Mineral Bukan Logam Penunjang Ekonomi Kreatif

MINERAL BUKAN LOGAM
PENUNJANG EKONOMI KREATIF

 


Istilah ekonomi kreatif pertama kali diperkenalkan oleh John Howkins pada Tahun 2001 dalam bukunya yang berjudul:  ?Creative Economy: How People Make Money From Ideas. Menurut definisi Howkins, ekonomi kreatif adalah ekonomi dimana gagasan (ide) seseorang merupakan input dan output yang sangat penting. Secara lebih luas dapat diartikan sebagai semua kegiatan ekonomi yang menjadikan kreativitas (kekayaan intelektual), budaya dan warisan budaya serta lingkungan sebagai tumpuan masa depan.


Cakupan ekonomi kreatif meliputi 16 subsektor yaitu, arsitektur; desain interior; desain komunikasi visual;  desain produk; film; animasi dan video; fotografi; kriya; kuliner; musik; fashion; aplikasi dan game developer; penerbitan; periklanan; televisi dan radio; seni pertunjukan; dan seni rupa (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, 2016).


Sumber daya geologi yang dapat digunakan untuk menunjang ekonomi kreatif lebih banyak terkait pada subsektor kriya (kerajinan). Keramik adalah salah satu hasil kerajinan yang menggunakan bahan baku mineral bukan logam dan batuan. Keramik dihasilkan dari pengolahan  mineral bukan logam seperti lempung, felspar, pasir kuarsa, dan kaolin dengan melalui tahapan pembakaran pada  suhu tinggi (sekitar 1.300 °C). Produk industri keramik diantaranya dimanfaatkan sebagai barang hiasan dan  peralatan rumah tangga.

Dalam mendukung sentra produksi penunjang ekonomi kreatif, bahan galian mineral bukan logam dan batuan merupakan potensi sumber daya geologi yang tepat karena mudah ditemukan dan diusahakan tanpa memerlukan modal yang besar dan waktu yang lama untuk melakukan eksplorasi. Selain itu mineral bukan logam dan batuan pada umumnya tidak memerlukan teknologi yang rumit dalam proses penambangan dan pengolahannya. Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi sejak tahun 2000, sudah melakukan kegiatan penyelidikan dan kajian terkait potensi mineral bukan logam dan batuan (feldsfar, kaolin, pasir kuarsa dan lempung) yang banyak digunakan dalam industri kerajinan keramik. Kegiatan penyelidikan dilakukan dari tahapan survei pendahuluan sampai dengan eksplorasi dan menghasilkan data lokasi keterdapatan bahan galian mineral bukan logam dan batuan beserta jumlah perkiraan sumberdayanya.


Berdasarkan data Neraca Mineral Bukan Logam tahun 2018 tercatat bahwa negara kita memiliki sumber daya felspar sebesar 11.215.156.281 ton, sumber daya kaolin sebesar 1.422.745.688 ton, sumber daya pasir kuarsa sebesar 19.297.732.000 ton, dan sumber daya lempung sebesar 100.332.940.609 ton. Komoditi-komoditi tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, sehingga industri ekonomi kreatif di Indonesia khususnya industri kriya memiliki potensi yang besar karena didukung dengan sumber daya geologi yang cukup melimpah.