Potensi Batubara Metalurgi Indonesia

POTENSI BATUBARA METALURGI INDONESIA
 
Hai sobat psdmbp, tahukah sobat bahwa kebutuhan metallurgical coal atau yg selama ini dikenal juga dengan coking coal di Indonesia semakin meningkat dengan banyaknya kebutuhan baja dan pembangunan smelter. Batubara metalurgi ini memang menjadi komponen penting dalam proses-proses yang ada di pabrik pembuatan baja dan smelter tersebut. Jika eksplorasi dan pengembangan batubara termal di Indonesia sudah berjalan sejak akhir 1970an, Batubara metalurgi geliatnya baru di mulai intensif sejak tahun 2010an. Hal tersebut dikarenakan sempat ada perdebatan tentang ada tidaknya batubara metalurgi atau batubara kokas di Indonesia. Selain itu, saat ini diketahui juga bahwa lokasi keberadaan batubara metalurgi di Indonesia terbilang jauh di pedalaman sehingga proses transportasinya terbilang sulit di masa lalu. PSDMBP sejak tahun 2018 lalu mencoba mengkaji potensi batubara metalurgi yang ada di Indonesia dan di tahun 2019 bekerja sama dengan Direktorat Jendral Minerba, mencoba meng “karakterisasi potensi batubara metalurgi di Indonesia”. Secara umum hasil kegiatan ini adalah terdapat sekitar 137 lokasi indikasi batubara metalurgi di Indonesia, 18 diantaranya sudah dilakukan pembuktian dan terbukti merupakan batubara metalurgi. Total sumberdaya yang di indikasi merupakan batubara metalurgi berjumlah 8,66 Milyar Ton dan Total Cadangannya 1,86 Milyar Ton. Berdasarkan karakteristiknya batubara metalurgi di Indonesia dapat digolongkan kedalam PCI Coal, Semi Soft Coking Coal dan Hard Coking Coal.
Hari Selasa Tanggal 10 Desember 2019 kemarin, bertempat di Bandung Barat diadakanlah Forum Group Discussion (FGD) dengan tema di atas. FGD tersebut dihadiri pula oleh para praktisi di bidang batubara metalurgi diantara yang hadir adalah para badan usaha yang meyakini batubara mereka merupakan batubara metalurgi (PT. Adaro Metcoal, PT. Maruda Graha Mineral, PT Suprabari Mapanindo Mineral, PT. Cokal Indonesia, dll.), badan usaha di bidang uji laboratorium untuk batubara metalurgi (PT Geoservices) dan para akademisi (ITB, UNPAD, UGM dan Trisakti). Dalam FGD tersebut diisi juga dengan presentasi dengan judul sebagai berikut :
  1. Isu Strategis, Potensi Batubara Metalurgi Indonesia oleh Rita Susilawati (PSDMBP)
  2. Peluang dan Tantangan Pengusahaan Batubara Metalurgi Kokas oleh Cecep M. Yasin (Ditjen Minerba)
  3. Hasil Kegiatan Karakterisasi Potensi Batubara Metalurgi Indonesia oleh Eska P. Dwitama (PSDMBP)
  4. Uji Kualitas Batubara Metalurgi (Coking Coal) oleh Alexander Senaputra (PT Geoservices)
  5. Kompatabilitas Kokas Dalam Negeri Dengan Penerapan Teknologi Pengolahan dan Pemurnian di Indonesia oleh Edy Sanwani (ITB)
  6. Sejarah Eksplorasi Adaro MetCoal (AMC) oleh Setiawan (PT Adaro MetCoal)
  7. Global and Indonesian Metallurgical Coal Market Review oleh Nyoman Oka (PT Adaro Metcoal)
Dalam diskusi yang panjang dan menarik, dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya, Indonesia terbukti memiliki potensi batubara metalurgi, Pendataan potensi batubara metalurgi harus tetap dilakukan dan dilanjutkan, Lokasi batubara metalurgi yang bisa dibilang jarang dan jauh menjadi tantangan eksplorasi dan pengembangannya. Batubara Metalurgi yang ada di Indonesia dapat juga digunakan untuk kebutuhan dalam negeri meskipun tidak seluruhnya karena memang penggunaan batubara metalurgi di hampir seluruh dunia di blending untuk mendapatkan bahan yang dibutuhkan, Karakteristik batubara metalurgi di dunia berbeda-beda dan memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing, ini juga yang menjadi dasar bahwa batubara metalurgi Indonesia juga dibutuhkan di Dunia.
Semoga kedepannya eksplorasi dan pengembangan batubara metalurgi di Indonesia semakin maju.