Burung Maleo-pun Memanfaatkan Energi Panas Bumi

 
 
Burung Maleo-pun Memanfaatkan Energi Panas Bumi

Burung maleo (macrocephalon maleo) memiliki arti burung dengan kepala besar yang merupakan unggas endemik di daerah Sulawesi. Keunikan jenis burung ini terlihat bila sudah waktunya bertelur, burung maleo akan berjalan berkilo-kilometer bersama pasangannya menuju pantai atau menuju daerah panas bumi, jambul yang berada di kepalanya berfungsi untuk mendeteksi suhu panas.
Panas bumi merupakan energi panas yang berasal dari dalam bumi,  bersifat ramah lingkungan dan dalam pemanfaatannya tidak menimbulkan kerusakan atau menyebabkan polusi terhadap lingkungan. Pengelompokan sistem panas bumi di Indonesia berdasarkan lingkungan pembentukannya terbagi menjadi dua sistem, yaitu sistem vulkanik dan non-vulkanik.  Sistem panas bumi vulkanik umumnya terletak di sekitar jalur gunung api yang membentang dari Aceh, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Utara. Sistem panas bumi non vulkanik tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga ke Papua yang berhubungan dengan cekungan sedimen dan sesar aktif.  Pada umumnya potensi panas bumi yang dibentuk di lingkungan gunung api memiliki sumber daya yang besar dengan temperatur tinggi,  sedangkan pada sistem non vulkanik umumnya memiliki potensi tidak terlalu besar dengan temperatur sedang.
 
Indikasi terbentuknya sistem panas bumi di suatu daerah didasarkan atas ditemukannya manifestasi panas bumi, seperti mata air panas, lumpur panas, fumarol, solfatara, tanah panas, dll. Umumnya kenampakan manifestasi tersebut berada di kawasan dataran tinggi dan juga bersinggungan dengan kawasan hutan dan konservasi.
Salah satu daerah panas bumi yang menarik berada di Kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Kabupaten Sigi dan Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.  Kawasan Taman Nasional Lore Lindu berjarak sekitar 30 km dari Kota Palu ke arah selatan dan berada pada zona sesar aktif Palu-Koro.  Indikasi adanya energi panas bumi di wilayah tersebut ditandai dengan munculnya manifestasi panas bumi berupa mata air panas di sekitar Pakuli dan Saluki di Kecamatan Gumbasa serta Kuala Rawa di Kecamatan Nokilalaki,  Kabupaten Sigi dengan temperatur berkisar antara 50oC hingga 100oC.

Masyarakat di sekitar lokasi tersebut belum memanfaatkan air panas sebagai tempat pemandian/wisata, namun kehadiran jenis unggas burung Maleo telah terlebih dahulu memanfaatkan tanah hangat di sekitar air panas sebagai lokasi bertelur dan menetas (nesting). Tanah hangat ini terbentuk akibat rambatan panas pada endapan pasir di sekitar lokasi manifestasi.
Berdasarkan informasi petugas Balai Taman Nasional Lore Lindu di daerah Saluki terdapat 9 area tempat bertelurnya burung Maleo.  Burung Maleo menyimpan telurnya dengan cara membuat lubang sedalam 60 cm berdiameter sekitar 80 cm, pada suhu tanah hangat 32-35oC, dipergunakan untuk menetaskan telur yang tidak pernah dierami.  Terdapat sekitar 800 populasi burung Maleo yang berada di Taman Nasional Lore Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Nah, fenomena tersebut membuktikan adanya pemanfaatan langsung energi panas bumi yang sangat melekat dengan pelestarian lingkungan, tidak merusak tapi membawa manfaat bagi seluruh kehidupan di sekitarnya. Kiranya kita dapat belajar dari burung Maleo yang telah memanfaatkan secara langsung sumber panas dari bumi.
 
Go Green Geothermal Energy.