/07R (342 ppm). Kandungan Zn pada conto batuan dengan nilai tertinggi terdapat di L.09/08 AR (1,46%), L.09/09 AR (2,23%) dan L.09/12AR R (3480 ppm). Lubang tambang rakyat banyak

Mineralisasi dan alterasi di Cihinit ditandai oleh adanya penetrasi fluida hidrotermal dimanifestasikan oleh urat kuarsa pada batuan samping andesit. Ubahan terjadi pada batuan samping dalam bentuk argilik dan propilit. Urat kuarsa berarah N 160ºE/85º, lebar sekitar 40 cm warna putih terang/bening, keras struktur masif, vuggy dan gigi anjing, mineral bijih terdiri dari galena, abu-abu metallic, sfalerit coklat tua, transparan, kilap lilin, kalkopirit kuning metalik tua dan pirit kuning metalik pucat terdapat dalam urat kuarsa. Ubahan dalam lubang umumnya adalah silisifikasi warna putih, keras. Hasil analisis kimia conto batuan untuk unsur Pb nilai tertinggi terdapat pada conto L.09/32R (18,26%), diikuti oleh L.09/33 R (11,98%), sedangkan Zn yaitu nilai tertinggi yaitu adalah pada lokasi L.09/32/R (4,63%) dan L.09/33/R (3,11%).

Mineralisasi di Gunung Julang berkembang sangat baik, ditandai oleh munculnya sejumlah urat kuarsa menerobos batuan andesit terubah. Urat kuarsa yang menerobos batuan tersebut membentuk zona alterasi dan mineralisasi dengan arah yang umum urat hampir utara selatan, lebar dari beberapa sentimeter hingga mencapai 2,5 meter. Urat kuarsa dijumpai dalam beberapa jalur dimana keterdapatannya dijumpai di beberapa blok, diantaranya Blok Cisampay, Blok Cidoyong, Blok Cigaru dan Blok Cisoka. Blok-blok tersebut membentuk suatu komplek tambang yang cukup panjang di sepanjang Sungai Cikuluwung. Dari sejumlah lubang, lubang Entus dan H. Ismail merupakan lubang yang produktif. Di lokasi ini (Lubang Entus) urat kuarsa mengandung sulfida menembus batuan tufa yang terargilikan kuat, memiliki arah N 160°E/55° dengan lebar urat sekitar 2,5 meter berwarna putih susu, hingga keabuan, keras memiliki struktur massif, laminasi, cockade dan struktur gigi anjing. Asosiasi mineral yang dapat diidentifikasi pada blok ini adalah sulfida pirit. Dari hasil analisis kimia conto batuan untuk unsur Au menunjukkan pada L.09/26DR mempunyai kandungan 39500 ppb. Nilai tinggi lainya adalah pada L.09/25BR 31250 ppb, L. 09/26R 26920 ppb, L.09/25R 17860 ppb, L.09/24/BR 10840 ppb, L.09/24 AR 8425 ppb, L.09/26/AR 7310 ppb dan L.09/26 CR 4900 ppb. Sedangkan untuk unsur Ag pada L.09/26 CR 99 ppm, L.09/26 DR 85 ppm, L.09/24/BR 38 ppm, L.09/26 R 30 ppm, L.09/26 BR 28 ppm, L.09/25BR 27 ppm, L.09/24 AR 24 ppm.
 
PEMBAHASAN

Berdasarkan asosiasi mineralnya tipe mineralisasi di daerah penyelidikan dapat dibagi menjadi dua zonasi mineralisasi yaitu :
  1. Zonasi mineralisasi di bagian bawah yang ditunjukkan oleh hadirnya asosiasi mineral yang terdiri dari galena, sfalerit, sedikit kalkopirit dan pirit hadir secara dominan. Zonasi ini diklasifikasikan sebagai mineralisasi epitermal zonasi bawah. Daerah representatif yang menunjukkan tipe mineralisasi epitermal zonasi bawah adalah daerah Cihinit dimana asosiasi yang ditemukan adalah terdiri dari galena, sfalerit, sedikit kalkopirit dan pirit, dengan alterasi yang muncul adalah silisifikasi dekat kontak bijih dan ubahan argilik pada bagian yang tidak jauh dengan bijih.
  2. Zonasi mineralisasi di bagian atas yang ditunjukkan oleh hadirnya asosiasi mineral yang terdiri dari pirit halus, dalam urat kuarsa putih susu, struktur massif dan gigi anjing. Pada kawasan ini tidak dijumpai adanya mineral seperti galena, sfalerit dan kalkopirit. Zonasi ini diklasifikasikan sebagai zonasi mineralisasi epitermal bagian atas. Daerah representatif yang menunjukkan tipe mineralisasi epitermal zonasi bagian atas adalah mineralisasi daerah Gunung Julang.

Mineralisasi emas yang terdapat di G. Julang memiliki potensi yang cukup besar. Sampai saat ini di kawasan G. Julang telah terdapat sedikitnya 200 kelompok pengelola tambang, dengan masing-masing kelompok paling sedikit beranggotakan sekitar 5 orang. Pada lubang yang paling produktif seperti Lubang Entus misalnya dalam satu karung bijih pada tahap pertama penggelundungan dapat menghasilkan 6 gr Au. Menurut informasi dari salah seorang pekerjanya bahwa di lubang Entus memiliki anggota tambang sebanyak 80 orang dengan penghasilan rata-rata per orang per hari sekitar Rp. 400.000,-. Sedangkan hasil gelundung untuk sekali angkat dapat menghasilkan Rp.140.000.000 (seratus empat puluh juta rupiah). Jadi secara ekonomi untuk tambang rakyat masih sangat menguntungkan. Adapun kondisi alat pemrosesan emas (gelundung) yang dimiliki oleh penambang lokal yang sekarang beroperasi dapat dilihat pada Foto 24.

Dari hasil analisis laboratorium menunjukkan kandungan logam mulia (emas) yang cukup tinggi terutama terdapat di wilayah Kawasan G. Julang dimana dari hasil analisis geokimia menunjukkan kandungan emas yang prospek berkisar antara 8 g/t ~ 39 g/t Au dan perak antara 6 g/t ~ 66 gt Ag. Hasil pemantauan dilapangan secara kasar diperkirakan urat yang terdapat di wilayah ini memiliki panjang tidak kurang dari 1 km dengan lebar zona hingga mencapai 2 meter.

Dengan asumsi kedalaman urat mencapai 50 m dan berat jenis 2,5 maka dapat dikalkulasi bahwa potensi sumber daya hipotetik cebakan bijih emas yang terdapat di G. Julang diperkirakan 1000 x 2 x 50 x 2,5 = 250.000 ton. Kendala yang dihadapi saat ini adalah bahwa lahan yang digarap berada di kawasan Taman Nasional G. Halimun.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan analisis laboratorium maka daerah prospek dijumpai ada dua zona terletak di 6 daerah yaitu Kawasan Ciujung, Kawasan Cihinis, Kawasan G. Julang, Kawasan Cisawang, Kawasan Cidikit dan Kawasan Cipanas.
  2. Zona sulfida rendah berasosiasi dengan emas : Daerah Cidikit, Daerah Ciujung, Daerah Cisawang, Daerah Cipanas, dan Daerah G. Julang. Sedangkan zona sulfide medium (base metal) diketahui ada dua daerah mineralisasi yaitu daerah Cihinit dan Ciujung diperkirakan terbentuk pada zona epitermal bagian bawah, sedangkan tipe mineralisasi zonasi bagian bawah ditunjukkan oleh dominan emas terdapat di kawasan Gunung Julang.
  3. Hasil analisis geokimia dari stream sedimen pada emas menunjukkan nilai tertinggi terdapat di lokasi L.09/02 S (1864 ppb), lokasi L.09/05 S (1.210 ppb), sedangkan dari batuan pada nilai tertinggi terdapat di L.09/26 DR, (39.500 ppb). Nilai tinggi lainya sbb: L.09/25BR (31.250 ppb), L. 09/26R (26.920 ppb), L.09/25R (17.860 ppb), L.09/24/BR (10.840 ppb), L.09/24 AR (8425 ppb), L.09/26/AR (7310 ppb) dan L.09/26 CR (4900 ppb). Kesemuanya terdapat di daerah Cijulang. Sementara itu untuk perak dari sedimen sungai nilai tertinggi terdapat di lokasi L 09/02 S (20 ppm), sedangkan nilai lainnya adalah < 2 ppm nilai tertinggi pada batuan terdapat di L.09/32 R (345 ppm).
  4. Hasil analisis PIMA menunjukkan bahwa alterasi yang terdapat di daerah penyelidikan adalah pada umumnya adalah argilik dan propilit sedikit silisifikasi dan advance argilik.
  5. Dari studi inklusi fluida menunjukkan bahwa pembentukan mineralisasi adalah pada temperature antara 140 ~ 220 °C dengan salinitas antara 0,5 ~ 2,2 Wt.eq. Ini menunjukkan bahwa kedalaman pembentukan mineralisasi berkisar antara 50 ~ 400 meter dari paleo surface yang masih merupakan zona silica cap dengan logam mulia.
  6.  Secara ekonomi daerah penyelidikan terutama pada wilayah G. Julang (Au), Cihinis dan Ciujung (Pb dan Zn) memiliki potensi yang cukup tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan studi lanjutan guna mengetahui nilai keprospekan secara lebih jauh. Untuk emas di G. Julang, perhitungan kasar menunjukkan panjang urat diestimasi sekitar 1 km dengan lebar zona sekitar  2 meter dengan potensi sumberdaya hipotetik bijih emas diperkirakan 250.000 ton.
  7. Daerah prospek lainnya walaupun tidak sebesar tiga daerah tersebut diatas dilihat dari tingkat ubahannya juga memiliki tingkat keprospekan yang cukup signifikan terutama pada daerah Cisawang.

Dengan melihat hal tersebut maka disarankan untuk
  1. Melakukan studi lanjut (follow up study) terutama pada daerah G. Julang, Cihinit, Ciujung serta keempat daerah lainnya guna mengetahui secara lebih jelas tingkat penyebaran dan alterasinya sehingga diharapkan akan diperoleh bentuk tubuh bijih yang lebih jelas.
  2. Jika studi lanjutan dilakukan maka disarankan untuk melakukan pemetaan rinci disertai dengan program puritan dan sumuran. Hal ini perlu dilakukan terutama dalam upaya untuk mendapatkan WPN baru (sebagai bank data) dalam menentukan kebijakan pemerintah dalam pertambangan