Pengeboran Eksplorasi Batubara

PENGEBORAN EKSPLORASI BATUBARA
 
Kegiatan eksplorasi batubara, khususnya pada tahapan eksplorasi umum dan eksplorasi rinci erat kaitanya dengan aktivitas pengeboran. Kegiatan pengeboran dalam ekplorasi batubara ini secara umum bertujuan untuk mengetahui data geologi bawah permukaan (subsurface) nya, diantaranya urutan stratigrafi batuan, posisi kedalaman batubara, ketebalan batubara, untuk mendapatkan sampel batubara untuk kemudian dianalisis kualitasnya, termasuk untuk kajian tertentu seperti geologi teknik ataupun geohidrologi yang bertujuan untuk mendapatkan data geologi teknik dan muka air tanah. Tujuan lain dari kegiatan pengeboran ini adalah untuk menambah titik informasi yang berguna untuk meningkatkan kelas sumberdaya dan cadangan serta menambah keyakinan geologi.
 
Dalam artikel ini kita akan membahas metode pengeboran yang sering digunakan dalam eksplorasi batubara, berdasarkan cara pengambilan sampelnya. Metode tersebut adalah Open Hole, Full core, dan Touch Core.
  • Open Hole, merupakan teknik pengeboran dengan melubangi area tertentu sampai kedalaman yang telah direncanakan. Pengambilan sampelnya berdasarkan hasil potongan batuan dari tiap gerusan mata bor per Run atau per pipa bor biasanya per 1,5 meter yang biasa disebut cutting (gambar 1). Cutting akan di bawa naik ke atas dengan media air bercampur lumpur pengeboran.
  • Full Core, merupakan teknik pengeboran yang dilakukan sampai kedalaman yang direncanakan dengan mengambil sampel berupa inti (core) batuan tanpa dilakukan pengeboran open hole. Sampel inti batuan (gambar 2) ini bentuknya seperti tabung atau jika kita analogikan pada makanan yaitu seperti lemang dengan ukuran sesuai dengan pipa pengeboran yang digunakan. Pengambilan sampel ini pun biasanya per 1,5 meter atau 3 meter tergantung panjang pipa yang digunakan.
  • Touch Core, merupakan teknik pengeboran yang awalnya dilakukan dengan teknik open hole dan ketika mata bor menyentuh lapisan batubara, yang terindikasi dari lubang bor dengan keluarnya sample cutting batubara dan air pengeboran berwarna coklat tua-hitam (gambar 3) akibat batubara tergerus, maka pomboran akan distop putaran bornya. Selanjutnya, stang bor diangkat dan mata bor akan diganti dengan jenis mata bor seperti pada full core untuk pengambilan sample inti batuan.
Pada kegiatan eksplorasi batubara yang membutuhkan banyak titik pengeboran, teknik pengeboran yang paling banyak dilakukan adalah teknik open hole dikarenakan selain lebih murah dari segi biaya, teknik inipun tergolong lebih cepat dibanding dengan teknik yang lainnya. Akan tetapi penentuan posisi kedalaman dan ketebalan lapisan batubara dengan teknik open hole  kurang akurat  jika dibandingkan teknik full core. Untuk lebih meningkatkan akurasi posisi kedalaman dan ketebalan lapisan batubara,  kegiatan pengeboran open hole dalam eksplorasi batubara  biasa dibarengi dengan kegiatan logging geofisika (akan kita bahas pada artikel selanjutnya).

Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi selama ini telah melakukan kegiatan pengeboran untuk ekplorasi batubara dan Gas Metana Batubara (GMB) atau Coalbed Methane (CBM) di berbagai wilayah negeri ini. PSDMP memiliki peralatan pendukung pengeboran diantaranya Koken SD-3C (Kapasitas 50 meter), Koken OE - 8 BH 1 (Kapasitas 100 meter), Jacro TDZ 200 (kapasitas 150 Meter), Atlas Copco CS 10 (kapasitas 800 meter) dan Atlas Copco CS 14 (Kapasitas 1000 meter).
 

Gambar 1. Sampel cutting dari pengeboran open hole. (sumber gambar : www.mintecabadi.com)
 

Gambar 2. Sampel inti (core) batuan hasil pengeboran full core. (hasil pengeboran pada kegiatan Eksplorasi Umum Batubara daerah Kuala Kuayan)
 

Gambar 3. Air lumpur pengeboran berwarna coklat tua-hitam yang menandakan mata bor telah menyentuh lapisan batubara (berwarna hitam karena bercampur dengan gerusan dan cutting batubara), dalam Eksplorasi GMB/CBM ini merupakan tanda agar tim bersiap-siap untuk mengambil sampel inti batuan untuk dilakukan pengukuran kandungan gasnya.