Underground Coal Gasification (ucg), Alternatif Lain Pemanfaatan Batubara Bawah Permukaan


Underground Coal Gasification (UCG)
Alternatif Lain Pemanfaatan Batubara Bawah Permukaan

Indonesia memiliki potensi sumber daya batubara yang cukup besar. Neraca sumber daya energi status Oktober 2018 menunjukkan sumber daya batubara Indonesia sebesar 164 milyar ton, sedangkan cadangan batubara sebesar 37 milyar ton. Data neraca batubara juga menunjukkan jumlah sumber daya batubara tambang dalam (deep seated coal), yaitu potensi batubara yang diperkirakan berada pada kedalaman lebih dari 100 meter di bawah permukaan sebesar 46,29 milyar ton.
 
Sebagian besar sumber daya batubara Indonesia merupakan batubara kalori rendah dan kalori sedang, atau pada peringkat lignit sampai subbituminus. Pemanfaatan batubara tersebut di Indonesia saat ini dilakukan dengan cara penambangan terbuka. Penambangan terbuka hanya dapat memanfaatkan batubara yang terdapat dekat dengan permukaan atau kedalaman kurang dari 100 meter dan tidak dapat memanfaatkan batubara yang berada pada kedalaman lebih dari 100 meter. Alternatif lain untuk memanfaatkan potensi batubara peringkat rendah adalah dengan cara gasifikasi batubara bawah permukaan (underground coal gasification/UCG) dengan memanfaatkan batubara yang berada pada kedalaman lebih dari 100 meter.  
 
UCG merupakan teknologi pemanfaatan batubara yang dilakukan melalui konversi batubara secara in-situ dengan cara menyuntikan udara atau oksigen melalui sumur injeksi untuk membakar lapisan batubara, yang kemudian dihasilkan gas untuk dialirkan melalui sumur produksi. Gas yang dihasilkan selanjutnya diolah menjadi bahan bakar dan bahan penggunaan industri kimia lainnya (Burton, dkk., 2006). Sebagian gas hasil gasifikasi  dapat dipergunakan sebagai bahan bakar stasiun pembangkit tenaga listrik dan sebagian lagi dapat dipergunakan sebagai bahan sintesis (syngas) bahan kimia, seperti hidrogen, metanol atau bahan kimia gas lainnya. UCG memiliki kelebihan karena menghasilkan bahan bakar gas yang lebih ramah lingkugan disamping memanfaatkan batubara bawah permukaan yang saat ini tidak ekonomis untuk ditambang. Kelemahannya, proses UCG berpotensi menyebabkan subsiden dan juga pencemaran bahan kimiawi pada air tanah. Untuk menghindari dampak negatif tersebut  aplikasi  metoda ini di lapangan harus dilakukan dengan hati hati dan melalui perencanaan AMDAL yang seksama.
 
Parameter dasar dalam penilaian potensi batubara untuk  UCG diantaranya adalah kedalaman batubara (>200 meter), ketebalan batubara (5-10 meter), karakteristik batubara (peringkat rendah, kadar abu+air < 60%), batuan pengapit lapisan batubara (memiliki permeabilitas yang rendah) dan sumber daya batubara (sesuai dengan target pemanfaatan dan jangka waktu pengoperasian) (Burton, dkk, 2006; Shafirovich, dkk, 2008, 2009; Imran, dkk., 2012; Madiutomo, 2014).
 
Di Indonesia saat ini, UCG masih dalam tahap riset dan ujicoba serta  belum dikembangkan pada tahapan komersial. Untuk mendukung pengembangan UCG di Indomesia, Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panasbumi telah melakukan kajian awal potensi batubara bawah permukaan Indonesia pada 64 lokasi, dengan tujuan salah satunya untuk dikonversi menjadi gas melalui metoda UCG. Hasil evaluasi menunjukan bahwa di Indonesia UCG sebaiknya diaplikasilan pada lapisan batubara sub bituminus yang berada pada kedalaman 200-300 meter, ketebalan >1 meter, yang paling baik antara 5-10 meter.
 
Hasil kajian PSDMBP di 64 lokasi batubara bawah permukaan Indonesia, mencatat potensi sumberdaya batubara untuk UCG terdapat di 54 lokasi dengan jumlah sumberdaya sebesar 12,7 Milyar ton (7,8 Milyar ton di Pulau Sumatera dan 4,9 Milyar ton di Pulau Kalimantan). Besaran sumberdaya batubara tersebut masih bisa terus bertambah jika kegiatan evaluasi dan eksplorasi terus dilakukan. PSDMBP terus bekerja untuk mengungkap potensi sumberdaya batubara Indonesia untuk berbagai kebutuhan.
 
#PSDMBPbekerjadeganhati
#UCG
#potensibatubara untuk UCG