Evaluasi Data Dan Informasi Geosains Untuk Pengusulan Wilayah Kerja Panas Bumi

Evaluasi Data dan Informasi Geosains untuk pengusulan Wilayah Kerja Panas Bumi


Berdasarkan Undang-Undang No. 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi, untuk menyediakan suatu wilayah prospek panas bumi bagi pemanfaatan tidak langsung (listrik), Pemerintah menetapkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP). Penetapan WKP oleh Pemerintah didasarkan pada hasil Survei Pendahuluan (SP) atau Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (SPE) oleh Pemerintah.
Dalam melaksanakan kewenangan SP dan SPE, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral memberikan tugas kepada Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP), Badan Geologi, melalui Peraturan Energi dan Sumber Daya Mineral No.13 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mempunyai salah satu tugas dan fungsi untuk melakukan penelitian, penyelidikan dan pelayanan sumber daya panas bumi.
Dalam rangka pengembangan energi panas bumi, PSDMBP-Badan Geologi berperan dalam tahap awal pengembangan melalui pengusulan rekomendasi Wilayah Kerja Panas Bumi ke Menteri ESDM. Rekomendasi juga diberikan kepada Direktorat Jenderal EBTKE berupa rekomendasi wilayah-wilayah prospek panas bumi untuk wilayah Penugasan Survei Pendahuluan, wilayah Penugasan Survei Pendahuluan & Eksplorasi, dan wilayah Penugasan Eksplorasi hingga Pengembangan ke BUMN Panas Bumi.
    Hingga kini, penetapan WKP masih diatur dalam Permen ESDM No.11 Tahun 2008, yang cakupan kebutuhannya meliputi tingkat penyelidikan dan status lahan. Tingkat penyelidikan bertujuan untuk mendapatkan data yang sudah dapat mendelineasi gambaran awal sistem panas bumi meliputi sumber panas, reservoir (luas dan kedalaman), batuan penutup, sifat fisik dan kimia fluida (temperatur dan unsur kimia) serta daerah recharge dan discharge.
PSDMBP-Badan Geologi melakukan kegiatan evaluasi data geosain untuk pengusulan wilayah Kerja panas bumi sejak tahun 2008 dan merekomendasikan sebanyak 33 WKP. Pada Tahun 2017 target pengusulan WKP sebanyak 4 lokasi , yakni : Daerah Waesano, NTT, Panti-Sumatera Barat dan Nage – NTT, serta Sumani , Sumbar.

Oleh karena itu, untuk pelaksanaan kegiatan evaluasi geosain untuk pengusulan Wilayah Kerja panas Bumi , PSDMBP melakukan kegiatan Pembahasan Penyiapan data dan Informasi Geosain untuk pengusulan WKP pada tanggal 20 – 21 Juni di Garut. Evaluasi geosain dilakukan pada 3 daerah , yakni : Waesano, NTT, Sumani –Sumbar dan Panti-Simisiuh-Cubadak- Sumbar. Hasil pembahasan evaluasi geosain sebagai berikut :

a.    Daerah Waesano :
Evaluasi data geosains daerah panas bumi Waesano difokuskan untuk mendiskusikan data geokimia dan penentuan daerah prospek setelah adanya penambahan data MT pada tahun 2016.  Diskusi data geokimia difokuskan untuk menentukan geothermometer yang diakibatkan adanya perbedaaan metode antara PSDMBP dan konsultan Jacob. Berdasarkan pembahasan TIM WKP maka disepakati bersama bahwa nilai geothermometer untuk daerah Waesano sebesar 240 ºC menggunakan metode Na-K (G) sehingga termasuk dalam kategori high temperature dengan luas daerah prospek 5 Km2, karena adanya perubahan tersebut perlu dilakukan perhitungan ulang mengenai besaran potensi daerah Waesano.

b.    Sumani
Evaluasi data geosains daerah panas bumi Sumani menghasilkan kesepakatan sebagai berikut:
a.    Geothermometer  sebesar 210 ºC
b.    Perlu ditekankan bahwa daerah ini termasuk kategari medium temperatur
c.    Melakukan perhitungan ulang potensi menggunakan metode Monte Carlo
d.    Usulan untuk membuat peta isothermal beberapa sumur landaian suhu di sekitar Sumani

c.    Panti, Cubadak dan Simisuah
Evaluasi geosain meliputi mekanisme penggabungan 3 daerah potensi panas bumi yaitu daerah Panti, Simisuah dan Cubadak. Penyajian laporan geosains untuk ketiga daerah ini disajikan sesuai dengan daerah masing-masing dengan cara dikomparasi namun pada peta usulan WKP disajikan dalam satu daerah usulan.
Pembahasan untuk masing-masing daerah menyepakati hal-hal sebagai berikut:
Panti
1)    Geothermometer 180 ºC
2)    Top Reservoar 500-750 m
Cubadak
1)    Geothermometer 160 ºC dengan metode SiO2
2)    Top Reservoar 1000 m
3)    Hitung kembali luas daerah prospek dan potensi daerah Cubadak
Simisuah
1)    Anomali Hg dipengaruhi mineralisasi
2)    Ketebalan reservoar 1000 m
3)    Kedalaman reservoar 750-1000 m
4)    Cut off 120 ºC
5)    Geothermometer 150 ºC
6)    Hitung kembali potensi daerah Simisuah.

Evaluasi Geosain keprospekan panas bumi daerah Panti-Cubadak- Simisiuh diarahkan ke satu pengusulan WKP bertujuan untuk menggabungkan potensi ketiga wilayah Prospek tersebut, dan untuk menarik investor dalam pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi.
Hasil evaluasi geosains tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan dalam penetapan wilayah kerja panas bumi yang baru. Sehingga semakin banyak pilihan bagi para investor untuk mengembangan pemanfaatan tidak langsung energi panas bumi di Indonesia.
 
Daerah Prospek Panas Bumi Waisano, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sumber data : Tim Penyiapan Data dan Informasi Sumber Daya Geologi untuk Pengusulan Wilayah Kerja Panas Bumi-2017.

 

 

Gambar 1. Proses evaluasi sumberdaya panas bumi PSDMBP untuk menghasilkan output rekomendasi-rekomendasi dan pelayanan data dan neraca panas bumi.


Gambar 2. Peta distribusi WKP rekomendasi Badan Geologi hingga tahun 2016

 

Daerah Prospek Panas Bumi Waisano, Provinsi Nusa Tenggara Timur