The Human From Flores

The Human From Flores

Oleh : Elang Somantri

Pada Desember 1956, Yosep Djuwa Dobe Ngole, Raja Nagekeo, menemukan tulang raksasa di Ola Bula Desa dan melaporkan ke Theodor Verhoeven diidentifikasi sebagai Stegodon trigonocephalus florensis (Hooijer, 1957) dan dianggap subspecies dari Stegodon trigonocephalus dari Jawa. Menurut Van Den Bergh (1999) Flores Stagodon harus dianggap sebagai spesies yang terpisah : Stegodonflorensis.

Dalam menanggapi penemuan Stegodon florensis, H.M.S Hartono dari Direktorat Geologi di Bandung (saat ini Pusat Survey Geologi, Badan Geologi) dilakukan investigasi geologi di sekitar Ola Bula dan menetapkan kerangka kerja stratigrafi untuk Soa Basin, dari tua ke muda : Ola Kile Formasi (andesitbreksi) - Ola Bula Formasi (tuff, batu pasir dan batu kapur (Giro) dan alluvium terbaru fosil datang (berasal) dari lapisan batu pasir Formasi Ola Bula (hartono, 1961).

Sementara itu, Verhoeven dilakukan penelitian luas dan mengumpulkan lebih fosil di beberapa situs di Flores pada tahun 1963, Vorhoeven ditemukan di alat-alat batu situ dan Stagodon tetap bersama-sama di lapisan batu pasir di situs penggalian lesa Mata Mange dan Boa. Karena di Jawa, Homo erectus co – ada dengan Stegodon sekitar 750.000 tahun yang lalu, Verhoeven menyimpulkan bahwa alat-alat batu dari kudismata dan Boa Lesa yang pada usia yang sama dari "Homo Erectus" telah mencapai entah bagaimana Florest (Verhoeven, 1968). Implikasi dari "manusia purba" di Flores dibahas oleh Maringer dan Verhoeven (1970). Namun, bukti ini diabaikan oleh sebagian besar arkeolog (Allen, 1991 danBelwood, 1997). Itu tidak membantu bahwa Verhoeven telah jatuh dengan paleontology pada saat itu. Mereka bahkan menyarankan bahwa Verhoeven adalah seorang amatir. Demikian paparan tema Sejarah Kerjasama di Flores “Fakta dan Fiksi” oleh Prof. Fachroel Aziz, dalam seminar The International Media Release of New Human Fossils Excavated from Flores
Konferensi Pres tentang Temuan Fosil Manusia Purba dan Fosil tulang hewan Purba, yang diselenggarakan pada tanggal 8 Juni 2016 di Museum Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Jalan Diponegoro Nomor 57 Bandung.

Sejarah penelitian Paleontologi di Cekungan Soa Ngada Flores di mulai sejak tahun 1950 oleh seorang Pastor berkewarganegaraan Belanda yang bernama Father Theodor Verhoeven. Pada tahun 1960 seorang ahli geologi dari Djawatan Geologi melakukan pemetaan geologi dicekungan Soa dan menafsirkan kerangka stratigrafi Cekungan Soa.

Pada tahun 1963 Pastor Verhoeven kembali melakukan penggalian di Mata Menge dan Boa Leza dan ditemukan fosil gajah (stegodon) dan alat batu (artefak) yang mengindikasikan adanya kehidupan manusia purba.
Mengingat aspek Paleontologi di Cekungan Soa sangat menarik bagi para peneliti ada beberapa periode telah dilakukan kegiatan penelitian :
Pada Tahun 1992 – 2006 dilakukan penelitian oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi dengan University Of Utrech Belanda dan University Of New England Australia.
Pada Tahun 2009 – 2014 dilanjutkan penelitian oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi dengan University Of Wollonggong Australia dan dilakukan melalui Nota Kesepahaman untuk melakukan penelitian selama 5 tahun dan di perpanjang pada tanggal 15 Juni 2015 untuk periode 2016 – 2020.

Kegiatan penggalian dilakukan secara intensif di beberapa lokasi Cekungan Soa salah satunya di Mata Menge yang secara administrative terletak di Kecamatan Soa Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada awalnya hanya fosil Vertebrata dan alat bantu yang ditemukan dalam jumlah yang cukup melimpah dan adanya alat bantu mengindikasikan bahwa manusia purba pernah hidup di Cekungan Soa kurang lebih sejak satu juta tahun yang lalu dengan metode penggalian sistematis dan didukung dengan data geologi seperti stratigrafi dan sedimentology.

Penggalian di Mata Menge berhasil menemukan fosil manusia purba dan merupakan fosil manusia purba pertama yang diperoleh di Cekungan Soa, Hasil penelitian geologi dan penemuan fosil manusia purba di Mata Menge telah ditulis dalam bentuk karya ilmiah dan berhasil diterbitkan di Jurnal Nature yang merupakan salah satu junal Internasional terbaik.
Dalam dekade 5 tahun belakangan ini perkembangan penelitian di Cekungan Soa menjadi semakin menarik setelah Puslitbang Arkena melakukan penelitian di wilayah tersebut secara intensif baik melalui survey maupun eskavasi (penggalian yang dilakukan ditempat yang mengandung benda purbakala).
Dalam hasil penelitian tersebut telah ditemukan sejumlah fosil-fosil tulang hewan purba (stegodon) yang diduga mempunyai usia sekitar 750.000 tahun yang lalu.

Perkembangan penelitian di wilayah ini masih terus berlangsung dan dilakukan sampai sekarang, Hasil penelitian terakhir yang dilakukan oleh Tim Peneliti sampai sekarang secara nyata telah menghasilkan sejumlah data temuan yang sangat signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Arkeologi dan Paleontologi, temuan ini merupakan data baru yang sangat menarik bagi dunia ilmu pengetahuan maupun kepariwisataan Kabupaten Ngada khususnya Cekungan Soa dengan telah diketemukannya fosil-fosil tulang hewan purba dan fosil-fosil manusia purba, hal ini tentu membuka wawasan baru bagi dunia ilmu pengetahuan dan kepariwisataan di Kabupaten Ngada untuk dapat memanfaatkan potensi ini sebagai obyek yang menarik untuk di pelajari dan dikembangkan.