Kontribusi Psdmbp Dalam Pengungkapan Potensi Batubara

Batubara merupakan salah satu sumber energi yang telah lama diandalkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri Indonesia. Dengan jumlah sumber daya cukup signifikan didukung biaya eksplorasi dan eksploitasi yang relatif murah, saat ini batubara adalah sumber energi yang paling siap  untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dibanding sumber enegi lainnya. Lebih dari 50% kebutuhan listrik Indonesia saat ini juga disediakan oleh pembangkit listrik tenaga batubara (KESDM, 2018). Melalui ekspor, batubara sejak lama juga diandalkan sebagai penyumbang devisa negara.

Dari segi pemanfaatan, disamping digunakan secara langsung sebagai sumber energi pada pembangkit tenaga  listrik, batubara juga memiliki potensi energi lainnya. Proses pembatubaraan misalnya, menghasilkan gas metana batubara (GMB/CBM) yang  dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi setara dengan gas alam lainnya. Batubara juga dapat dikonversi menjadi gas (gasifikasi batubara) ataupun dikonversi menjadi hidrokarbon cair (liquifaksi batubara). Jika potensi GMB  Indonesia telah mulai dieksplorasi, potensi gasifikasi dan pencairan batubara masih dalam tahapan riset.

Di tingkat hulu, pemerintah melalui Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, Panas Bumi - Badan Geologi - KESDM terus berupaya untuk mengungkap potensi sumber daya batubara, gambut dan GMB melalui kegiatan penelitian, survei dan eksplorasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas data geosain batubara guna mendukung pemanfaatan dan pengusahaan batubara di tingkat hilir.

PSDMBP hingga saat ini berperan aktif dalam pemetaan potensi, penyusunan neraca, dan melakukan evaluasi data untuk penyiapan Wilayah Ijin Usaha Pertambangan Batubara (WIUP) dan Wilayah Kerja (WK) GMB. Permintaan evaluasi datang dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Direktorat Jenderal Migas, dan Pemerintah Daerah. Hasil kegiatan eksplorasi dan evaluasi data jika memenuhi kriteria akan diusulkan menjadi WIUP dan/atau WK baru, dalam hal ini PSDMBP senantiasa berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara dan Direktorat Jenderal Migas serta SKK Migas untuk memberikan usulan WIUP dan WK baru.
Dalam kurun waktu 5 tahun (2014-2018) kegiatan eksplorasi PSDMBP telah menghasilkan 63 rekomendasi keprospekan batubara, gambut dan GMB, 52 rekomendasi WIUP batubara dan 7 rekomendasi WK GMB. Kegiatan ekspolorasi PSDMBP dilakukan pada wilayah baru yang belum pernah dieksplorasi (49 lokasi)  dan wilayah potensial hasil survei sebelumnya atau wilayah potensial usulan Pemda yang membutuhkan eksplorasi  lanjut  untuk peningkatan status sumber daya (8 lokasi). Hingga saat ini terdapat 304 IUP batubara yang berada pada lokasi hasil kegiatan eksplorasi PSDMBP. Pada tahun 2018, pemerintah melalui KESDM telah menetapkan harga KDI 6 blok WIUP batubara dan melelang 1 blok WIUPK yang telah dievaluasi oleh PSDMBP.
 


Secara umum, potensi batubara Indonesia dapat dibagi menjadi potensi batubara permukaan (kedalaman 0 s.d. 100 meter) dan potensi batubara bawah permukaan (minimal kedalaman 100 meter). Berdasarkan kualitas, Indonesia memiliki batubara dari kualitas rendah (nilai kalori 7100 kal.gr). PSDMBBP adalah institusi yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan data neraca sumber daya dan cadangan batubara Indonesia yang dimutakhirkan setiap tahunnya. Nilai neraca ini digunakan untuk pengambilan berbagai kebijakan pemerintah terkait pemanfaatan dan pengusahaan batubara baik untuk kepentingan inverstasi maupun pencadangan strategis nasional.
Besar sumber daya batubara Indonesia sampai dengan Desember tahun 2018 (tercatat dari 183 area hasil kegiatan PSDMBP dan 1246  hasil kegiatan swasta)  adalah sebesar 151.399 MT, terdiri atas sumber daya hipotetik sebesar 4.32 MT, tereka 44.07 MT, tertunjuk  52.24 MT dan terukur sebanyak 50.76 MT. Sedangkan jumlah cadangan  batubara untuk tahun 2018 adalah sebesar 39.890,95 juta ton terdiri atas 17.56 cadangan terkira dan 22.33 MT cadangan terbukti. Sebagai gambaran, dengan asumsi angka produksi batubara yang ditetapkan pemerintah  sebesar 485 juta ton pada tahun 2018, jumlah cadangan sebesar 39 MT akan bertahan hingga sekitar 82 tahun ke depan. Kegiatan eksplorasi rinci dapat merubah status sumber daya menjadi cadangan sehingga umur pemanfaatan batubara Indonesia  juga bisa terus meningkat.
Berbeda dengan batubara permukaan, batubara bawah permukaan Indonesia masih sedikit sekali dieksplorasi, dan hampir seluruh data  sumber daya batubara bawah permukaan yang ada saat ini dihasilkan dari kegiatan eksplorasi  dan evaluasi PSDMBP. Hingga  November 2018, potensi sumber daya batubara bawah permukaan Indonesia tercatat sebesar 43 MT tersebar di Sumatera sebanyak 24 lokasi (22,17 MT) dan di Kalimantan sebanyak 40 lokasi (43,08 MT). Batubara bawah permukaan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan antara lain gasifikasi bawah permukaan (Underground Coal Gasification / UCG), pengembangan gas metana batubara (Coalbed Methane/ CBM) atau untuk tambang dalam (underground coal mine). Untuk memaksimalkan pemanfaatan batubara,  PSDMBP juga telah menyusun alokasi pemanfaatan potensi batubara bawah permukaan Indonesia. Pertimbangan alokasi pemanfaatan didasarkan pada beberapa parameter dasar yaitu ketebalan dan kedalaman lapisan serta kualitas batubara. Untuk kepentingan pengembangan batubara bawah permukaan, kegiatan eksplorasi Pusat Sumber daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi di 64 lokasi hingga saat ini mencatat jumlah sumber daya batubara sebesar 21,78 MT untuk tambang dalam, 12,5 MT untuk UCG dan 8,6 MT untuk GMB. Potensi GMB Indonesia yang tercatat pada tahun 2018 juga cukup signifikan yaitu sebesar 84,39 triliun cubic feet (Tcf) atau setara dengan 15,03 miliar barel minyak. Perlu dicatat kegiatan eksplorasi yang terus dijalankan tentu saja akan mampu mengungkap lebih banyak potensi batubara bawah permukaan Indonesia.

Lain halnya dengan batubara, gambut di Indonesia belum dimanfaatkan sebagai sumber energi. Potensi gambut Indonesia juga di beberapa pulau seperti Sumatera dan Kalimantan sangat besar. Tercatat sebanyak 67 lokasi yang memiliki sumber daya gambut hasil penyelidikan PSDMBP sebesar 13.213,79 juta ton gambut kering dengan nilai kalori berkisar dari 1.405 – 5.950 kal/g (adb).
Untuk mendukung program peningkatan nilai tambah batubara, PSDMBP juga melakukan kegiatan evaluasi potensi batubara metalurgi. Batubara metalurgi adalah jenis batubara dengan karakteristik tertentu yang digunakan dalam industri metalurgi. Jenis batubara tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi daripada batubara termal. Di Indonesia, batubara metalurgi masih dikategorikan sebagai bagian dari deposit atau hasil tambang batubara termal kalori tinggi – sangat tinggi serta pengusahaannya belum diatur dengan detail.  Potensi penghasilan negara yang lebih besar bisa didapat jika batubara termal berhasil dikarakterisasi potensi metalurginya dan dipasarkan sebagai batubara metalurgi. Screening yang dilakukan oleh PSDMBP terhadap 173 IUP batubara kalori tinggi menunjukkan 22 IUP di Sumatra dan 46 di Kalimantan terindikasi memiliki karakteristik dasar batubara metalurgi dengan jumlah sumber daya tereka 1.56 milyar ton. Jumlah tersebut bisa berubah jika data parameter uji tersedia lebih lengkap. Hasil uji petik dan uji lab di 3 lokasi di Sumatra Barat menunjukan bahwa conto batubara di lokasi tersebut  termasuk high volatile PCI - semi soft coking coal. Masih banyak wilayah yang memiliki batubara kalori tinggi yang belum tereksplorasi dan belum dievaluasi karakteristik metalurginya.
Kegiatan lain yang dilakukan dalam rangka mendukung peningkatan nilai tambah batubara adalah kegiatan evaluasi potensi logam tanah jarang dalam batubara. Logam tanah jarang adalah jenis logam yang  sangat dibutuhkan dalam industri 4.0 termasuk industri batrei listrik dan memiliki harga jual cukup tinggi. Pada tahun 2018 dilakukan evaluasi potensi logam tanah jarang pada batubara cekungan Sumatra Selatan. Hasil evaluasi menunjukkan indikasi keterdapatan logam tanah jarang yang potensial dikembangkan pada batubara Sumatra Selatan.
Kegiatan eksplorasi batubara, gambut dan GMB di PSDMBP di dukung oleh peralatan eksplorasi yang handal meliputi peralatan pemboran batubara (100-800m), peralatan geofisika (seismik refleksi, georadar, geolistrik), peralatan logging serta laboratorium penguji batubara yang telah terakreditasi KAN dengan kemampuan untuk melakukan analisis kimia batubara (proksimat, ultimat,  nilai kalori, kadar sulfur, komposisi abu) dan analisis fisika batubara (petrografi batubara, berat jenis batubara, Hardgrove Grindability Index, Crucible Swelling Number).  Sementara untuk eksplorasi GMB, PSDMBP memiliki mobile laboratory dilengkapi water bath dan perangkat gas chromatograph untuk mengukur kandungan gas dan menganalisis komposisi gas batubara secara insitu di lapangan.  

Dengan potensinya yang besar, batubara Indonesia masih bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia di masa yang akan datang. Kegiatan eksplorasi diharapkan mampu meningkatkan jumlah sumber daya dan cadangan batubara Indonesia untuk berbagai kepentingan sementara kegiatan evaluasi diharapkan bisa membantu meningkatkan nilai tambah batubara.