Ketersediaan Nikel Dan Kobalt Untuk Bahan Industri Baterei Listrik Di Indonesia

Ketersediaan nikel dan kobalt untuk bahan industri baterei listrik di Indonesia

Ernowo, Dwi Nugroho Sunuhadi, Moehamad Awaludin

Banyak negara merencanakan untuk menghentikan produksi mobil konvensional berbahan bakar minyak dan gas pada sekitar tahun 2030. Oleh karena itu saat ini industri mobil listrik sedang giat dikembangkan untuk menjawab target penggantian mobil konvensional dalam jangka menengah maupun jangka panjang sampai benar-benar semua kendaraan penumpang merupakan mobil listrik.

Baterei listrik merupakan komponen yang sangat penting dari sebuah mobil listrik, sebagai sumber energi untuk menjalankan mesin. Sumber energi penggerak inilah yang membedakan mobil listrik dengan mobil konvensional berbahan bakar minyak, sehingga lebih ramah lingkungan karena mengurangi polusi udara. Baterei listrik memiliki kemampuan untuk menyimpan daya listrik dan bisa diisi ulang (rechargeable). Ada dua jenis baterei listrik yang banyak dipakai saat ini yaitu Lithium-ion (Li-ion) dan Nickel Metal Hydride (NiMH). Baterei Li-ion menggunakan unsur logam litium dan kobalt sebagai elektroda, sementara itu NiMH memanfaatkan nikel.
 

Cebakan bijih litium belum ditemukan di Indonesia, meskipun ada indikasi mineralisasinya yang berasosiasi dengan batuan granit pegmatit. Namun Indonesia memiliki potensi nikel dan kobalt yang tersebar di beberapa pulau yaitu Kalimantan, Sulawesi, Halmahera dan Papua. Endapan nikel dan kobalt di Indonesia merupakan endapan tipe laterit dengan yang terkandung dalam bijih limonit dan terutama bijih saprolit dengan kadar yang lebih tinggi. Rata-rata bijih laterit tersebut memiliki kandungan nikel berkisar antara 0.6% – 2.23% dan kobalt 0.07% – 0.18%.

Badan Geologi melalui Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) adalah instansi pemerintah yang memiliki kewenangan untuk melakukan pencarian potensi mineral termasuk nikel dan kobalt di seluruh wilayah  Indonesia.  Data neraca sumberdaya mineral tahun 2017 yang dikeluarkan oleh PSDMBP dan memuat hasil kegiatan eksplorasi PSDMBP dan perusahaan pemegang ijin usaha pertambangan mineral di Indonesia mencatat potensi bijih laterit nikel  dengan total sumber daya (tereka, tertunjuk dan terukur) 6,5 milyar ton dan total cadangan (terkira, terbukti) 3,1 milyar ton. Bijih tipe laterite tersebut mengandung total sumberdaya dan cadangan nikel masing masing sebesar 95 juta ton dan 68,7 juta ton. Kobalt yang merupakan mineral ikutan dalam bijih nikel laterit memiliki jumlah total sumberdaya 7,2 juta ton dan total cadangan 1,2 juta ton. Jumlah ini masih mungkin bertambah dengan upaya eksplorasi yang terus  dilakukan. Saat ini Lithium belum tersedia di tanah air, dan PSDMBP masih terus melakukan kegiatan penelitian dan eksplorasi  untuk bisa menemukan keterdapatan cebakan litium di Indonesia.

Sebelum diberlakukanya pelarangan ekspor bahan tambang mentah pada tahun 2014, Indonesia termasuk 3 besar negara pengekspor nikel dan mineral ikutanya. Berdasar Peraturan Pemerintah nomer 05/2017, saat ini hanya bijih dengan kandungan nikel kurang dari 1.7 % yang boleh diekspor, selebihnya harus dimurnikan dan diolah oleh industri domestik.

Kegiatan-kegiatan eksplorasi selanjutnya akan meningkatkan jumlah dan status sumber daya serta menemukan daerah-daerah prospek baru untuk menambah jumlah sumber daya dan cadangan nikel dan kobalt. Hal ini memberikan peluang berkembangnya industri baterei listrik di Indonesia dengan didukung oleh ketersediaan bahan baku berupa nikel dan kobalt.