A Hidden Treasure - Rare Earth Elements In Coal

 

A HIDDEN TREASURE - RARE EARTH ELEMENTS IN COAL

 Rare Earth Elements (REE) atau Unsur Tanah Jarang (UTJ) adalah unsur penting yang digunakan pada berbagai produk yang kita gunakan sehari-hari seperti telepon seluler, hard drive, lensa kamera, microwave, peralatan medis, persenjataan canggih maupun berbagai produk teknologi tinggi lainnya. REE adalah 17 unsur dalam kerak bumi yang terdiri dari 15 unsur logam lanthanides (La, Ce, Pr, Nd, Pm, Sm, Eu, Gd, Tb, Dy, Ho, Er, Tm, Yb, Lu) ditambah scandiun dan yitrium. Sebenarnya, walaupun disebut sebagai unsur tanah jarang, unsur-unsur tersebut tidak sepenuhnya langka dan terdapat dalam jumlah cukup banyak dalam kerak bumi. Hanya saja disebut jarang karena unsur-unsur tersebut cukup sulit diperoleh dalam jumlah signifikan sesuai kebutuhan kehidupan modern saat ini. Karena sifatnya yang unik REE  tidak bisa digantikan oleh komponen lainnya dalam menunjang perkembangan teknologi modern. Itulah yang menyebabkan REE menjadi mahal harganya. REE  ini umumnya dijumpai dalam beberapa mineral seperti monasit, xenotime, dan bastnaesite. Namun beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa batubara pun dapat mengandung REE dengan kadar setara dengan kadar REE yang ditemukan pada mineral pembawa REE.

Batubara terdiri dari komponen organik dan non organik. Keberadaan REE pada batubara berasosiasi dengan komponen non organiknya. Proses pembakaran batubara di PLTU akan menghilangkan komponen organik dan menyisakan komponen non organik. Proses ini dapat mengakibatkan pengkayaan kandungan REE pada abu hasil pembakaran batubara. Kadar REE dalam fly ash batubara diindikasikan 10 kali lebih besar dibandingkan di dalam batubara itu sendiri (Seredin dan Finkelman, 2008).  Penelitian  pada fly ash dari berbagai batubara peringkat tinggi dunia menunjukkan kadar REE rata rata sebesar 445 ppm, setara dengan REE dalam mineral yang telah diusahakan secara komersial  (Ketris dan Yudovich, 2009). Di Indonesia, penelitian terhadap REE dalam batubara masih sangat terbatas. Penelitian yang  dilakukan terhadap  batubara Bangko Sumatra Selatan menunjukkan bahwa batubara tersebut memiliki kadar REE sebesar 2,4 hingga 118,4 ppm (Anggara, dkk, 2018). Dengan asumsi kadar REE dalam  fly ash 10 kali lipat kadar REE dalam batubara, maka potensi REE dalam fly ash batubara Bangko diperkirakan bisa mencapai sekitar 1000 ppm, jumlah yang cukup besar dan menjanjikan  untuk diekstrak secara komersial.

Indonesia memiliki sumberdaya batubara yang signifikan yaitu sebesar 166milyar ton dengan cadangan sekitar 37milyar ton (PSDMBP, 2018). Di Indonesia, lebih dari 48% pembangkit listrik yang  beroperasi saat ini menggunakan batubara sebagai sumber energinya. Pada tahun 2017, konsumsi batubara pada beberapa PLTU di Indonesia tercatat sebesar 82 juta ton. Proses pembakaran di PLTU untuk jumlah tersebut menghasilkan residu abu batubara sebesar kurang lebih 4,93 juta ton dengan rincian 0,78 juta ton berupa bottom ash dan 4,20 juta ton berupa fly ash. Fly ash batubara jika tidak diutilisasi diangap sebagai produk buangan. Proses ekstraksi REE dari fly ash batubara bisa meningkatkan nilai tambah batubara. Dengan asumsi kadar REE dalam fly ash sebesar 400 hingga 1000 ppm, maka  potensi REE dalam  abu batubara Indonesia diperkirakan cukup besar.

    
Saat ini Badan Geologi melalui Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) tengah melakukan studi terkait potensi REE dalam batubara Indonesia. Studi dilakukan bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Hasil studi diharapkan dapat mengungkap potensi REE dalam batubara Indonesia serta membuka peluang peningkatan nilai tambah batubara dan peningkatan pendapatan negara melalui produksi REE dari batubara Indonesia. Lebih jauh, produksi REE akan juga berarti membuka peluang berdirinya berbagai industri modern di Indonesia yang artinya juga membuka banyak lapangan kerja baru.

To sum up, for Indonesia, REE in coal is a hidden treasure and  our job is to take this treasure out of its hideaway.