Antara Eksplorasi, Data Dan Batubara

Antara Eksplorasi, Data dan Batubara
Focus Grup Discussion: Tantangan Ekplorasi Batubara untuk penyediaan data Potensi Batubara Indonesia
 
Batubara dan gambut merupakan salah satu sumber energi fosil tertua di dunia. Di dalam batubara juga terkandung Gas Metana Batubara (GMB) yang dapat terakumulasi dan diekstraksi keluar untuk dijadikan sumber energi setara gas alam konvensional. Indonesia memiliki sumberdaya batubara dan gambut dalam jumlah yang signifikan. Kandungan GMB dalam batubara Indonesia juga diperkirakan cukup besar. Jika batubara telah lama diandalkan untuk menjadi sumber energi dan penopang perekonomian nasional, pengembangan GMB di Indonesia masih dalam tahapan eksplorasi sementara gambut belum dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat, pemerintah terus berusaha meningkatkan kegiatan eksplorasi sumber daya energi, termasuk diantaranya sumber daya batubara, gambut dan GMB. Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP), Badan Geologi merupakan salah satu instansi pemerintah yang saat ini dipercaya untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan inventarisasi batubara, gambut dan GMB di Indonesia. Untuk menjawab tantangan perkembangan jaman terkait penyediaan data untuk inventarisasi potensi sumber daya energi nasional, PSDMBP menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) batubara, dengan tema "Tantangan Eksplorasi Batubara untuk Penyediaan Data Potensi Batubara Indonesia" di Jakarta pada tanggal 22 Agustus 2017.

Acara FGD dibuka oleh Kepala PSDMBP, Ir. Hedi Hidayat, M.Si yang mewakili plt Kepala Badan Geologi.  Dalam sambutannya, kepala PSDMBP mengungkapkan bahwa batubara masih memiliki porsi yang cukup besar dalam program Bauran Energi Nasional hingga tahun 2025, yaitu 33% dari total energi yang dicadangkan. Bahkan dalam proyek pelistirikan 35 ribu GW, batubara masih diandalkan untuk menyumbangkan sebesar 20 GW (51%), yang terbesar diantara sumber energi lain seperti migas konvensional serta energi baru dan terbarukan. Saat ini permerintah juga tengah mengkaji pengembangan batubara bawah permukaan untuk menghasilkan gas melalui metoda underground coal gasification. Dengan metoda ini, keberadaan batubara bawah permukaan yang tidak ekonomis untuk ditambang dan juga tidak ekonomis mengandung GMB dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sumber energi berupa sintetik gas.

Disebutkan pula bahwa tantangan terbesar yang dihadapi dalam pemanfaatan batubara saat ini adalah isu lingkungan. Penggunaan batubara sebagai sumber energi, dianggap menghasilkan CO2 cukup besar yang memicu terjadinya peningkatan suhu global. Namun, kehadiran teknologi batubara bersih (Clean Coal Technology) dan juga metoda Carbon Capture and Storage (CCS) yaitu metoda penangkapan dan penyimpanan kembali CO2 hasil pembakaran batubara, pada lapisan batuan bawah permukaan diperkirakan mampu untuk tetap menempatkan batubara sebagai sumber energi yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.

Acara FGD dikemas dalam bentuk diskusi yang terbagi dalam beberapa sesi. Sesi pertama menampilkan pembicara dengan materi terkait kebijakan strategis menyangkut batubara. Bertindak sebagai narasumber  pada sesi pertama adalah pejabat eselon dua yang berasal dari Bapenas, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas). Sesi kedua terfokus pada pembahasan data terkait batubara yang menampilkan pembicara dari Badan Geologi, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan Ditjen Minerba. Sementara diskusi sesi ketiga terfokus pada pembahasan data terkait GMB dengan menghadirkan pembicara yang mewakili dunia industri dan pemerintah dalam hal ini Ditjen Migas serta SKK migas.  Acara FGD dipandu oleh moderator DR. Agus Guntoro dari Universitas Trisakti dan Prof. DR. Binarko Santoso dari Puslitbang tekMIRA.  Sejumlah 50 orang peserta hadir dalam acara FGD tersebut. Peserta berasal dari berbagai kalangan meliputi instansi pemerintah di lingkungan ESDM (Badan Geologi, DEN, tekMIRA, Ditjen Migas dan Ditjen Minerba), perguruan tinggi (Unpad, ITB, UGM), Bappenas, KLHK, pemerintah daerah (Dinas ESDM Provinsi Sumsel serta Dinas ESDM Kabupaten Buton Utara) serta asosiasi (IAGI).

Dalam sesi pertama, diskusi berkembang pada perbedaan pendapat mengenai peranan batubara dalam bauran energi nasional. Saat ini dalam kebijakan pemerintah, batubara berperan sebagai penyeimbang penggunaan sumber lain terutama energi terbarukan yang memang belum mampu berperan sesuai target yang diharapkan. Sementara sebagian peserta berpendapat bahwa dengan keberadaaanya yang berlimpah, mudah ditambang dan murah sebaiknya batubara digunakan sebagai sumber energi utama pengganti migas yang masih kita impor, tentunya dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi batubara bersih. Disamping membahas batubara, diskusi juga berkembang pada pembahasan gambut sebagai sumber energi di Indonesia. Disarankan agar pemerintah mulai mengkaji pemanfaatan sumber energi gambut terutama di daerah yang memiliki potensi sumberdaya gambut cukup besar tetapi saat ini masih menggunakan migas sebagai sumber energi. Hal lain yang juga dibahas dalam sesi pertama adalah pelaksaan kegiatan eskplorasi di kawasan hutan lindung dan kerusakan lingkungan akibat penambangan. Di satu sisi KLHK berperan sebagai instansi yang menyangga keberlangsungan ekosistem nasional sementara di sisi lain KESDM berperan sebagai instansi yang mengelola sumberdaya geologi untuk kemakmuran rakyat.  Lebih banyak koordinasi dan sinergi yang harus dilakukan agar kedua kepentingan tersebut berjalan seimbang dengan lebih mengutamakan kepentingan dan kesejahtraan rakyat Indonesia.

Sesi kedua dan ketiga membahas pentingnya data yang mudah diakses,berkualitas dan akurat untuk kepentingan pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya batubara secara maksimal. Saat ini diakui keberadaan data yang belum terintegrasi dengan baik terutama raw data yang dibutuhkan untuk kegiatan evaluasi. Disamping melakukan kegiatan eksplorasi lapangan, Badan Geologi disarankan untuk juga memberikan porsi yang lebih besar pada kegiatan deskwork yang terfokus pada proses evaluasi, inventarisasi dan integrasi data yang ada saat ini. Selanjutnya, dalam diskusi, disampaikan bahwa DitJen Minerba saat ini sedang melakukan penataan IUP. Jika ada wilayah IUP yang sudah diterminasi, dan wilayah tersebut akan ditawarkan kembali, dibutuhkan bantuan Badan Geologi untuk melakukan evaluasi ulang maupun penambahan data baru dari hasil kegiatan eksplorasi lapangan.   Sementara terkait data migas, disampaikan perlunya payung hukum yang mengatur kebijakan penggunaan data hasil eksplorasi WK migas dan integrasi data yang ada untuk kepentingan kegiatan evaluasi potensi Migas oleh pemerintah. Badan Geologi diharapkan dapat menyediakan data dasar geologi dan geofisika yang berkualitas serta membantu kegiatan evaluasi data yang ada untuk memberikan nilai tambah bagi  wilayah kerja yang akan ditawarkan.

Kegiatan diskusi sampai pada kesimpulan perlunya intensifikasi eksplorasi batubara untuk pemenuhan kebutuhan penggunaan batubara dalam program bauran energi nasional serta perlunya kehadiran pemerintah dalam kegiatan eksplorasi ditingkat hulu. Bagaimanapun, menjadi tugas pemerintah untuk mengetahui estimasi kekayaaan sumber daya energi nasional yang dimiliki negara untuk kepentingan pembuatan kebijakan pemanfaatan dan pengusahaan yang menguntungkan rakyat Indonesia.  Keterlibatan pemerintah dalam kegiatan eksplorasi di hulu dengan anggaran yang mendukung mutlak dbutuhkan. Pemerintah harus tuntas hadir dalam penyediaan data potensi untuk kepentingan pihak yang berminat melakukan investasi dalam sektor energi. Tantangan yang harus diselesaikan adalah bagaimana cara menginventarisasi data termasuk manajemen data dari berbagai sumber baik pemerintah maupun swasta untuk optimalisasi eksplorasi batubara dan GMB. Khusus untuk GMB, pemerintah dituntut untuk mampu melakukan kegiatan eksplorasi yang bisa meyakinkan investor bahwa potensi GMB Indonesia bisa dikembangkan pada tahapan komersial. Sementara tantangan besar lainnya yang dihadapi pemerintah adalah kemampuan untuk melakukan eksplorasi sistemik secara intensif dengan memanfaatkan anggaran yang terbatas. 

Sumber: Rita Susilawati, Qomariah, Penny Oktaviani.

 
 
Foto 1. Pembukaan FGD Batubara oleh Kepala Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi Ir. Hedi Hidayat, M.Si.
 

Foto 2. Narasumber, Moderator dan Peserta FGD Batubara berfoto bersama sebelum memulai sesi diskusi.
 

Foto 3: Kepala PSDMBP bersama narasumber diskusi sesi 1. Dari kiri ke kanan Direktur Sumber Daya Mineral, Energi dan Pertambangan Bappenas, Ir. Josaphat Rizal Primana, M.Sc, Kepala Pusat Kebijakan Strategis KLHK, Ir. Herman Hermawan, M.M., Kepala PSDMBP Ir Hedi Hidayat, M.Si, Ir. Bayu Wahyudiono, M.M. mewakilli Direktur Hulu Migas Ditjen Migas, Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara Ditjen Minerba, Ir Agung Pribadi, M.Sc, dan moderator Dr. Agus Guntoro dari Universitas Trisakti.