Penyelidikan Terpadu Daerah Panas Bumi Oma-haruku, Provinsi Maluku

PENYELIDIKAN TERPADU DAERAH PANAS BUMI
OMA- HARUKU, MALUKU

Dikdik Risdianto, Arif Munandar, Dedi Kusnadi

Kelompok Program Penelitian Panas Bumi

S  A  R  I

 

Daerah panas bumi Pulau Haruku secara administratif berada di wilayah Kecamatan Pulau Haruku,  Kabupaten Maluku Tengah, secara geografis berada antara 3o 30Â’ 38,88” - 3o 38Â’ 14,64Â’Â’ LS dan 128o 23Â’ 54,24”– 128o 34Â’ 40,8” BT.
Morfologi daerah penyelidikan tersusun oleh perbukitan landai hingga perbukitan terjal. Morfologi dataran tinggi berada di sekitar bagian tengah Pulau Haruku di sekitar Gunung Huruano yang telah mengalami deformasi kuat.
Batuan vulkanik termuda adalah produk Gunung Huruano dan Noni yang berumur Tersier (Pliosen Tengah) dengan kompososi lava andesit. Struktur sesar normal Oma yang berarah Barat Daya – Timur Laut merupakan sesar yang berperan besar akan munculnya manifestasi air panas di daerah Oma.
Manifestasi panas bumi di daerah penyelidikan terdiri dari 7 lokasi manifestasi yang muncul kepermukaan berupa air panas, berada di sekitar kampung Oma dengan suhu tertinggi 100°C bertipe klorida dengan PH netral.Lapisan reservoir di daerah diperkirakan ini berada pada kedalaman > 500 m berdasarkan ketebalan dari batuan vulkanik yang menyusun Pulau Haruku. Temperatur fluida dalam reservoir berdasarkan data pengukuran geothermometer SiO2 dan NaK memperlihatkan bahwa suhu reservoir dapat mencapai 240 °C dengan nilai rata-rata sekitar 225 °C.  
Lapisan reservoir ini diperkirakan ditutupi oleh lapisan penudung yang bersifat tidak poros pada kedalaman < 500 m.Dengan asumsi luas dari daerah prospek sekitar 4 km2 maka potensi energi panas bumi pada tingkat kelas sumber daya hipotetis di daerah Pulau Haruku adalah 28 MWe.

I. Pendahuluan
Sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sangatlah beragam dari mulai batubara, minyak dan gas bumi, mineral dan energi panas bumi. Selain cadangan yang sangat besar di Indonesia,  panas bumi merupakan energi yang ramah lingkungan (environment friendly) dan relatif kompetitif untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Apalagi bagi daerah yang memiliki keterbatasan sarana dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik.
    Penyelidikan tahap rinci dengan metode geologi, geokimia dan geofisika secara terpadu oleh Pusat Sumber Daya Geologi di daerah panas bumi Pulau Haruku merupakan realisasi dari program kerja Kelompok Kerja  Panas Bumi, Pusat Sumber Daya Geologi tahun anggaran 2006.
1.1. Letak dan Posisi
   Daerah survey terpadu berlokasi di wilayah Pulau Haruku yang secara administratif berada di dalam wilayah Kecamatan P. Haruku, yang berpusat di Pelauw, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Luas daerah penyelidikan adalah  12 x 13 km2 atau ± 150 km2, dengan posisi geografis antara 3o 30Â’ 38,88” - 3o 38Â’ 14,64Â’Â’ LS dan 128o 23Â’ 54,24”– 128o 34Â’ 40,8” BT  atau 433100 mT - 452800 mT dan 9598100 mU – 9612200 mU pada sistem UTM zone 52, belahan bumi selatan (Gambar 1).

II. Hasil Penyelidikan
2.1. Geologi
  2.1.1. Morfologi
Morfologi daerah penyelidikan dibagi menjadi lima satuan morfologi, dengan penamaan diambil berdasarkan morfometri dari bentang alam, yaitu:  Satuan morfologi pedataran, Satuan morfologi perbukitan landai, Satuan morfologi perbukitan bergelombang, Satuan morfologi perbukitan curam dan Satuan morfologi perbukitan terjal.
  2.1.2. Litologi
  Litologi daerah penelitian disusun berdasarkan ciri dan karakteristik batuan, kenampakan di lapangan dengan memperhatikan prinsip volkanostratigrafi dari hasil pemetaan lapangan (Gambar 2). Litologi di daerah penelitian dikelompokkan menjadi enam satuan batuan dengan urutan dari tua ke muda yaitu:
 1. Satuan aliran piroklastik tua (TBx)
   Satuan ini tersebar di bagian barat dan utara daerah penyelidikan menempati 0.5 % dari luas daerah penyelidikan. Satuan ini merupakan aliran piroklastik berwarna abu-abu muda sampai kecoklatan, komponen berupa kuarsit berwarna putih kecoklatan, keras dan membentuk foliasi, tufa berwarna putih kecoklatan dengan butiran kasar dan andesit berwarna abu-abu tua, porfiritik dan keras, terdapat mineral plagioklas, piroksen dan amfibol. Satuan ini ditemukan hanya di beberapa tempat dengan penyebaran yang tidak merata dan tidak diketahui sumber alirannya. Satuan inidiperkirakan berumur Tersier danditindih secara tidak selaras oleh Satuan Aliran Lava Noni dan Huruano.
 2. Satuan Aliran Lava Huruano 1 (TpLH1)
  Satuan ini tersebar di bagian barat daya sekitar desa Oma dengan luas sekitar 1,1 % dari luas daerah penyelidikan. Satuan ini merupakan aliran lava dasit berwarna abu-abu muda sampai kehitaman, porfiritik, vesicular dan keras tersusun oleh mineral plagioklas, kuarsa, piroksen, biotit dan ampibol. Struktur lava yang terbentuk berupa pillow lava (lava bantal) dan kekar – kekar yang cukup kuat dengan urat-urat yang terisi oleh kuarsa, hal tersebut menunjukan satuan ini diendapkan di bawah permukaan laut, singkapan banyak ditemukan di sekitar pesisir pantai Oma. Ketebalan satuan ini dipermukaan sampai ± 2 m. Satuan ini berselingan dengan breksi monomik berwarna kehitaman dengan komponen lava andesit berukuran kerikil sampai kerakal, fragmen berupa andesit, keras dan terkekarkan tertindih secara tidak selaras dengan satuan batu gamping. Sumber alirannya diperkirakan dari kerucut G.Huruano yang berada di tengah pulau dengan arah aliran ke barat daya hingga ke selatan. Satuan ini diperkirakan berumur Pliosen.
  3. Satuan Aliran Lava Huruano 2 (TpLH2)
  Satuan ini tersebar di bagian tengah hingga ke selatan dengan luas sekitar 15 % dari luas daerah penyelidikan. Satuan ini merupakan aliran lava andesit berwarna abu-abu tua sampai kehitaman, porfiritik, vesicular dan keras tersusun oleh mineral plagioklas, piroksen, dan ampibol. Struktur lava berupa sheeting joint ditemukan di Wai Panas. Satuan ini tertindih secara tidak selaras dengan satuan batu gamping. Air panas dengan suhu yang tinggi ( ± 100°C) ditemukan pada satuan ini pada gosong pasir. Sumber satuan ini diperkirakan dari kerucut G.Huruano yang berada di tengah pulau dengan arah aliran ke barat daya hingga ke selatan.
Berdasarkan data pentarikan jejak belah (fission track) pada mineral zircon diperoleh umur batuan sekitar 3,5 ± 0,2 juta tahun atau sekitar Pliosen Awal. Tidak diketahui kontak antara satuan ini dengan satuan breksi tufa.

  •  Satuan Aliran Lava Noni 1 (TpLN1)

  Satuan ini tersebar di bagian tengah, barat  dan utara, dengan luas sekitar 1.2 % dari luas daerah penyelidikan. Satuan ini merupakan aliran lava andesit berwarna abu-abu tua sampai kehitaman, porfiritik, keras dibeberapa lokasi masih bisa terlihat mineral plagioklas, piroksen, biotit, tersilisifikasi kuat terutama di sekitar Wai Ira dan Wai Makelee. Batuan juga mengalami alterasi berupa kaolin seperti ditemukan di sekitar air terjun di daerah batukuning (G.Haha). disamping itu terdapat urat-urat kecil yang terisi mineral kuarsa. Ketebalan satuan ini dipermukaan sampai ± 10 m. Di daerah Wai Sue satuan ini tertindih secara tidak selaras dengan satuan batu gamping dan di daerah Wai Ira ditemukan menindih satuan piroklastik tua. Sumber alirannya diperkirakan dari kerucut G.Noni yang berada di tengah pulau dengan arah aliran ke barat hingga utara.

  •  Satuan Aliran Lava Noni 2 (TpLN2)

   Satuan ini tersebar di bagian tengah lokasi penyelidikan, dengan luas sekitar 19,8 %  daerah penyelidikan. Satuan ini merupakan aliran lava andesit berwarna abu-abu muda, afanitik, vesicular dan keras dibeberapa lokasi masih bisa terlihat mineral plagioklas dan piroksen. Struktur massif ditemukan di sekitar G.Antomoi. Ketebalan satuan ini dipermukaan mencapai 15 m. Di daerah Antomoi satuan ini tertindih secara tidak selaras dengan satuan batu gamping dan di daerah Wai Mimi ditemukan menindih satuan piroklastik tua. Sumber alirannya diperkirakan dari kerucut G. Noni yang berada di tengah pulau dengan arah aliran ke barat hingga utara. Satuan ini diperkirakan berumur Pliosen.

  •  Satuan Batugamping (QGt)

    Satuan batugamping ini tersebar mengelilingi Pulau Haruku kecuali pada daerah di ketinggian < 300 amsl dengan luas sekitar 60 % daerah penyelidikan. Batugamping terumbu berwarna putih kecoklatan keras dan pejal, berongga, tersusun  oleh mineral kalsit dan karbonatan, terdapat koral dalam jumlah banyak dan tumbuh menyisip pada lembah-lembah antar bukit. Batugamping ini menindih satuan dibawahnya yang berumur lebih tua. Di beberapa tempat seperti di daerah kailolo ditemukan batugamping yang telah terkekarkan serta memperlihatkan struktur rongga-rongga yang sebagian telah terisi oleh mineral kalsit. Melihat dari bentuk rangkanya yang masih repatif utuh, serta proses rekristalisasi kalsit yang belum intensif, dapat disimpulkan bahwa satuan batu gamping terumbu ini masih sangat muda ( Kuarter – Recent ).
7. Alluvium (Qal)
   Endapan alluvium terdapat di beberapa daerah di pesisir pantai atau di muara sungai atau menempati sekitar 2,4 % luas seluruh daerah penyelidikan. Tersusun oleh pasir, lempung, koral dan bongkahan berupa material lepas.
8. Batuan Ubahan
  Batuan ubahan terjadi akibat adanya interaksi fluida hidrothermal dengan batuan, keberadaan batuan  ubahan menandakan adanya aktifitas hidrothermal, baik masih aktif atau tidak (fosil ). Di lokasi penyelidikan terdapat beberapa tempat yang telah mengalami ubahan, diantaranya Way Ira hulu di sebelah barat, Way  Marakee hulu, Way Lapia hulu di sisi sebelah utara, Way Panas di sisi sebelah selatan. Semua proses ubahan di lokasi-lokasi tersebut sudah tidak aktif ( fosil ). Jenis batuan ubahan didominasi oleh silisifikasi dan mineral lempung,  Proses silisifikasi terjadi akibat adanya fluida hidrothermal yang bersifat netral yang jenuh mineral silika, dari hasil analisa PIMA menunjuk mineral ubahan lempung didominasi  oleh Montmorilonite, Illite dan Haloysite. Mineral ubahan yang bersifat lempung terjadi akibat adanya interaksi fluida hidrothermal yang bersifat asam (pH rendah) dengan batuan induk. Dari dua tipe ubahan diatas dapat diinterpretasikan bahwa paling sedikit terdapat dua tipe fluida yang pernah berinteraksi dengan batuan induk, yang pertama fluida bersifat netral (pH mendekati 7) yang jenuh silika, menyebabkan proses silisifikasi pervasive disusul fluida bersifat asam (pH rendah) yang menyebabkan pembentukan mineral ubahan lempung.
  2.1.3. Struktur Geologi
   Berdasarkan pengamatan kelurusan morfologi pada citra landsat dan peta topografi, dikompilasi dengan hasil pengamatan di lapangan, struktur geologi di daerah penelitian didominasi  sesar dan kekar-kekar. Struktur sesar terdiri dari Sesar Geser Way Ira, Sesar Geser Marakee, Sesar Normal G. Keramat, Sesar Normal Oma dan Sesar Normal Haruku. Sedangkan kekar-kekar terdiri dari kekar tektonik dan kekar primer yang terbentuk akibat proses pendinginan tubuh lava (cooling joints).
  1. Sesar Geser Way Ira
  Berarah baratlaut-tenggara. Sesar ini di cirikan oleh kelurusan lembah sungai Way Ira dan punggungan mulai dari kampung Kabau hingga Aboru. Sesar ini diperkirakan mempunyai pergerakan menganan, dengan kemiringan 65o kerarah barat daya. Bukti-bukti keberadaan sesar ini sangat jelas terlihat di sepanjang Way Ira, beberapa kedudukan gores garis terukur diantaranya berarah N 150o E / 65o dengan arah pitch 12o, selain gores garis ditemukan juga zona-zona  hancuran dan breksiasi.
  2. Sesar Geser Marakee
  Berarah utara-selatan, terletak di tengah-tengah lokasi penyelidikan. Keberadaan sesar ini dicirikan oleh adanya kelurusan tebing dilembah Sungai Markee dan zona hancuran/ breksiasi di Sungai Markee. Sesar ini diperkirakan mempunyai pergerakan mengiri, dengan kemiringan diperkirakan kearah timur.
Kedua sesar ini diperkirakan berumur Tersier karena terjadi pada batuan berumur tua. Interaksi kedua sesar ini membentuk sesar-sesar minor di zona perpotongan (inter junction) yang memfasilitasi terbentuknya mineralisasi base metal dan alterasi pada batuan induk.
  3. Sesar Normal G. Keramat
   Terletak di sebelah utara lokasi penyelidikan, melintang dengan arah barat-timur, dengan kemiringan diperkirakan kearat utara. Tanda-tanda keberadaan sesar ini ditandai adanya kelurusan tebing yang berarah barat-timur
  4. Sesar Normal Oma
   Terletak di baratdaya lokasi penyelidikan, yaitu di Kampung Oma, berarah baratdaya-timurlaut, dengan kemiringan diperkirakan kearah baratlaut. Keberadaan sesar ini ditandai dengan adanya kelurusan mata air panas yang bersuhu mencapai 100o C, sesar ini diperkirakan yang mengontrol keluarnya mata air panas Oma.
  5. Sesar Normal Haruku
  Terletak di sebelah barat lokasi penyelidikan, yaitu di Kampung Haruku, berarah baratdaya-timurlaut, dengan kemiringan diperkirakan berarah barat laut. Tanda-tanda keberadaan sesar ini ditandai adanya kelurusan mata air panas di Way Rusia di sekitar Kampung Haruku.
Kedua sesar terakhir ini diperkirakan terbentuk pada zaman Kuarter, bersamaan dengan terbentuknya graben Ambon di P. Ambon yang juga berarah baratdaya-timurlaut dan berasosiasi dengan mata air panas seperti di Tolehu dan Tawiri.
 2.2. Geokimia
  Manifestasi panas bumi di daerah penyelidikan terdiri dari mata air panas Oma 1, Oma 2, dan Oma 3 dengan metode penyelidikan terdiri dari pengamatan pada manifestasi panas bumi, yang berupa mata air panas, air rembesan, tanah panas dengan parameter temperatur manifestasi, pH dan debit, selain itu dilakukan juga plotting pada peta serta mengambil Hg tanah dan CO2 udara tanah.
  2.2.1.Hasil Analisis dan Pembahasan
   Berdasarkan plotting pada diagram segitiga Cl-SO4-HCO3 (Gambar 3) ketiga mata air panas di desa Oma, termasuk tipe klorida, hal ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi Cl dalam air panas dengan temperatur tinggi (di permukaan tertinggi 100 oC) yang memungkinkan berhubungan dengan deep water, sedangkan berdasarkan diagram segitiga Na-K-Mg (Gambar 4), semua sample air panas terletak pada partial equlibrium, hal ini mengindikasikan telah terjadi sebagian interaksi antara batuan dengan fluida panas sebelum naik ke permukaan.
   Dari hasil plotting pada diagram segitiga Cl-Li-B (Gambar 5), posisi semua mata air panas mengarah di bagian atas namun tidak pada pojok atas Cl, hal ini mengindikasikan adanya kontaminasi air laut pada  proses keseimbangan interaksi batuan dengan fluida panas pada saat menuju permukaan.
Persamaan geotermometer air yang mengacu kepada Fournier, 1981 dan  Giggenbach, 1988 yang paling memungkinkan diaplikasikan adalah geotermometer  SiO2 (200oC) temperatur minimum, dimana konsentrasi SiO2 pada manifestasi merupakan produk dari SiO2 pada reservoir, fluida panas yang mengalir ke permukaan akan melepaskan panas sehingga mengalami penurunan temperatur, sebagian konsentrasi SiO2 akan terendapkan sedangkan SiO2 yang tetap terlarut dalam air panas akan terencerkan dan mengalami penurunan konsentrasi, sehingga temperatur yang diperoleh dari persamaan geotermometer tersebut terjadi penurunan nilai dari yang sebenarnya, sedangkan dari geotermometer NaK (237oC) temperatur maksimum, akan tetapi geotermometer NaK dapat dipengaruhi dengan kemungkinan kontaminasi manifestasi tersebut oleh air laut. Maka perkiraan temperatur bawah permukaan di daerah P. Haruku adalah 225 oC, yang diperoleh dari nilai temperatur antara 200-237oC, berdasarkan nilai temperatur ini maka reservoir di daerah ini bertipe High Entalphy.
Temperatur tanah bervariasi dengan nilai terendah 16.1 oC  sampai tertinggi yaitu 100oC, yang terletak di mata air panas Oma.   Distribusi temperatur nilai lebih dari 40 oC terletak di sekitar lokasi air panas Oma di bagian selatan pada daerah penyelidikan.
   Nilai pH tanah didominasi oleh nilai 6-7, dengan nilai terendah 3.45  sampai tertinggi 7.92. Distribusi nilai pH lebih dari 7.0 (netral) mengarah ke lokasi mata air panas Oma.

    Konsentrasi Hg tanah setelah dikoreksi dengan konsentrasi H2O-, diperoleh distribusi seperti pada gambar 7. Konsentrasi terendah 45 ppb  sampai dengan konsentrasi tertinggi 915 ppb. Nilai Hg yang cukup signifikan diindikasikan oleh nilai yang lebih dari 450 ppb, terletak di sekitar lokasi manifestasi Oma ,yang terletak disebelah selatan daerah penyelidikan.      Konsentrasi CO2 tanah  terendah adalah 0.19 % sampai dengan konsentrasi tertinggi 1.83 %. Nilai CO2 yang yang tinggi, lebih dari 1.5 %,  hanya titik amat A1050 dan A1250. Sedangkan nilai terendah yaitu kurang dari 0,50% terletak di bagian barat, utara, timur dan selatan lokasi penyelidikan.     Konsentrasi 18O dan D  dalam satuan o/oo (permil). Nilai ?18O berkisar antara –7,11 sampai –5.25o/oo, sedangkan nilai ?D berkisar antara –46.8 sampai –25.4o/oo. Dari nilai rasio isotop tersebut mengindikasi telah terjadi pengkayaan oksigen 18 dari air panas Oma 1, akibat  reaksi substitusi oksigen 18 dari batuan dengan oksigen 16 dari fluida panas pada saat terjadi interaksi fluida panas dengan batuan sebelum muncul ke permukaan. Sedangkan sampel air panas Oma 2, Oma 3 dan sampel air dingin Rohomoni, terletak pada meteoric water line, sebagai indikasi pengaruh air permukaan (Gambar 6).

 2.3. Geofisika
   2.3.1. Gaya Berat
    Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat Gravitimeter La Coeste & Romberg Tipe G-802. Nilai pengukuran yang diperoleh diikatkan ke nilai gaya berat Internasional (IGSN 71) DG0 Bandung.
    Hasil pengukuran tersebar pada lintasan regional dan lintasan ukur kisi (grid), dengan panjang lintasan antara 2 - 6 km. Jarak antar titik ukur di lintasan pada umumnya 250 m, akan tetapi pada kondisi tertentu berkisar antara 100 – 500 m, sedangkan pada lintasan regional  (random) jarak antar titik amat berkisar antara 500 –1000 m. Nilai densitas batuan yang diambil ( berdasarkan metode parasnis ) adalah 2.31 gr/cc.
   2.3.1.1. Anomali Bouguer
   Nilai anomali Bouguer yang diperoleh berkisar antara 128 mgal sampai 152 mgal, dimana pola anomalinya memiliki suatu rentang anomali Bouguer dan gradien anomali yang relatief besar. Nilai anomali ini dibagi menjadi empat kelompok anomali yaitu anomali paling rendah mempunyai nilai dari 128 mgal sampai 136 mgal, anomali rendah mempunyai nilai dari 136 mgal sampai 142 mgal, anomali sedang mempunyai nilai dari 142 mgal sampai 146 mgal, dan anomali tinggi mempunyai nilai dari 146 mgal sampai 152 mgal.
   Dari nilai anomali gaya berat ini mengisyaratkan bahwa terdapat beberapa struktur geologi skala besar yang berasosiasi dengan suatu rentang densitas tertentu di bagian dalam kulit bumi. Struktur dalam yang terlihat pada anomali ini berada di bagian barat dengan arah baratdaya – timurlaut. Struktur lainnya berada dibagian utara mempunyai arah baratlaut – tenggara. Seperti yang terlihat di peta anomali Bouguer ini, terlihat bahwa pola anomali tinggi dari peta ini berada di bagian tenggara yaitu sekitar daerah Hulaliu dan Naira diperkirakan diisi oleh batuan andesit dan menyebar kearah bagian tengah atau sekitar Gunung Noni dan Gunung Huruano.
   2.3.1.2. Anomali Sisa
    Merupakan hasil ekstrasi anomali Bouguer dengan anomali Regional. Suatu peta anomali Sisa ini memperlihatkan pola lineasi kontur yang dominan berarah baratlaut – tenggara dan baratdaya - timurlaut, selain itu juga memperlihatkan pengkutuban anomali positif dan anomali negatif dengan kerapatan serta pembelokan kontur yang tajam. Kondisi demikian mengindikasi-kan adanya struktur-struktur sesar yang dominan berarah hampir barat – timur, baratdaya – timurlaut, dan baratlaut - tenggara searah dengan struktur utama daerah ini.
  2.3.1.3. Model 2-D
     Model dua Dimensi gayaberat dibuat melalui penampang A-B, yang terletak di bagian barat daerah penyelidikan, berarah baratdaya – timurlaut. Penampang ini bertujuan untuk memberikan gambaran struktur bawah permukaan daerah penyelidikan secara lebih jelas, penampang ini mengambil koreksi densitas 2,30 gr/cc, dengan pertimbangan data geologi.
    Di ujung baratdaya diisi oleh bodi yang mempunyai densitas 2.37 gram/cm3, dengan kedalaman sekitar 2500 meter diperkirakan sebagai batuan lava andesit dan disampingnya diisi oleh bodi dengan densitas 2.17 gram/cm3 yang diperkirakan sebagai batuan gamping dan merupakan zona lemah yang terkena struktur. Setelah itu ditempati oleh bodi dengan densitas paling tinggi diantara bodi yang ada disekitarnya yaitu 2.41 gram/cm3 dengan kedalaman 2000 meter dan diperkirakan sebagai batuan lava andesit Noni.
    Dari ketiga bodi tersebut diatas diperkirakan telah mengalami suatu zona patahan dan diperkirakan merupakan sesar turun. Setelah ketiga bodi diatas dilanjutkan oleh bodi dengan densitas yang sama dengan densitas basement yaitu 2.30 gram/cm3 dengan kedalaman sekitar 1250 meter diperkirakan batuan lava andesit. Di bagian lainnya pada penampang ini muncul bodi dengan densitas 2.39 gram/cm3 dengan kedalaman sekitar 1100 meter dan merupakan batuan lava andesit. Dilanjutkan dengan bodi yang terletak paling timurlaut dengan densitas 2.25 gram/cm3 dan diperkirakan batuan lava andesit dengan kedalaman  sekitar 1500 meter.            Dari kedua bodi tersebut diperkirakan terjadi struktur sesar dan merupakan sesar naik. Pada bagian bawah umumnya ditempati oleh bodi dengan densiti 2.30 gram/cm3 dan merupakan densitas basement. Dari model ini dapat disimpulkan bahwa ada beberapa zona lemah yang muncul dan diperkirakan telah terjadi struktur sesar, terutama di daerah alterasi  (Gambar 8).

   2.3.2. Geomagnet
     Pengukuran dilakukan di lintasan-lintasan : C, D, E, F, G, H, J, regional dan di B.S (Base Station). Pengukuran   di B.S adalah untuk mengukur variasi kemagnetan (variasi harian) untuk setiap selang waktu tertentu (15 menit). Data intensitas magnet sisa diperoleh dari pencatatan langsung secara numeric dengan harga IGRF = 41854 nT, yang  digunakan sebagai dasar perhitungan anomali magnet di daerah penyelidikan.
   Pengambilan data magnet  di daerah manifestasi panas bumi Pulau Haruku diperoleh dari  7 lintasan (lintasan C, D, E, F, G, H, J) dan lintasan  titik regional yang bersifata random dengan jarak titik ukur 500 m.
   2.3.2.1. Anomali magnet sisa 
    Anomali magnet sisa menggambarkan pola dan karakteristik dari sebaran nilai pengukuran, perlapisan batuan dan struktur yang ada di lapangan.
   Berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan, nilai anomali magnet sisa berada pada kisaran -657,3 nT hingga 212,24 nT dari pola sebaran dan karakteristik  dari  pembacaan peta anomali magnet sisa dapat diketahui bahwa nilai anomali magnet sisa yang rendah mendominasi daerah penelitian di sebelah baratlaut yang membesar nilainya ke arah tenggara dan disebelah timur.
   Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan di lapangan dapat diketahui pula bahwa secara umum nilai anomali magnet sisa yang rendah (dibawah -100 nT) merupakan daerah yang didominasi oleh litologi batugamping, nilai tersebut membesar seiring dengan perubahan  dominasi litologi yang ada. Litologi dengan nilai anomali magnet sisa yang tinggi (diatas 50 nT) dimiliki oleh batuan lava andesit, sedangkan nilai anomali magnet sisa yang sedang (-100 nT hingga  50 nT) dimiliki oleh batuan lava andesit yang telah lapuk atau telah terubah.
Dari peta anomali magnet sisa dan topografi juga  dapat diperkirakan struktur yang ada berdasarkan pola dan kerapatan kontur. Diperkirakan ada 3 buah struktur yang teramati yaitu 2 buah struktur berarah barat laut – tenggara dan 1 buah struktur berarah Baratdaya-timurlaut.
   2.3.2.2.Penampang magnet 2-D
    Berdasarkan analisa penampang model magnet 2-D (Gambar 9), diketahui bahwa  lapisan teratas yang berwarna biru merupakan lapisan batugamping dengan nilai susceptibility rendah yaitu 0.00002  (cgs) dengan ketebalan bervariasi antara 20 meter hingga 300 meter   dibagian bawahnya (baratdaya) yang berwarna merah, merupakan tubuh batuan dengan nilai susceptibility yang paling tinggi yaitu 0.0054 (cgs) yang  diperkirakan merupakan  batuan lava andesit segar mulai kedalaman 250 meter hingga kurang lebih 850 meter dibawah permukaan. Kearah timur laut kita akan menemui  tubuh batuan  dengan nilai susceptibility 0.0024 – 0.0025  yang diperkirakan merupakan batuan lava andesit yang telah lapuk dan terubah dengan  kedalaman mulai dari 50 meter hingga 800 meter dibawah permukaan. Sedangkan di sebelah timurlaut  dijumpai  tubuh batuan berwarna coklat dengan nilai nilai susceptibility 0.0040 (cgs) yang diperkirakan merupakan batuan lava andesit yang sedikit mengalami pelapukan atau  ubahan yang terjadi tidak terlalu kuat dengan kedalaman 50 meter hingga 800 meter dibawah permukaan.
    Struktur yang pertama berada di titik F-2000  dengan harga di titik F-1250 hingga F-2000 yang meningkat agak tajam di perkirakan merupakan batas perlapisan antara batuan lava andesit dengan lava andesit yang telah terubah, kemungkinan batas antar batuan tersebut  dibatasi oleh struktur sesar begitu pula dengan struktur yang kedua di titik F-2500 dicirikan dengan dengan peningkatan grafik anomali yang cukup tajam  dan  bentuk topografi yang agak curam dari grafik  profil anomali magnet sisa  diperkirakan juga diakibatkan oleh adanya struktur. Struktur yang ketiga berada di titik F-4000 dicirikan dengan adanya penurunan yang tajam nilai anomali magnet sisa dan bentuk topografi yang meningkat dengan tajam.
2.3.3. Geolistrik Tahanan Jenis
   Titik-titik pengukuran tahanan jenis berkonfigurasi Schlumberger tersebar sepanjang enam lintasan pengukuran, yakni D, E, F, G, H dan J. Sedangkan pengukuran head-on terletak pada lintasan G.
   Hasil pemetaan tahanan jenis disajikan dalam bentuk penampang dan peta tahanan jenis semu. Hasil pendugaan atau sounding disajikan dalam bentuk hasil-hasil pemodelan perlapisan tahanan jenis satu dimensi dan penampang tahanan jenis hasil korelasi antar model satu dimensi.
   Dari hasil pengukuran head-on disajikan dalam kurva-kurva head-on dan penampang struktur head-on.
   2.3.3.1. Penampang Tahanan Jenis Semu
     1. Lintasan D
 Lintasan D berarah baratlaut-tenggara dengan panjang lintasan pengukuran 2000 m.  Nilai tahanan jenis semu sepanjang lintasan D sekitar antara 10 – 70 Ohm-m. Nilai tahanan jenis ini diplot terhadap kedalaman yang setara dengan AB/4 dengan asumsi bahwa penetrasi arus untuk tiap bentangan AB adalah AB/4 (Gambar 10).           
Secara umum, nilai tahanan jenis semu rendah baratlaut dan meninggi ke arah tenggara. Nilai yang rendah (sekitar 10-18 Ohm-m) di baratlaut, yakni di bawah titik D-1500, yang cenderung lebih merendah lagi ke baratlaut atau ke arah pantai, kemungkinan berasosiasi dengan batuan vulkanik yang terintrusi air laut.  Intrusi air laut ini kemungkinan masih menerus tetapi melemah ke arah tenggara sampai di bawah titik D-2000 terutama di kedalamam AB/4 125 m sampai 375 m. Di bawah titik D-2500 nilai tahanan jenis kemungkinan berasosiasi dengan batuan vulkanik yang terubah secara hidrotermal.
    2. Lintasan E
    Lintasan E memiliki panjang lintasan pengukuran 3000 m, berada di sekitar satu kilometer di timurlaut dan sejajar lintasan D. Nilai tahanan jenis semu sepanjang lintasan E sekitar antara 70 – 250 Ohm-m. Secara umum, tahanan jenis didominasi oleh nilai relatif tinggi kecuali di bawah E-2500 yang relatif rendah (Gambar 11) dan cenderung membuka dan mengecil ke arah tenggara. Nilai tahanan jenis yang relatif tinggi di bawah E-500 sampai E-2000 dan menerus sampai kedalaman AB/4 500 m kemungkinan berasosiasi dengan batuan lava, sedangkan nilai yang relatif rendah di E-2500 yang cenderung menerus dan mengecil ke arah tenggara kemungkinan berasosiasi dengan batuan lava yang telah terubah secara hidrotermal.
    3. Lintasan J
    Lintasan ini sejajar dengan lintasan F dan berada sekitar satu kilometer di timurnya dan memotong lintasan G dan H di baratlautnya. Gambar 3.5-3 adalah penampang tahanan jenis lintasan J yang di baratdayanya digabung dengan data G-3500 dan H-3000.  Nilai tahanan jenis semu sepanjang lintasan J sekitar antara 30 – 170 Ohm-m. Secara umum, tahanan jenis dari H-3000 di baratlaut sampai J-3500 di tenggara relatif tinggi dengan nilai yang cenderung menurun terhadap kedalaman. Sedangkan di J-4000 sampai J-4500 tahanan jenisnya relatif kecil (anomali rendah) sampai mencapai harga 30 Ohm-m. Anomali rendah ini cenderung menerus dan nilainya cenderung mengecil ke arah tenggara, namun cenderung meninggi terhadap kedalaman.
     4. Lintasan F
     Lintasan ini berarah baratdaya-timurlaut, dan memotong lintasan J dan E di ujung baratlautnya. Nilai tahanan jenis dalam penampang lintasan F (Gambar 12) sekitar antara 10 – 300 Ohm-m. Nilai rendah (10-18 Ohm-m) terdapat di ujung baratdaya di bawah titik D-1500, atau ujung baratlaut dari lintasan D, yang cenderung menerus dan mengecil nilainya ke arah baratdaya atau ke arah laut,  diperkirakan berasosiasi dengan batuan lava yang terintrusi air laut. Dari titik E-1000 sampai F-5500 di timurlaut, nilai tahanan jenis relatif tinggi dengan nilai yang cenderung menurun terhadap kedalaman, terutama di bawah J-2750 sampai F-5500. Nilai yang relatif tinggi ini kemungkinan berasosiasi dengan batuan lava, namun harganya yang merendah terhadap kedalaman kemungkinan akibat batuan yang lebih konduktif di bawah lava berupa breksi-tufa.
    5. Lintasan G
Lintasan ini sejajar dengan lintasan F dan berada sekitar 750 m di baratlautnya. Nilai tahanan jenis dalam penampang lintasan G (Gambar 13) sekitar antara 46 – 170 Ohm-m. Pola sebaran tahanan jenis semu pada penampang ini berupa selang-seling anomali rendah dan tinggi. Anomali rendah dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah anomali rendah di bawah titik G-2500 yang cenderung membuka dan menurun harganya ke arah baratdaya atau ke arah laut. Anomali rendah ini, seperti halnya anomali rendah di bawah D-1500, kemungkinan berasosiasi dengan batuan vulkanik yang terintrusi air laut. Anomali rendah kedua berada di bawah G-3500 sampai G-4000 yang cenderung menerus ke bawah dan dengan nilai yang seragam. Zona rendah kedua ini kemungkinan berhubungan dengan batuan lava yang terekahkan dan tersaturasi air tanah, dan kemungkinan berasosiasi dengan suatu struktur sesar yang memotong lintasan ini.         
Anomali rendah ketiga berada dangkal di bawah G-5000 sampai G-6000 yang cenderung menerus ke bawah di titik G-6500 sampai G-7000 dan dengan nilai yang cenderung menurun. Pada bagian dangkal di bawah G-5000 sampai G-6000 kemungkinan berkaitan dengan lapisan tipis yang relatif konduktif  berupa lava tipis teralterasi. Di bawah G-6500 yang nilainya relatif rendah dan cenderung menerus ke bawah kemungkinan berkaitan dengan batuan lava terrekahkan dan tersaturasi air yang berkaitan dengan struktur sesar. Sedangkan nilai rendah di bawah G-7000 kemungkinan berasosiasi dengan batuan vulkanik yang terintrusi air laut dari arah utara pulau Haruku.
    6. Lintasan H
    Lintasan ini sejajar dengan lintasan G dan berada sekitar 750 m di baratlautnya. Nilai tahanan jenis dalam penampang lintasan H (Gambar 14) sekitar antara 70 – 560 Ohm-m.       Secara umum, terdapat tiga anomali tahanan jenis rendah sepanjang lintasan H. Anomali rendah terdapat dangkal di bawah H-2500, yang cenderung menerus namun lebih dalam ke bawah G-3000 sampai G-3500 dan membuka ke arah baratdaya atau ke arah laut. Anomali rendah ini kemungkinan berkaitan dengan batuan lava yang terintrusi air laut. Anomali kedua berada di antara G-4000 sampai G-4500 dengan pola yang cenderung menerus ke bawah dan dengan nilai yang seragam, dan kemungkinan berkaitan dengan batuan vulkanik yang terekahkan dan tersaturasi air. Batuan rekahan ini kemungkinan terhubung dengan batuan rekahan di sekitar G-3500 sampai G-4000 atau terkontrol oleh satu struktur sesar yang sama. Anomali rendah ketiga berada di kedalaman H-5500 dan H-6000 yang cenderung membuka ke timurlaut. Seperti halnya nilai rendah di bawah G-7000, kemungkinan anomali rendah ini juga berasosiasi dengan batuan vulkanik yang terintrusi air laut dari arah utara pulau Haruku.
   2.3.3.2. Peta Sebaran tahanan Jenis Semu
     Berdasarkan sebaran nilai tahanan jenis secara lateral, dapat disimpulkan beberapa hal berikut:
1) Nilai tahanan jenis semu untuk semua bentangan AB didominasi oleh nilai yang lebih besar daripada 100 Ohm-m yang kemungkinan berasosiasi dengan batuan lava P. Haruku.
2) Terdapat dua anomali tahanan jenis rendah di daerah dekat pantai, yakni di ujung baratdaya dan timurlaut daerah penyelidikan tahanan jenis, yang secara konsisten muncul di semua bentangan arus, yang diperkirakan berkaitan dengan batuan lava yang terintrusi air laut.
3) Terdapat satu zona anomali rendah yang muncul di ujung tenggara lintasan J yang secara konsisten muncul di semua bentangan arus, dengan pola yang cenderung membuka dan mengecil nilainya ke arah tenggara. Nilai tahanan jenis pada zona rendah ini cenderung meninggi terhadap kedalaman. Secara geologi permukaan, di daerah zona rendah ini ditemukan adanya alterasi hidrotermal batuan lava dengan kandungan lempung yang signifikan, namun tanpa indikasi anomali panas. Dengan mempertimbangkan data geologi ini dan anomali rendah dengan nilai yang cenderung meninggi terhadap kedalaman, kemungkinan zona ini merupakan suatu bagian dari suatu fosil zona alterasi hidrotermal.
    2.3.3.3. Penampang Tahanan Jenis
     Penampang tahanan jenis (Gambar 15) dibentuk berdasarkan hasil-hasil pemodelan dua dimensi. Penampang tahanan jenis terdiri dari lima lapisan. Lapisan pertama adalah soil tipis resistif 430 – 900 Ohm-m dengan tebal sekitar 1 m yang tak tergambarkan dalam penampang ini. Lapisan kedua adalah lapisan gamping terumbu resistif antara 1200 – 5300 Ohm-m dengan tebal sekitar antara 27 - 31 m. Lapisan ketiga adalah lapisan konduktif antara 50 - 60 Ohm-m dengan tebal sekitar antara 80 - 120 m yang kemungkinan berkaitan dengan rombakan lava tersier Haruku tersaturasi air. Lapisan keempat adalah lapisan resistif antara 85 - 550 Ohm-m dengan tebal yang menipis ke timurlaut dari 640 - 150 m. Lapisan ini kemungkinan berkaitan dengan lava tersier Haruku. Lapisan kelima adalah lapisan konduktif 26 - 10 Ohm-m dengan lapisan atasnya pada kedalaman yang mengecil ke timurlaut dari 750 - 380 m dan dengan tebal belum diketahui yang kemungkinan berasosiasi dengan batuan breksi tufa. Berdasarkan data sounding dapat ditarik kesimpulan:

  •  Batuan gamping yang muncul secara dominan di daerah penyelidikan memilki ketebalan, terutama di sekitar daerah Bukit Keramat, sekitar 30 m, dan pada bagian diatasnya tertutup oleh lapisan tipis terdiri dari rombakan gamping dan soil setebal sekitar 1 m.
  •  Batuan vulkanik tersier P. Haruku memiliki tebal mencapai sekitar 600 m terutama di sekitar Bukit Keramat dan sekitar tebal 100m pada bagian atasnya terombakkan.
  •  Batuan breksi tufa yang mendasari pulau ini, dan juga tersingkap luas di P. Ambon, terdapat pada kedalaman sekitar 400-750 m dengan tebal yang belum dapat diketahui.

       2.3.3.4. Hasil Head-on
     Hasil analisis kelurusan kurva-kurva head-on yang selanjutnya diplotkan pada penampang tahanan jenis semu lintasan G, dapat di simpulkan bahwa :
    Struktur pertama di sekitar G-2450 yang menerus secara tegak dari permukaan sampai ke kedalaman AB/4 250 m, dan diperkirakan masih menerus ke bawah. Struktur head-on ini kemungkinan secara geologis berkaitan dengan zona rekahan struktur Wai Ira. Struktur kedua terdapat di sekitar G-2750 yang menerus ke kedalaman AB/4 400 m di sekitar G-2800 membentuk kemiringan ke arah timurlaut. Struktur head-on kedua ini kemungkinan juga berkaitan dengan zona rekahan struktur Wai Ira. Struktur ketiga berada di sekitar G-3450 dan menerus ke bawah ke sekitar G-3600, juga miring ke timurlaut. Struktur head-on ketiga ini kemungkinan secara geologis berkaitan dengan zona rekahan struktur Bukit Keramat. Struktur keempat berada di sekitar G-3800 yang menerus cenderung tegak sampai ke kedalaman AB/4=250m. Struktur head-on keempat ini kemungkinan secara geologis masih berkaitan dengan zona rekahan struktur Bukit Keramat (Gambar 16).

III. Pembahasan

  •  
    •  Sistim Panas bumi

   Secara umum, keterdapatan sumber panas bumi Indonesia berasosiasi dengan  kegiatan gunung api sebagai asal sumber panas yang berhubungan dengan pergerakan lempeng tektonik tersebut. Sepanjang jalur gunung api aktif maupun yang padam (istirahat) menyimpan cadangan energi panas bumi yang sangat besar di bawah permukaan. Pembentukan sistem panas bumi di Pulau Haruku dan Kepulauan Maluku pada umumnya berkaitan dengan aktivitas kegunungapian, untuk kasus Pulau Haruku berkaitan dengan vulkanisme tua berumur Tersier. Magma sisa di bawah permukaan berperan sebagai sumber panas yang memanasi air bawah permukaan yang kemudian naik dan terperangkap dalam reservoir panas bumi.  
     Penampang model panas bumi (Gambar 17) menggambarkan model tentatif sistem panas bumi P. Haruku. Penampang model ini dibuat memotong struktur sesar Oma, sesar Haruku dan komplek Bukit Huruano, menampakkan keadaan stratigrafi tubuh vulkanik Tersier Haruku, reservoar panas bumi diperkirakan, sumber panas serta siklus fluida.
Magma sisa yang masih panas memanasi batuan dasar dan kemudian memanaskan air meteorik yang masuk ke bawah permukaan melalui zona-zona resapan dan kemudian terpanaskan dan naik ke atas karena efek bouyansi dan terjebak dalam reservoir panas bumi. Sebagian kecil fluida panas ini ke luar ke permukaan sebagai mata air panas.
    Air panas yang muncul ke permukaan melalui mata air panas Oma memperlihatkan pengendapan sinter silika. Dengan kenampakkannya yang bening, ber pH netral, bersuhu didih dan terutama keberadaan sister tersebut, dapat diperkirakan bahwa air panas tersebut keluar dari suatu reservoir panas bumi bersuhu tinggi dengan fluida yang didominasi oleh air. Air panas ini sebagian keluar ke permukaan melalui kontrol struktur sesar Oma sebagai komplek mata air panas Oma dan memalui sesar Haruku sebagai mata air Haruku.    
    Hasil pendugaan temperatur reservoir dengan geothermometer SiO2 dan NaK memperlihatkan bahwa suhu reservoir dapat mencapai 240 °C dengan nilai rata-rata sekitar 225 °C.

IV. Kesimpulan

  • Prospek panas bumi daerah Haruku ini berada di lingkungan vulkanik tua tersier Pulau Haruku
  • Geologi memperlihatkan struktur-struktur yang mengkonstruksi sistem panas bumi di daerah Oma-Haruku ke timurlaut, terutama struktur-struktur sesar.
  • Anomali geofisika dan geokimia belum mencakup ke daerah yang diperkirakan prospek secara geologi
  • Luas sebaran prospek panas bumi daerah Haruku baru dapat diperkirakan secara hipotetis sekitar 4 km2 di antara manifestas panas bumi dan Gunung Noni di timurlautnya.
  • Reservoir berupa sistem dominasi air engan temperatur sekitar 240 oC dengan kedalaman puncaknya dan ketebelannya yang belum dapat di ketahui
  • Potensi cadangan hipotetis daerah ini mencapai 30 MWe dengan asumsi tebal reservoir 1 km dan life time 30 tahun.
  • Selain akses yang cukup mudah dan tidak jauh dari ibu kota provinsi, potensi panas bumi daerah ini masih memiliki peluang untuk dieksplorasi lebih lanjut untuk studi penggunaan energi panas bumi untuk pembangkitan listrik, mengingat kemandirian penyediaan energi listrik yang mutlak dibutuhkan sebagai daerah pulau dan minimnya sumber daya energi alternatif lainnya.

V.  Daftar Pustaka
Bammelen, van R.W., 1949. The Geology of Indonesia. Vol. I A. The Hague, Netherlands.
Cooper, G.R.J., 2003, MAG2DC Program, School of Geosciences, University of the Witwaterstrand, Johanesburg 2050, S. A.
Chasin,M., 1977. Laporan Inventarisasi Kenampakan Gejala Panas Bumi di daerah Pulau Haruku, Saparua, Nusalaut, dan Seram, Maluku Tengah. Direktorat Vulkanologi Bandung
Fournier, R.O., 1981. Application of Water Geochemistry Geothermal Exploration and Reservoir Engineering, “Geothermal System: Principles and Case Histories”. John Willey & Sons. New York.
Giggenbach, W.F., 1988. Geothermal Solute Equilibria Deviation of Na-K-Mg-Ca Geo- Indicators. Geochemica Acta 52. pp. 2749 – 2765.
Giggenbach,  W.F., and Goguel, 1988, Methods for the collection and analysis of geothermal and volcanic water and gas samples, Petone New Zealand .
Gonviantini, R., 1981, Determination of  Isotope Composition of Natural Water, Stable Isotope hydrology, D  and 18O  in the water  Circle Technical Report series No. 210 IAEA p. 60-69. 
Kooten , V., and Gerald, K., 1987, Geothermal Exploration Using Surface Mercury Geochemistry, Journal of volcanology and Geothermal Research ,  31, 269-280.
Lawless, J., 1995. Guidebook: An Introduction to Geothermal System. Short course. Unocal Ltd. Jakarta.
Telford, W. M., Geldart, L. P., Sheriff, R. E., Keys, D. A., 1990, Applied Geophysics, Cambridge University Press, London.
Tjokrosapoetro, S. (1994) :  “ Geologi Lembar Ambon, Maluku, Skala 1 : 250.000”. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung.