Potensi Energi Alternatif Pada Lahan Rawan Terbakar

Gambut Indonesia :  
Potensi Energi Alternatif Pada Lahan Rawan Terbakar


Gambut merupakan lapisan organik di permukaan, yang terbentuk dari sisa-sisa  tumbuhan yang terawetkan dan  terakumulasi dalam lingkungan  asam, jenuh air, sedikit oksigen dan nutrisi (World Energy Council, 2013).  Dalam ilmu pertanian, gambut didefinisikan sebagai lapisan tanah yang kaya bahan organik (C-organik > 18% dengan ketebalan 50 cm atau lebih (Balitbang Pertanian, 2012). Dalam pengertian ilmu geologi, gambut merupakan cikal bakal batubara. Endapan material organik  sisa tumbuhan akan melalui tahapan penggambutan sebelum menuju proses pembatubaraan berikutnya.

Lahan gambut memiliki fungsi ekologis yang sangat penting yaitu diantaranya menjaga keanekaragaman hayati, sebagai penyimpan karbon, penghasil oksigen dan pengelolaan air. Pada kondisi alami, gambut menyimpan banyak air di saat musim hujan, dan melepaskan air secara perlahan-lahan pada saat musim kemarau. Ketika keseimbangan ekologisnya terganggu, kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan air menjadi tidak maksimal. Pada musim kemarau lahan gambut akan mengalami kondisi kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar. Api pada lahan gambut menjalar di bawah permukaan tanah secara lambat, sulit dideteksi dan menimbulkan asap tebal. Kondisi tersebut disebabkan karena gambut yang berasal dari sisa tumbuhan memiliki kandungan unsur C (karbon) yang tinggi, sehingga api di lahan gambut sulit dipadamkan dan bisa tetap terbakar pada waktu yang cukup lama (berbulan – bulan). Kebakaran lahan gambut juga berpotensi melepaskan gas metana dan dinitrogen oksida yang dianggap berdampak pada pemanasan global. Kapasitas gas-gas tersebut untuk memanaskan atmosfer adalah 25 kali (metana) dan 300 kali (dinitrogen oksida) lebih kuat daripada karbon dioksida.
    
Selain fungsi ekologis, gambut memiliki fungsi lainnya yaitu sebagai sumber energi seperti yang tertuang dalam Resolusi PBB No. 33/148 tanggal 20 Desember 1978 (United Nations Conference on New and Renewable Sources of Energy, 33rd Session) yang menyatakan bahwa gambut merupakan sumber energi tak terbarukan (non renewable energy). Kandungan karbon yang tinggi pada gambut mampu menghasilkan panas pada saat gambut dibakar, sehingga gambut diasumsikan sebagai salah satu sumber bahan bakar alternatif selain batubara, minyak dan gas bumi. Saat ini beberapa negara diantaranya Irlandia dan Finlandia sudah menggunakan gambut sebagai sumber energi  baik untuk pembangkit tenaga listrik, pemanas sentral dan juga sumber energi untuk industri.  Menurut kajian World Energy Council, (2010), gambut berketebalan 2 meter dengan luas 7.500 ha dapat menghasilkan listrik sekitar 120 MW selama 20 tahun.



Indonesia merupakan negara dengan lahan gambut yang luas . Luas lahan gambut di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 14 juta hektar, angka tersebut relatif cukup besar dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Sebagai perbandingan, 85% dari total lahan gambut yang tersebar di dunia terdapat di empat negara yaitu Amerika, Rusia, Kanada dan Indonesia.
 
Hingga tahun 2018, Pusat sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) telah melakukan kegiatan Ekplorasi dan Pemetaan Gambut pada 66 titik lokasi yang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Hasil kegiatan tersebut menunjukkan bahwa gambut Indonesia umumnya memiliki kandungan abu 2,13-4,19 %, kandungan sulfur 0,27-0,63 % dengan nilai kalori dapat mencapai 5.950 Kal/gr adb, setara dengan batubara lignit dan sub bituminus. Total sumberdaya gambut hasil penyelidikan PSDMBP hingga tahun 2018 adalah sebesar 10.323 juta ton. Masih banyak lahan gambut Indonesia yang belum terpetakan dan belum diketahui potensinya secara detail.
    
Hingga saat ini, gambut di Indonesia memang belum dimanfaatkan sebagai sumber energi terutama karena Indonesia memiliki beragam sumber energi yang lebih ekonomis untuk dikembangkan dibanding gambut. Walaupun demikian, gambut Indonesia memiliki potensi sumber energi yang layak untuk dipertimbangkan. Sebagai gambaran, umumnya sumber energi dengan nilai kalori 5.000 Kkal/Kg mampu menghasilkan 2 Kwh listrik. Dengan nilai  kalori rata-rata sebesar 4.150 Kkal/Kg, gambut Indonesia mampu menghasilkan 1,6 Kwh listrik. Dengan konsep hitungan tersebut, untuk mencukupi kebutuhan sumber energi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) kapasitas 100 Mw, hanya dibutuhkan sekitar 438 ribu ton gambut setiap tahunnya. Untuk kebutuhan 10 tahun, sumberdaya gambut yang dibutuhkan oleh PLTU berkapasitas 100MW adalah sekitar 4.3 juta ton gambut atau hanya sekitar 0,04% dari total sumberdaya gambut Indonesia.
    
Pada akhirnya, harus kita sadari bahwa Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat besar. Menjadi kewajiban kita bersama sebagai rakyat Indonesia untuk melestarikan, mengelola dan memanfaatkan kekayaan alam ini dengan penuh tanggung jawab. Saat ini, dengan fungsinya yang beragam, pengelolaan lahan gambut yang bijaksana memerlukan perubahan pendekatan dari prioritas sektor tunggal menuju strategi perencanaan menyeluruh terpadu yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memastikan bahwa pemanfaatan gambut untuk berbagai kegunaan bisa dimaksimalkan dengan tetap mempertimbangkan  dampak positif dan negatif secara keseluruhan.
    
PSDMBP, sebagai institusi pemerintah yang memiliki tupoksi  melakukan eksplorasi sumberdaya gambut, akan terus berupaya dalam menginventarisir, memetakan dan memberikan data-data mengenai sebaran gambut di Indonesia agar bisa dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan, utamanya untuk mendukung pemanfaatan lahan gambut yang bertanggungjawab dan mensejahtrakan seluruh rakyat Indonesia.