Eksplorasi Geokimia Untuk Menemukan Cebakan Mineral Logam

 Eksplorasi Geokimia Untuk Menemukan Cebakan Mineral Logam

Survei geokimia regional merupakan kegiatan awal yang dilaksanakan dalam tahapan eksplorasi mineral logam. Metode geokimia yang digunakan antara lain adalah pengambilan perconto endapan sungai aktif berukuran -80 mesh dan pengambilan konsentrat dulang untuk mendapatkan butiran mineral mineral berat. Perconto sedimen sungai dianalisis kimia untuk mendapatkan kandungan unsur-unsur jejak (trace element) yang terkait dengan cebakan mineral. Pengolahan data secara statistik hasil analisis kimia tersebut akan memberikan nilai anomali geokimia suatu unsur pada wilayah cakupan aliran sungai yang disebut sebagai daerah anomali. Daerah anomali ini akan menjadi target lokasi untuk penyelidikan lebih lanjut, baik survei geokimia dalam skala lebih rinci maupun dengan metode-metode survei lainnya.


Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) telah melakukan survei geokimia regional di beberapa daerah baik secara mandiri maupun dalam kerangka kerjasama teknik dengan negara lain, yang antara lain meliputi :

  • Pulau Sumatera: Kerjasama dengan British Geological Survey (BGS) pada tahun 1970-1990 dan dengan China Geological Survey (CGS) di Sumatera Barat dan Riau pada tahun 2011-2018.
  • Pulau Kalimantan: Kerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah pada tahun 1975-1982; Kerjasama dengan French Geological Survey (BRGM) di Kalimantan bagian utara pada tahun 1979-1982.
  • Pulau Sulawesi: Dilaksanakan oleh PSDMBP pada kurun waktu tahun 1985 sampai tahun 2000.
  • Pulau Jawa: Bagian selatan Jawa Barat oleh PSDMBP pada kurun waktu 1970 sampai 1975 dan kerjasama dengan JICA pada tahun 1995-1997; Bagian selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur dilaksanakan bersama JICA pada tahun 2001-2003.
  • Pulau Bali dan Nusa Tenggara Barat oleh PSDMBP pada tahun 2002-2004.
  • Nusa Tenggara Timur dikerjakan bersama BRGM pada tahun 1970.
  • Pulau bacan dan Pulau Obi dikerjakan bersama Institute for geoscience and natural Resources, Germany (BGR) pada tahun 1980-1984.
  • Pulau Halmahera dilakukan oleh PSDMBP pada tahun 2013-2018.

Selain survei geokimia regional, PSDMBP telah melakukan survei dalam skala lebih rinci  pada beberapa lokasi yang tersebar diseluruh Indonesia yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan prospeksi maupun eksplorasi untuk mendapatkan potensi sumberdaya mineral.

Data dan peta geokimia, baik dalam skala regional maupun lokal telah banyak membantu para pelaku usaha pertambangan  mineral didalam menentukan target dan pengajuan konsesi pertambangan. Dengan diberlakukanya UU no 9 tahun 2014 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, proses perijinan untuk mineral logam tidak lagi berdasarkan pengajuan namun melalui proses lelang. Ijin Usaha Pertambangan (IUP) diterbitkan dari hasil pelelangan Wilayah Ijin Usaha Pertambangan (WIUP). WIUP inilah yang harus dipersiapkan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM). Dengan kemampuan sarana dan sumberdaya manusia yang dimiliki, menjadi tantangan dan peluang bagi PSDMBP untuk menindaklanjuti hasil survei geokimia tersebut sampai menemukan daerah prospek cebakan mineral yang layak untuk dilelang.