Peranan Data Hasil Penyelidikan Panas Bumi Oleh Badan Geologi Dalam Rangka Percepatan Pengembangan Panas Bumi Indonesia

Oleh : Retno Rahmawati

 

Dalam rangka percepatan pengembangan panas bumi Indonesia, Pusat Sumber Daya Geologi – Badan Geologi menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion dengan Tema “Peranan Data Hasil Penyelidikan Panas Bumi oleh Badan Geologi dalam Rangka Percepatan Pengembangan Panas Bumi di Indonesia”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 29 Maret 2016 bertempat di Gedung Badan Diklat Energi dan Sumber Daya Mineral, Jl. Gatot Subroto Kav. 49 Jakarta.

Focus Group Discussion dihadiri oleh kurang lebih 45 orang peserta yaitu dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Direktorat Panas Bumi EBTKE, Dewan Energi Nasional, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Komite Energi Nasional, Asosiasi Panas Bumi, PT. Geothermal Energi, Balai Besar Teknologi Konservasi Energi BPPT, PT. Star Energy, PT. Chevron Indonesia, Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan Pusat Survei Geologi.

Gambar 1. Kepala Pusat Sumber Daya Geologi, Plt. Kepala Badan Geologi, Ir. Abadi Poernomo (DEN), Direktur Panas Bumi EBTKE dan Ir. Asrizal Masri (KEN) pada pembukaan Focus Group Disscussion

Acara diawali dengan pembukaan, yaitu laporan yang disampaikan oleh Kepala Pusat Sumber Daya Geologi, Ir. Hedi Hidayat, M.Si, Sambutan dari Dewan Energi Nasional yang disampaikan oleh Ir. Abadi Poernomo Dipl, GEOTH, EN.TECH, sambutan dan paparan mengenai Pengembangan Panas Bumi oleh Direktur Panas Bumi EBTKE KESDM, Ir. Yunus Saefulhak MM, MT dan sambutan serta pembukaan yang disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, FX. Sutijastoto, M.A mengenai terobosan kebijakan eksplorasi dalam rangka percepatan pengembangan panas bumi Indonesia.

Dalam laporan yang disampaikan oleh Kepala Pusat Sumber Daya Geologi, kegiatan FGD ini dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah dalam percepatan pengembangan panas bumi di Indonesia, tema yang dipilih mengarah pada Badan Geologi sesuai dengan tupoksi dalam mendukung program tersebut. Hal tersebut juga disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, dalam paparannya beliau menyampaikan roadmap penyelidikan panas bumi tahun 2012 – 2025, roadmap tersebut dibagi menjadi tiga yaitu mengembangkan sistem hidrotermal di dalam jalur vulkanik kuarter, mengembangkan sistem hidrotermal di luar jalur vulkanik kuarter dan yang ketiga adalah mengembangkan sistem non hidrotermal. Berkaitan dengan percepatan/terobosan pengembangan panas bumi di Indonesia, maka Badan Geologi akan lebih fokus mengembangkan sistem hidrotermal jalur vulkanik kuarter dengan temperatur tinggi dan memiliki potensi yang lebih besar. Diharapkan hasil dari terobosan pengembangan panas bumi tersebut, maka target road map panas bumi Tahun 2025 yaitu mewujudkan potensi panas bumi terpasang sebesar 7.094,5 MWe dapat tercapai.

Untuk merealisasikan target road map tersebut, dalam kurun waktu 10 tahun kedepan diperlukan penambahan kapasitas terpasang sekitar 5600 MWe, dimana saat ini potensi panas bumi yang telah terpasang adalah sebesar 1.438,5 MWe, untuk itu perlu dilakukan terobosan yang dilakukan pemerintah. Salah satu kendala yang dialami adalah adanya resiko disisi eksplorasi, resiko ini terutama dalam pengungkapan data bawah permukaan. Hal ini menjadi salah satu yang mendasari kegiatan FGD ini. Tujuan FGD panas bumi ini merupakan implementasi roadmap pengembangan panas bumi sesuai target Kebijakan Energi Nasional, terbentuknya kesepakatan perlunya Tim Terpadu antara Badan Geologi – Pusat Sumber Daya Geologi dengan DJE yang didukung oleh stakeholders dengan sistem tata kerja dan mekanisme yang jelas serta dengan target yang terukur, terwujudnya kesepakatan rencana kerja bersama dengan tujuan dan target serta langkah-langkah pengembangan panas bumi yang jelas dan terukur serta terwujudnya kesepakatan rumusan langkah-langkah dalam rangka pembentukan tim terpadu.

Pada FGD ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dikdik Risdianto, ST, MT dari Pusat Sumber Daya Geologi, Ir. Asrizal Masri dari Komite Eksplorasi Nasional dan Ir. Tafif Azimudin dari Asosiasi Panas Bumi Indonesia. Dalam paparannya, Pusat Sumber Daya Geologi menjabarkan peran pentingnya ketersediaan data sub-surface yang dapat mengurangi resiko panas bumi, bagaimana keterlibatan pemerintah dalam pengembangan panas bumi di Negara lain, terutama dalam menyediakan data pengeboran eksplorasi dan langkah-langkah yang telah dilakukan Badan Geologi untuk menyiapkan data dan seberapa besar peranan data yang disiapkan oleh Badan Geologi. Beberapa Negara lain yang dipaparkan pada presentasi ini adalah contoh kondisi keterlibatan pemerintah dalam pengembangan geothermal di Negara New Zealand, Philippina, Kenya, Jerman, Turki dan Jepang, di Kenya perkembangan geothermal dilakukan dengan melakukan pengeboran secara bertahap dengan bantuan dari dana donor pinjaman/hibah, sedangkan yang melakukan surface survey dan eksplorasi pengeboran green field dilakukan oleh BUMN di negaranya.

Beberapa langkah yang telah dilakukan oleh Badan Geologi – Pusat Sumber Daya Geologi untuk menyiapkan data panas bumi adalah melakukan penyelidikan panas bumi di wilayah Indonesia, sesuai dengan tugas dan fungsi PSDG, menyiapkan dan melakukan evaluasi data geosains panas bumi untuk usulan WKP, mengevaluasi data geosains panas bumi hasil penugasan survei pendahuluan, menerbitkan peta distribusi dan potensi panas bumi yang diupdate setiap tahun, melakukan pengeboran landaian suhu di daerah panas bumi, melengkapi dan menambah data geosains, khususnya data MT dan landaian suhu, melakukan pengembangan metode penyelidikan dan melakukan kerjasama untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dengan pihak dalam dan luar negeri.

Gambar 2. Suasana kegiatan Focus Group Discussion

Beberapa kesepakatan hasil dari kegiatan FGD ini adalah untuk meningkatkan data dan validasi data potensi panas bumi, perlu adanya resource/reserve assesment sehingga keluar angka yang dapat dipercaya dalam proses pengembangan mitigasi resiko di sisi hulu, pemuktahiran data sumberdaya dan cadangan panas bumi dilakukan secara berkala, menyempurnakan SNI Klasifikasi Potensi Panas Bumi dan menyelesaikan masalah Indonesian Code sebagai perluasan dari SNI serta perlu adanya riset pengembangan teknologi untuk menurunkan resiko, riset play konsep untuk penentuan target pengeboran, riset mengenai keberhasilan dan kegagalan pengeboran eksplorasi.

Diharapkan hasil dari kegiatan FGD ini dapat membantu Badan Geologi dalam mendukung percepatan pengembangan panas bumi di Indonesia. (Retno Rahmawati)