Gmb Indonesia Selangkah Menuju Produksi

 GMB Indonesia Selangkah Menuju Produksi
 

 
Gas metana batubara (GMB) bersama sama dengan gas-gas lain seperti nitrogen, hidrogen dan CO2 adalah gas yang terbentuk selama proses pembatubaraan. GMB memiliki sifat seperti gas alam lainnya dan dapat digunakan sebagai sumber energi. Pembentukan GMB optimal  pada kedalaman sekitar 300 hingga 1000m. Pada kedalaman dangkal, gas tidak akan terakumulasi dengan baik, sedangkan jika terlalu dalam, kecilnya permeabilitas akan menyulitkan keluarnya gas dari lapisan batubara.

Pemanfaatan GMB sama dengan pemanfaatan gas alam biasa. GMB dapat dialirkan langsung ke rumah rumah penduduk melalui jaringan pipa sebagai sumber energi untuk memasak, dipasarkan dalam bentuk LPG maupun  digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Kadar emisi CO2 hasil pmbakaran GMB lebih kecil dari kadar CO2 hasil pembakaran batubara, sehingga GMB dikenal sebagai energi ramah lingkungan.
Berbeda dengan gas alam yang terbentuk pada batuan induk dan terakumulasi pada reservoar yang berbeda (konvensional), GMB terbentuk pada batubara yang bertindak baik sebagai reservoir maupun sebagai batuan induk (non konvensional). Perbedaan lainnya, jika gas alam konvensional bisa langsung diproduksi, GMB bisa diekstraksi keluar dari lapisan batubara setelah lapisan batubara terlebih dahulu mengalami proses dewatering. Sebagai reservoir, permeabilitas batubara juga kecil, sehingga bisa menyulitkan proses ekstraksi. Oleh karena itu dalam tahapan produksi, agar gas lebih mudah keluar, metoda fracturing  untuk memperbesar rekahan dalam batubara seringkali harus diaplikasikan.

Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa batubara Indonesia banyak berada pada kedalaman target CBM. Batubara tersebut memiliki ketebalan dan kandungan gas yang berada diatas cutoff nilai ekonomis minimum saat ini. Sebagian lokasi juga memiliki kandungan gas dalam kondisi saturasi, sehingga membutuhkan waktu dewatering yang lebih singkat. Secara umum semua karakteristik tersebut mengindikasikan bahwa GMB Indonesia layak untuk dikembangkan lebih lanjut.

Eksplorasi GMB di Indonesia telah berlangsung lebih dari satu dekade. Saat ini terdapat sekitar 31 WK GMB aktif yang beroperasi di Indonesia. Walaupun belum ada yang mencapai tahap produksi, satu WK telah mengajukan POD (plan of development), artinya jika disetujui bisa segera melakukan kegiatan produksi dan komersialisasi. Keberhasilan tersebut diharapkan diikuti oleh WK GMB lainnya.
Sebagai salahsatu instansi pemerintah yang memiliki kewenangan untuk melakukan kegiatan eksplorasi GMB, PSDMP bekerja untuk memberikan rekomendasi wilayah wilayah prospek GMB untuk pengembangan lebih lanjut dan juga menerbitkan data potensi sumberdaya GMB. Tercatat hingga tahun 2017 PSDMBP telah memberikan rekomendasi sebanyak 16 wilayah prospek GMB di Indonesia. Disamping pemberian rekomendasi wilayah prospek, PSDMBP juga menerbitkan jumlah sumberdaya GMB Indonesia. Jumlah tersebut dihitung dan dievaluasi dari hasil kegiatan eksplorasi swasta dan pemerintah. Jumlah sumberdaya GMB Indonesia tahun 2017 adalah sebesar 73 Tcf.

Melalui kerjasama yang baik antara pemerintah dan swasta, kerja keras dan cerdas, tidak lama lagi diharapkan  GMB akan berkontribusi terhadap pemenuhan energi Indonesia.