Mineral Bukan Logam Dan Batuan Untuk Pendukung Ketahanan Pangan

MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN UNTUK PENDUKUNG KETAHANAN PANGAN

Sebagai negara agraris, Indonesia membutuhkan pasokan pupuk untuk peningkatan hasil pertanian. Dengan adanya program swasembada pangan oleh pemerintah maka kebutuhan pupuk akan lebih meningkat lagi.
Nutrisi penting yang dibutuhkan tanaman terpenuhi dari  kehadiran sekitar  13 jenis  mineral yang  terkandung di dalam tanah. Hanya saja ketersediaan nutrisi tersebut pada beberapa kondisi tanah tidak selalu lengkap. Berdasarkan tingkat kebutuhan tanaman, nutrisi  tanaman dapat dibagi menjadi dua,  nutrisi makro (macronutriens) dan nutrisi mikro (micronutriens). Nutrisi makro terbagi  menjadi dua, yaitu nutrisi primer dan nutrisi sekunder Nutrisi primer meliputi: nitrogen (N), fosfor (P), dan potasium (K). Ketiga unsur tersebut  dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar  untuk pembentukan protein dan akar serta memperkuat tubuh tanaman, sehingga  yang tersedia di dalam tanah seringkali tidak mencukupi kebutuhan tanaman.  Nutrisi sekunder meliputi: kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan belerang (S). Biasanya nutrisi ini cukup banyak di dalam tanah, namun di beberapa tempat misalnya pada tanah yang asam diperlukan tambahan Ca dan Mg. Semua kebutuhan nutrisi tambahan yang tidak tersedia di dalam tanah biasanya dipenuhi dari pemberian pupuk buatan.
Di Indonesia, kebutuhan unsur unsur nutrisi untuk pembuatan pupuk buatan dalam negeri, sebagian masih disupai dari produk impor, diantaranya kebutuhan kalium dan fosfat yang dibutuhkan dalam jumlah cukup besar untuk pembuatan pupuk NPK. Padahal di Indonesia banyak tersedia mineral non logam dan batuan yang memiliki kandungan unsur unsur yang dibutuhkan dalam industri pertanian. Jenis mineral dan batuan tersebut dikenal sebagai agromineral. Beberapa jenis agromineral diantaranya adalah batuan fosfat (pembawa P), leucit (pembawa K), dan batuan dolomit serta kieserit (pembawa Mg). Dalam perdagangan, pupuk magnesium dan kalsium alam diperdagangkan sebagai pupuk dolomit dan megakiserit. Pupuk dolomit murni diolah dari mineral dolomit, sedangkan megakiserit adalah pupuk yang murni dibuat dari batuan serpentinit dan batuan magnesit.
Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) beberapa tahun ini memfokuskan salahsatu kegiatan eksplorasinya untuk mengetahui  potensi  agromineral di Indonesia. Kegiatan eksplorasi agromineral yang berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk membantu menjamin pasokan bahan baku pupuk di Indonesia. Lebih jauh, bahan baku yang melimpah dapat mendukung ketersediaan pupuk yang murah dan membantu petani mendapatkan hasil panen yang memuaskan.
Berikut keterdapatan agromineral di Indonesia hasil penyelidikan PSDMBP (sumberdaya hipotetik): Leusit di Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur : 31,4 juta ton dan di Komplek Gunung Muria, Provinsi Jawa Tengah :  11,76 miliar ton
Batuan Fosfat di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh : 120.ribu ton, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat : 4,1 juta ton. Batuan Dolomit di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara : 3,8 miliar ton Kabupaten Lembata, Provinsi NTT : 262,5 juta ton dan Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh : 503,16 juta ton Kiserit di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh : 54 juta ton dan di Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan : 13 miliar ton.