Jasper Pernah Diekspor Ke Jepang

Jasper Pernah Diekspor ke Jepang

Minggu, 19 Oktober 2008, 19:13:00

TASIKMALAYA, (PRLM).-Bahan tambang batu merah (jasper) dari Desa Cibuniasih, Kec. Pancatengah, Kab. Tasikmalaya, ternyata pernah ditambang selama sepuluh tahun, yaitu mulai tahun 1994 hingga 2004 lalu.

Hasil pertambangan batu merah tersebut, di antaranya diekspor ke Jepang dan Korea Selatan. Selama proses pertambangan berlangsung, sebanyak enam orang ahli batu mulai dari Taiwan dan Hongkong, tinggal di daerah Buniasih. Mereka yang melakukan seleksi batu merah yang akan dikirim ke luar negeri.

”Selain itu, selama pertambangan berlangsung ada 30 ahli penambang dari Padang, yang tinggal di rumah saya. Di antara mereka juga ada yang menjadi pengusaha atau menampung batu merah,” kata Endang Budi Sunara, warga Buniasih yang juga mantan perajin batu merah, Minggu (19/10).

Saat penambangan sedang berlangsung, kurang lebih ada 100 warga setempat yang terlibat sebagai buruh untuk ambil batu merah dari sungai Cimedang, atau lahan yang telah disewa. Dari usaha itu, warga mendapatkan upah mulai dari Rp 500,00 hingga Rp 2.000,00/kg.

Batu tersebut, lalu dikumpulkan dan dikirim ke Tanjungpriok untuk dieksepor. Setiap harinya, puluhan truk diberangkatkan dari Buniasih ke Tanjungpriok dan Sumatera.

”Kehidupan warga pada waktu pertambangan berlangsung, cukup baik. Karena ada penghasilan yang bisa diandalkan untuk setiap harinya. Puncak pertambangan batu merah yaitu tahun 2002 selama dua tahun lebih,” katanya.

Pada tahun 2004 lalu, penambangan berakhir, karena potensi batu merah semakin menipis. Endang kaget ketika ada ahli geologi dan para pejabat dari pemkab turun untuk menutup pertambangan, sebab sudah lama kawasan itu ditutup. Mestinya, ditutup ketika waktu usaha pertambangan sedang ramainya.

Kepala Desa Cibuniasih Bisri mengatakan,  ketika sedang berlangsung penambangan, memang ada pemasukan ke kas desa dari penambangan itu. ”Tapi, saya sendiri kurang begitu tahu kalau memang batu tersebut sangat berharga dan langka. Saat ini, setelah ada intruksi dari Distamben Tasikmalaya, untuk menutupnya maka kami beserta Muspika Kec. Pancatengah bertugas menjaganya jangan sampai kembali terjadi aksi penambangan liar,” ujar  Bisri.

Sebagaimana diketahui, masalah batu merah di Kampung Cigintung, Desa Buniasih, Kec. Pancatengah, Kab. Tasikmalaya, menjadi sorotan para ahli geologi dari Bandung. Batu merah tersebut memiliki nilai ilmu pengetahuan sangat tinggi, serta cukup langka. Makanya, pakar geologi minta agar hamparan batu merah yang masih ada untuk diselamatkan. (A-97/E-20/A-147)***

Sumber:

http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=38047

Senin, 20/10/2008 10:47 AM