Karakterisasi Konsentrat Tembaga Tipe Porfiri Di Indonesia Untuk Mengidentifikasi Mineral Ikutan Lainnya

KARAKTERISASI KONSENTRAT TEMBAGA TIPE PORFIRI DI INDONESIA UNTUK MENGIDENTIFIKASI MINERAL IKUTAN LAINNYA

Pada tanggal 24 Agustus 2018, Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) menyelenggarakan  acara Seminar dan Diskusi Karakterisasi Cu dan Au pada Konsentrat Tembaga dengan mendatangkan Dr. mont. Imelda Hutabarat, S.T., M.T., dari PPSDM Geominerba. Acara dibuka oleh Kepala PSDMBP yang diwakili oleh Kepala Sub Bidang Mineral Bukan Logam PSDMBP, Ir. Tarsis Ari Dinarna dan dimoderatori Dr. rer. Nat. Ernowo, S.T., M.T., Peneliti Muda PSDMBP.  Kegiatan seminar dihadiri oleh Pejabat Struktural dan Pejabat Fungsional dilingkungan PSDMBP dan juga wakil dari beberapa Perguruan Tinggi, diantaranya dari Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Trisakti Jakarta.

Dalam paparannya Dr. Imelda, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki cadangan tembaga yang cukup banyak yang berada di jalur cincin api daerah tektonik paling aktif di dunia, terbentang dari barat Sumatera hingga timur Papua. Tambang besar tembaga saat ini ada di Batu Hijau Nusa Tenggara Barat dan juga di Erzsberg dan Grasberg Papua. 

Keberadaan logam tembaga yang banyak berasosiasi dengan logam-logam lain membuka peluang peningkatan nilai tambah konsentrat tembaga. Konsentrat tembaga yang memiliki komposisi mineral kalkopirit dan pirit, bisa mengandung berbagai logam berharga seperti emas, perak, platina, palladium, selenium, atau telurium. Melalui proses ekstraksi selektif, keberadaan logam-logam tersebut pada konsentrat tembaga Indonesia dapat dimanfaatkan lebih maksimal. Di Indonesia sendiri saat ini peningkatan nilai tambah mineral  termasuk dari konsentrat tembaga masih sangat rendah. Beberapa proses ekstraksi masih perlu dikembangkan. 

Dalam presentasi juga dipaparkan hasil penelitian beliau terkait karakterisasi konsentrat tembaga tipe porpiri di Sumbawa dan Papua. Hasil penelitian beliau bisa dimanfaatian untuk membantu penentuan proses alir ektraksi logam-logam ikutan pada konsentrat tembaga lainnya di Indonesia. Karakterisasi dilakukan melalui analisa kimia menggunakan metoda XRF untuk logam-logam dasar dan inductively coupled plasma mass spectrometry (ICP-MS) khusus untuk logam-logam berharga. Sedangkan untuk mineral dikarakterisasi dengan menggunakan x-ray diffraction (XRD). Selanjutnya visualisasi elemen pada conto yang diteliti dikarakterisasi menggunakan scanning electron microscopy dengan energy dispersive X-ray spectrometer (SEM-EDX). 

Diskusi berlangsung seru dan menarik. Disimpulkan bahwa kegiatan penelitian terkait peningkatan nilai tambah mineral sebaiknya lebih banyak dilakukan dan hasilnya segera diaplikasikan untuk meningkatkan nilai tambah mineral di Indonesia. 

Penulis : Elang Somantri 
Sumber : Bidang Mineral, PSDMBP.