Pertemuan Ke-14 Asean Forum On Coal Di Phnom Penh, Kamboja

Pertemuan Ke-6 Board of Judges for ASEAN Coal Awards  dan Pertemuan Ke-14 ASEAN Forum On Coal di Phnom Penh, Kamboja

Oleh: Penny Oktaviani


ASEAN Forum on Coal (AFOC) merupakan forum negara-negara ASEAN dalam hal kerjasama pemanfaatan dan pengembangan batubara. Semua Negara ASEAN kecuali Singapura dan Brunei Darussalam aktif dalam forum ini. Setiap tahun forum ini menyelenggarakan pertemuan rutin. Sejak tahun 2011, didirikan Board of Judges atau dewan juri untuk menilai dan menentukan pemenang ASEAN Coal Awards, dewan juri ini juga mengadakan pertemuan setiap tahun dan melakukan penjurian setiap dua tahun.
Focal point dari kegiatan ini di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral adalah Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara. Unit-unit yang turut berperan aktif dalam kegiatan ini adalah Pusat Teknologi Mineral dan Batubara, Pusat Sumber Daya Geologi, dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Mineral dan Batubara.
Pusat Sumber Daya Geologi berkontribusi dalam hal pembangunan database batubara ASEAN, database ini ditampilkan dalam bentuk ASEAN Coal Database Information System (ACDIS) dan dipublikasikan pada website Pusat Sumber Daya Geologi. Pembuatan database ini telah dimulai pada tahun 2011, dan diperkenalkan kepada ASEAN Member States (AMS) pada tahun 2012.
Pertemuan ke-6 Board of Judges (BOJ) for ASEAN Coal Awards dan Pertemuan ke-14 ASEAN Forum on Coal (AFOC) Council Meeting telah diselenggarakan di Phnom Penh, Kamboja, tanggal 7-9 Juni 2016. Pertemuan dihadiri seluruh AMS, kecuali Brunei Darussalam dan Singapura. Selain itu, turut hadir ASEAN Centre for Energy (ACE) serta Jepang sebagai negara mitra wicara (Dialogue Partner) yang terdiri dari Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) dan Japan Coal Energy Centre (JCOAL). Delegasi RI dipimpin oleh Prof. Dr. Bukin Daulay, M.Sc dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) didampingi perwakilan unit terkait dari Pusat Sumber Daya Geologi dan Biro Perencanaan dan Kerja Sama, serta wakil dari Direktorat Kerja Sama Ekonomi ASEAN (Dit. KSEA), Kementerian Luar Negeri  serta Fungsi Ekonomi KBRI Phnom Penh.

I.  Pertemuan ke-6 BOJ
Pertemuan ke-6 BOJ dibuka oleh Mr. Yos Mony Rath, Dirjen Sumber Daya Mineral, Kementerian Pertambangan dan Energi Kamboja. Dalam sambutannya dijelaskan mengenai peran strategis batubara dalam menopang pertumbuhan ekonomi Kamboja yang berkisar 6-7% per tahun, sehingga memerlukan ketersediaan energi yang besar.
Agenda pokok pertemuan adalah pemutakhiran guideline untuk pendaftaran dan pemilihan serta pemberian penghargaan bagi peserta ASEAN Coal Awards 2017.
 
II.  Pertemuan ke-14 AFOC Council Meeting
Pertemuan ke-14 AFOC dibuka oleh Mr. Victor Jona, Dirjen Energi Kementerian Pertambangan dan Energi Kamboja, yang juga merupakan Senior Officer for Energy (SOE) Leader Kamboja. Dalam sambutannya digarisbawahi pentingnya memastikan pasokan energi yang berkelanjutan untuk pembangunan kawasan. Batubara diprediksi akan menjadi sumber energi utama sampai tahun 2030. Permintaan batubara di ASEAN diprediksikan naik dari 56 MTOE pada 2005 menjadi 297 MTOE pada 2030 atau tumbuh sekitar 7% per tahun yang membuatnya menjadi sumber energi yang paling cepat pertumbuhannya dari tahun 2005-2030.
Sebagai Outgoing Vice Chairman, Indonesia memberi sambutan yang menekankan pentingnya batubara sebagai sumber energi yang handal saat ini dan di masa depan. Dalam kaitan ini, perlu terus dioptimalkan kerja sama yang baik antar sesama AMS, negara mitra dan organisasi internasional untuk mempromosikan penggunaan batubara yang lebih bersih dan ramah lingkungan melalui Clean Coal Technology (CCT) maupun teknologi terapan lainnya seperti gasifikasi batubara untuk listrik sehingga batubara dapat menjadi penopang bagi ketahanan energi di kawasan ASEAN.


Dr. Sanjayan Velautham, Direktur Eksekutif ACE, dalam sambutannya antara lain menyampaikan bahwa menurut ASEAN Energy Outlook 2015 yang diterbitkan ACE, ASEAN masih akan bergantung kepada fossil fuels, sehingga batubara akan menjadi sumber utama energi  guna memenuhi pertumbuhan yang cepat akan permintaan listrik di kawasan ASEAN. Dengan kondisi demikian, CCT penting untuk memastikan batubara digunakan dengan cara yang berkelanjutan, penggunaan yang efisien dan ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan tema ASEAN Plan of Action on Energy Cooperation (APAEC) 2016-2025 Fase 1 “Enhancing Energy Connectivity and Market Integration in ASEAN to Achieve Energy Security, Accessibility, Affordability and Sustainability for All”.


Pertemuan ke-14 AFOC membahas 4 agenda utama, yaitu aktivitas AFOC periode 2015-2016, kerja sama dengan negara mitra dan organisasi internasional, lesson learnt dari APAEC 2010-2015, dan perumusan program activities untuk APAEC 2016-2020, termasuk program prioritas tahun 2016-2017. Dalam pembahasan terkait agenda aktivitas AFOC periode 2015-2016, Indonesia menyampaikan laporan terkait status perkembangan program ASEAN Coal Data Information System (ACDIS). Semua AMS menyetujui agar ACDIS tetap dilanjutkan sesuai dengan APAEC Work Plan 2016 – 2020, sehingga Indonesia dalam hal ini PSDG perlu menindaklanjuti keputusan forum ini.

Secara umum, Indonesia harus dapat menyelaraskan kepentingan utama energi nasionalnya dengan program kegiatan yang akan dilakukan dalam kerangka kerja sama batubara ASEAN yang tercantum dalam APAEC 2016-2020 Work Plan.   Indonesia juga menerima tawaran untuk menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan AFOC Council Meeting ke-15 dan BOJ Meeting ke-7 pada tahun 2017 mendatang.

 

Gambar 1. Foto bersama peserta pertemuan Board of Judges.  

 


Gambar 2. Suasana pertemuan Board of Judges.
 


Gambar 3. Foto bersama peserta pertemuan AFOC ke 14. Selain AMS, peserta meeting ditambah dari JCOAL dan METI Jepang.
 


Gambar 4. Suasana pertemuan AFOC ke 14.
 


Gambar 5. Delegasi RI peserta pertemuan AFOC ke 14 terdiri dari staf Kementerian ESDM dan staf Kementerian Luar Negeri.