Panas Bumi Juga Dapat Terbentuk Di Wilayah Tambang

Panas Bumi Juga Dapat Terbentuk Di Wilayah Tambang

 

Indonesia merupakan negara yang dikaruniai sumber daya alam yang berlimpah tersebar di seluruh wilayah nusantara,  baik sumber daya alam hayati dan non hayati. Khususnya sumber daya alam non hayati seperti mineral, batubara, dan migas pemanfaatannya harus mengikuti kaidah-kaidah konservasi, arif dan bijaksana karena sumber daya alam tersebut tidak dapat diperbaharui. Walaupun energi panas bumi dapat diperbaharui namun pemanfaatannya tetap harus menjaga lingkungan sebagai sumber cadangan air yang mensuplai fluida ke reservoirnya. 
Dalam eksplorasi awal panas bumi, tim Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) melakukan survei berdasarkan data kehadiran manifestasi, seperti air panas, fumarol dan batuan ubahan. Begitu juga yang dilakukan oleh tim survei mineral yang mencari  batuan ubahan untuk mengetahui kandungan mineral pembawa bijih hasil mineralisasi.
Ternyata ada benang merah antara dua kegiatan survei ini. Proses pembentukan sistem panas bumi, di beberapa lokasi ternyata tidak berdiri sendiri tapi muncul juga indikasi mineralisasi logam yang tersebar di sekitar manifestasi. Mineralisasi yang menghasilkan batuan ubahan bisa berfungsi sebagai penudung untuk menahan kebocoran fluida di reservoir kepermukaan. Sementara itu pada sistem hidrotermal fluida panas tersebut juga dapat membawa mineral logam dalam bentuk urat pada batuan untuk di endapkan bersama, akibat mengalami perubahan temperatur. Endapan scaling dari pengeboran panas bumi terkadang membawa beberapa mineral deposit seperti emas, tembaga dan sulfur. Contohnya Lapangan Lihir, Di Papua New Guinea sebagai contoh pengembangan panas bumi dengan potensi 55 MWe berdampingan dengan tambang emas.


Bila panas bumi diambil uapnya, sedangkan mineral diambil bijihnya. Keduanya bisa terbentuk di daerah yang sama. Kedua komoditas ini bisa bersinergi dalam pemanfaatannya, sesuai dengan peraturan pemerintah bahwa mineral yang diekspor harus memiliki nilai tambah. Sehingga dibutuhkan pembuatan smelter dimana suplai energi listrik dari panasbumi bisa menjadi salah satu solusinya.
Untuk memperkenalkan asosiasi panas bumi dan mineral logam yang ada di Indonesia kita bisa lihat di daerah Lainea-Bombana di Sulawesi Tenggara, Pamancalan-Cikotok di Jawa Barat, Gunung Pani di Gorontalo, P.Wetar, Wapsalit-G.Botak di Pulau Buru, P.Haruku, G. Ambang,  Wineru-Tambang Meares Soputan Mining (MSM) di Minahasa, Hu’u Daha - Tambang Sumbawa Timur Mining (STM), Jailolo-Gosowong (Newcrest). Tiga lokasi terakhir bahkan sudah melalui prosedur pengajuan survei pendahuluan dan eksplorasi (PSPE) yang berarti dalam kegiatannya diharuskan melakukan pengeboran eksplorasi baik slim hole ataupun standard hole. Sedangkan untuk daerah Pamancalan berada di kawasan bekas tambang Cikotok, Wapsalit dan Gunung Ambang wilayahnya masih dalam penataan pemerintah daerah. 
Jadi sebenarnya proses terbentuknya mineralisasi yang membawa berbagai jenis bijih dan mineral ekonomi saat ini merupakan sistem panas bumi di masa lampau, namun waktunya sudah terbentuk ribuan s.d jutaan tahun pada skala waktu geologi namun baru di eksploitasi saat ini. Sedangkan kehadirannya yang saling berdampingan dengan panas bumi karena masih adanya sisa aktifitas panas. Biasanya disekitar areal mineralisasi, temperatur reservoir sistem panas buminya tidak sebesar pada sistem vulkanik Kuarter.
Menariknya, dalam proses pengusahaannya nanti tentu bakal memperoleh dua keuntungan sekaligus untuk perhitungan keekonomiannya. Semoga saja kolaborasi antara pengembangan panas bumi di areal tambang bisa berlangsung dengan baik.
Eksplorasi mineral dan panas bumi  serta pemanfataannya seperti keluarga yang hidup rukun berdampingan, dengan tujuan yang sama : Pembangunan yang berkelanjutan untuk kesejahteraan Indonesia.


#panasbumidikawasantambang
#panasbumidanmineral PSDMBP
#panasbumi