Penyelidikan Pendahuluan Potensi Kandungan Minyak Di Daerah Nanga Tebidah Dan Sekitarnya, Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat

S. M. Tobing
(Kelompok Program Penelitian Energi Fosil)

S A R I
 
Penyelidikan pendahuluan potensi kandungan minyak dalam batuan di daerah Nangatebidah dan sekitarnya, Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat adalah untuk mengetahui keadaan geologi secara umum dan sebaran bebatuan yang diduga mengandung material organik yang menghasilkan minyak bumi. Pemetaan geologi permukaan menemukan singkapan-singkapan batuan yang terdapat di dalam Fm. Ingar, Fm. Payak dan Fm. Tebidah.

Hasil analisa petrografi organik menunjukkan kandungan material organik dalam batuan tidak memberikan nilai yang cukup sebagai batuan sumber. Tingkat kematangan batuan berkisar antara  0,39 – 0,83% (Rv. Mean).

Hasil analisa ‘retort’ maupun analisis Total Organic Content (TOC) dan Rock-Eval menunjukkan bahwa batuan yang diduga sebagai batuan sumber berpotensi rendah untuk menghasilkan minyak bumi, oleh karena conto batuan yang dianalisis memiliki kandungan material organik dan kandungan minyak yang sangat rendah demikian juga dengan tingkat kematangan yang rendah.
 
LATAR BELAKANG
 
Minyak bumi masih menjadi sumber energi utama, setidaknya hingga tahun 2025 (Zed., 2009). Pemerintah Republik Indonesia melalui program bauran energi nasional masih mengandalkan minyak bumi sebagai salah satu sumber daya energi. Ketergantungan terhadap minyak bumi akan berkurang secara bertahap sehingga pada saat optimalisasi pemenuhan kebutuhan energi dari migas kurang dari 20%, sedangkan sisanya akan dipenuhi dari sumber energi alternatif lainnya.

Kegiatan eksplorasi minyak bumi, baik untuk kegiatan riset maupun kepentingan keekonomian tetap harus dilanjutkan. Pencarian sumber-sumber minyak diharapkan dapat menghasilkan temuan baru yang dapat menambah sumber daya dan atau meningkatkan statusnya menjadi cadangan untuk dapat menjamin pasokannya sebagai sumber energi dalam mendukung kegiatan pembangunan berkelanjutan.

Cekungan Melawi di Kalimantan Barat sebagai salah satu cekungan Tersier di Indonesia, diharapkan memiliki potensi keterdapatan hidrokarbon. Untuk itu, Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung pada Tahun Anggaran 2009 melakukan kegiatan penyelidikan pendahuluan potensi kandungan minyak di Cekungan Melawi daerah Nangatebidah, Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat.

Pemilihan daerah ini didasarkan pada informasi terdahulu dimana dijumpai rembesan-rembesan minyak di beberapa tempat yang diduga berasal dari formasi-formasi batuan secara regional. Selanjutnya, kegiatan di daerah ini juga adalah upaya untuk menghimpun dan mengumpulkan data informasi potensi minyak atau hidrokarbon dalam rangka meningkatkan ketersediaan data yang terbaru dan akurat.

MAKSUD DAN TUJUAN
 
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi keadaan geologi di daerah tersebut untuk mendukung kegiatan pengkajian dan evaluasi ekplorasi minyak bumi di masa mendatang. Dalam kegiatan ini dilakukan kajian kualitasnya untuk mengetahui kandungan minyak di dalam formasi pembawanya.

Tujuan penyelidikan adalah untuk mengetahui aspek-aspek geologi umum yang menunjang kegiatan ekplorasi minyak bumi. Dalam tahapan ini kegiatan dititikberatkan pada pencarian rembesan minyak atau gas dan pencarian batuan induk potensial untuk mengetahui potensi dan jenis minyak yang mungkin dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya energi sekaligus sebagai bahan atau penyediaan data potensi minyak bagi pemerintah, pemerintah daerah maupun suasta. 
 
LOKASI
 

Lokasi penyelidikan terletak di Kabupaten Melawi dan sebagian di Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Wilayahnya meliputi beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Nanga Pinoh, Kecamatan Pinoh Utara dan Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi dan Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Kayan Hulu dan Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang. Secara geografis terletak antara 00°00’00” – 00°15’00” Lintang Selatan dan 111°45’00” – 112°00’00” Bujur Timur (Gambar 1).

Lokasi penyelidikan terletak kurang lebih 540 km ke arah timur kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat dan dapat dicapai melalui jalan darat dengan kendaraan umum.
Keadaan Lingkungan

Penduduk asli didominasi oleh Suku Dayak dan Suku Melayu dari berbagai sub-etnik Dayak diantaranya Suku Kebahan, Lebang, Barai, Tebidah dan Randuk serta etnis China. Sebagian pendatang adalah transmigran asal P. Jawa dan sebagian lagi sebagai transmigran lokal. Pekerjaan penduduk umumnya berkebun karet, sebagian berdagang, buruh dan pegawai pemerintah.

Kawasan hutan tropis yang tadinya banyak ditumbuhi pohon-pohon besar saat ini banyak beralih fungsi menjadi kawasan perkebunan dan menjadi semak belukar. Perkebunan utama adalah pohon karet dan kelapa sawit yang diusahakan melalui pola Perkebunan Inti Rakyat bersinergi dengan program transmigrasi serta swadaya masyarakat. Sebagian perkebunan sawit dikelola oleh pihak swasta. Produksi tanaman perkebunan lainnya adalah kelapa.

Sarana pendidikan berupa sekolah tingkat dasar telah tersedia hampir di setiap desa, sedangkan sekolah menengah terdapat di setiap kecamatan. Sarana kesehatan berupa puskesmas dan puskesmas pembantu berada di beberapa desa dan kecamatan.

Infrastruktur jalan masih sangat terbatas pada poros yang menghubungkan antar kecamatan dan kabupaten, sebagian dalam kondisi rusak berat. Sedangkan sisanya berupa jalan rintisan dan jalan perkebunan berupa jalan tanah. Sarana transportasi sebagian daerah yang terpencil masih menggunakan jalur sungai dengan perahu motor. Jaringan listrik belum menjangkau seluruh desa, masih terbatas di kota-kota kecamatan dan beberapa desa yang menghubungkan kota-kota tersebut. Sebagian masyarakat memakai genset untuk penerangan di malam hari. Sarana komunikasi sebagian telah terpenuhi dengan berdirinya beberapa BTS operator selular.

Daerah penyelidikan berada tepat di bagian selatan garis khatulistiwa dengan suhu udara rata-rata dengan kisaran 25º - 35º C. Curah hujan cukup tinggi dengan musim hujan biasanya antara bulan November sampai Maret dan musim kemarau antara bulan Juni sampai Agustus, sedangkan bulan-bulan lainnya merupakan masa peralihan.

Waktu dan Pelaksana
Pelaksanaan kegiatan dilakukan selama 40 hari, mulai dari tanggal 14 April - 23 Mei 2009. Pelaksana terdiri dari tim pemetaan geologi yang dilakukan oleh petugas dari Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.
 
METODA PENYELIDIKAN
 
Pekerjaan lapangan merupakan pemetaan geologi permukaan dan pencarian rembesan-rembesan minyak serta batuan-batuan yang diduga sebagai batuan induk.

Batuan induk adalah batuan yang dapat menghasilkan hidrokarbon, umumnya berupa sedimen klastik halus antara lain serpih, coaly shale, batulempung, batulanau, napal dan batugamping. Selain ciri-ciri megaskopis, salah satu cara mendeteksi batuan induk yang kaya material organik adalah dengan membakar batuan ini dan menghasilkan aroma hidrokarbon/aspal dan merupakan salah satu indikasi batuan induk yang kaya material organik.

Pengambilan conto batuan induk adalah untuk mengetahui karakteristiknya secara analisis geokimia. Analisis ini dapat menjelaskan tipe batuan induk, kekayaan dan kematangannya. Sedangkan conto rembesan selain menjelaskan asal material organik dan kematangan termal juga dapat memberikan informasi lingkungan pengendapan, biodegradasi dan korelasi batuan induk dengan minyak tersebut.
 
PENYELIDIK TERDAHULU
 
Penyelidikan geologi secara regional dirintis oleh geologis Belanda. Hasil penyelidikan mereka menemukan batolit granit yang sekarang dinamakan batolit Schwaner.

Kegiatan penyelidikan yang mengarah kepada eksplorasi sumber daya geologi mulai dilakukan pada tahun 1970-an. Kerjasama BATAN – CEA ditujukan untuk mencari endapan mineral radioaktif di hulu Sungai Ella Ilir. Pada tahun 1979, eksplorasi minyak bumi dilakukan di Cekungan Melawi dan Ketungau yang dilakukan oleh Elf Aquitaine dan Total Indonesie dan dilanjutkan dengan pemboran sumur ekplorasi Kayan #1, namun tidak dilanjutkan.

Penyelidikan gabungan P3G – AGSO (1983 - 1984) melakukan pemetaan bersistem geologi lembar Nangapinoh disertai dengan kompilasi data anomali gayaberat dan isotop. Ibrahim, D., 2008 melakukan survey pendahuluan bitumen padat di Nangadangkan dan melaporkan keterdapatan endapan bitumen padat pada Serpih Silat berumur Eosen Akhir. Rahmat, S. B., 2008 melakukan penyelidikan lanjutan Bitumen Padat di Daerah Nanga Silat dan Sekitarnya, Kabupaten Kapuas Hulu.
 
GEOLOGI UMUM

 

Keadaan geologi diperoleh berdasarkan publikasi Peta Geologi Lembar Nanga Pinoh, Kalimantan, skala 1 : 250.000, terbitan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung (Amiruddin dan D. S. Trail, 1993).

Fisiografi secara umum terdiri dari Dataran Rendah Melawi di bagian utara dan Dataran Tinggi Schwaner di bagian selatan. Fisiografi rincinya dibedakan lagi dengan adanya Dataran Tinggi Beturan dan Pelataran Alat di bagian Timurlaut yang kemenerusannya terputus oleh Dataran Rendah Melawi. Di bagian selatan Dataran Rendah Sayan, dicirikan oleh cekungan antar gunung membentuk fisiografi yang khas dan berkembang di sepanjang Sungai Pinoh di Pegunungan Schwaner. Tektoniknya dibangun oleh rangkaian sedimen Tersier Awal pada cekungan asimetris, yaitu Cekungan Melawi yang dialasi oleh batolit granit berumur Kapur dan metamorf regional Pinoh (Gambar 2).

Cekungan Melawi dengan ketebalan hingga 5 km tersusun oleh sedimen fluvial, lagun dan laut. Selain itu, fragmen piroklastik membentuk banyak horison-horison, menunjukkan adanya pengaruh aktivitas volkanik yang singkat dan berlangsung dalam periode yang lama. Secara keseluruhan, di bagian tengah batas antara Cekungan Melawi dan Batolit Schwaner mengikuti garis Barat - Baratlaut sepanjang lebih dari 300 km dan kemungkinan dibatasi oleh sesar yang tertimbun dengan arah tersebut. Di bagian barat dan timur, sedimen yang setara berumur Kapur, masing-masing Formasi Pedawan dan Kelompok Selangkai diperkirakan mengalasi Cekungan Melawi. Sedangkan batas utara Cekungan Melawi dipisahkan oleh kompleks melange berumur Kapur yang membentuk Punggungan Semitau.

Stratigrafi
Stratigrafi Nangapinoh mencakup dua propinsi geologi yang berbeda yaitu Batolit Schwaner berumur Kapur dan runtunan sedimen Tersier Cekungan Melawi.

Batolit Schwaner, tersusun terutama oleh Tonalit Sepauk berumur Kapur Awal melampar luas di bagian selatan. Granit Sukadana berumur Kapur Akhir membentuk pluton dan stok yang berbeda menerobos Tonalit Sepauk. Batuan terobosan Granit Laur berumur Kapur Awal. Batuan gunungapi Menunuk berumur Kapur Awal tersusun oleh tufa hablur tersesarkan dan menutup tak selaras batolit Schwaner. Batuan plutonik di atas memalihkan secara termal batuan pelit menghasilkan Malihan Pinoh, sebagian besar membentuk intricate dalam tubuh batolit. Kemudian batuan malihan dan pluton di atas diterobos kembali oleh retas mafik, yaitu Gabro Biwa berumur Kapur Akhir. Selanjutnya Batuan Gunungapi Kerabai berumur Kapur Akhir, menutup takselaras Tonalit Sepauk, Granit Sukadana dan Malihan Pinoh.

Sedimen Cekungan Melawi terdiri atas batuan-batuan berumur Tersier dan Kuarter yang dialasi oleh kelompok batuan Batolit Schwaner. Batuan sedimen tertua adalah Fm. Ingar merupakan sedimen klastik darat berumur Eosen Akhir. Selanjutnya Batupasir Dangkan berumur Eosen Atas menutup tak selaras Fm. Ingar. Serpih Silat menutup selaras Batupasir Dangkan.

Aktivitas volkanisme selama Tersier berupa intrusi batuan Terobosan Sintang berkomposisi intermedier menerobos hampir seluruh runtunan sedimen Tersier dan batuan Batolit Schwaner.

Endapan Kuarter merupakan endapan permukaan dan melampar tak selaras di atas batuan-batuan yang lebih tua, terdiri dari endapan aluvial dan endapan rombakan di sekitar Plato Alat.

Struktur Geologi
Struktur yang berkembang cenderung berasosiasi dengan provinsi geologi batuan berada, sehingga gejala struktur yang nampak dikelompokkan berdasarkan provinsi geologinya.

Sesar dan struktur minor seperti retas dan perdaunan dijumpai pada batuan batolit Schwaner. Lipatan dan sesar serta struktur minor berkembang pada batuan sedimen Tersier di Cekungan Melawi. Struktur yang berkembang pada batuan malihan Pinoh dicirikan oleh adanya belahan dan kesekisan.

Indikasi Kandungan Minyak

Penyelidikan terpadu di Cekungan Melawi yang dilakukan oleh Elf Aquitaine menduga bahwa batulempung Fm. Ingar dan Serpih Silat sebagai batuan induk. Pemboran eksplorasi pada sumur Kayan #1 di bagian selatan kota Nanga Tebidah dengan kedalaman total 1.800 m menembus batupasir Payak dan fasies Serpih Silat. Pemboran ini menemukan bahwa batupasir memiliki tingkat porositas yang kecil.

Penyelidikan bitumen padat oleh Ibrahim (2008), di bagian utara daerah ini menunjukkan batuan Serpih Silat memiliki kandungan minyak dengan kandungan sampai 40 l/ton berdasarkan hasil retort.

HASIL PENYELIDIKAN
 
Geologi
Daerah penyelidikan merupakan bagian dari Cekungan Melawi yang tersusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan sebagian batuan terobosan yang mengintrusi semua formasi sedimen Tersier. Batuan terobosan terdapat di bagian Baratlaut daerah penyelidikan dengan kenampakan morfologi yang kontras berupa bukit-bukit terjal diantara perbukitan rendah bergelombang yang dibentuk oleh batuan sedimen Tersier Cekungan Melawi.

Kegiatan pemetaan geologi permukaan dan pencarian singkapan batuan-batuan khususnya oil shale mengikuti arah dan kemiringan singkapan-singkapan yang ada. Kegiatan dilakukan dengan menyusuri S. Kayan dan S. Ingar maupun melalui jalan darat terutama pada kupasan-kupasan jalan perkebunan kelapa sawit. Semua kedudukan lapisan diukur dan diplot pada peta dasar geologi skala 1 : 50.000.

Morfologi
Secara fisiografi daerah penyelidikan termasuk bagian dari Dataran Rendah Melawi. Bentuk bentang alamnya secara umum memperlihatkan satuan morfologi perbukitan rendah bergelombang yang mempunyai elevasi sekitar 100 - 250 m di atas muka laut (Foto 1).

Kenampakan reliefnya mencerminkan litologi yang tersusun oleh perselingan antara batuan keras dan lunak atau relatif lebih resisten dan kurang resisten terhadap erosi seperti batupasir dengan batulempung atau serpih. Satuan ini ditempati oleh batuan sedimen Fm. Ingar, Fm. Payak dan Fm. Tebidah. Pola aliran sungai menunjukkan stadium tua berupa sungai-sungai ber meander, seperti ditunjukkan oleh aliran S. Kayan dan S. Ingar.

Satuan morfologi perbukitan sedang memberikan kenampakan relief yang dapat dibedakan dari satuan morfologi perbukitan rendah bergelombang. Satuan ini membentuk bukit-bukit terjal yang letaknya terpencar di bagian Baratlaut daerah penyelidikan dan tersusun oleh batuan terobosan Sintang dengan elevasi antara 200 - 550 m di atas permukaan laut.

Stratigrafi
Stratigrafi daerah penyelidikan merupakan bagian dari Cekungan Melawi. Batuan penyusunnya terdiri dari runtunan batuan sedimen Tersier yaitu Fm. Ingar, Fm. Payak, Fm. Tebidah dan Batuan Terobosan Sintang yang berumur Eosen hingga Miosen. Peta geologi serta lokasi singkapan-singkapan batuan dan stratigrafi daerah penyelidikan dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4.

Formasi Ingar (Tei) tersusun oleh perselingan batulumpur karbonatan, batulanau, batupasir fragmen gunungapi. Formasi ini berumur Eosen Atas dan diendapkan di lingkungan delta hingga estuarin.

Formasi Payak (Teop) terdiri dari batupasir bersisipan batulumpur dan batulanau, konglomerat alas dan lapisan tipis batubara. Satuan ini terletak tak selaras di atas Fm. Ingar, umurnya adalah Eosen Atas - Oligosen Bawah dan diendapkan di lingkungan fluviatil.

Formasi Tebidah (Tot) terdiri dari perselingan antara batupasir dan batulanau pasiran, dan batulumpur bersisipan batubara. Satuan ini terletak selaras di atas Fm. Payak, berumur Oligosen Atas dan diendapkan pada lingkungan estuarin dan dataran banjir.
Batuan Terobosan Sintang (Toms) terdiri atas andesit, granodiorit, dasit, granit, riolit, dan diorit kuarsa. Batuan ini menerobos hampir semua batuan yang lebih tua, umurnya diperkirakan Oligosen – Miosen.

Endapan aluvial (Qa) berumur Kuarter menutup tak selaras seluruh batuan di bawahnya, terdiri dari material rombakan kerikil, pasir, lempung, bahan tetumbuhan dan emas.

Struktur Geologi
Pola struktur yang terbentuk terdiri dari struktur minor berupa kekar-kekar dengan kelurusan berarah Timurlaut - Baratdaya sampai Timur - Barat. Kekar-kekar ini terbentuk secara intensif hampir pada semua satuan batuan. Di beberapa tempat singkapan-singkapan batuan, kekar-kekar ini terisi mineral kalsit dan menunjukkan choncoidal weathering.

Bidang perlapisan singkapan-singkapan batuan pada Fm. Ingar di sekitar lokasi intrusi membentuk arah yang berbeda-beda, kemungkinan disebabkan oleh terobosan tipe retas dan sumbat yang memotong lapisan batuan.

Endapan Bitumen Padat
Data Lapangan dan Interpretasi
Penyelidikan lapangan untuk mencari batuan induk difokuskan pada Fm. Ingar yang tersebar di bagian utara daerah penyelidikan, sedangkan pencarian rembesan minyak dilakukan pada semua formasi batuan.

Formasi Ingar merupakan sedimen tertua di Cekungan Melawi. Di daerah penyelidikan pelamparannya terdapat di bagian utara. Dari hasil penyelidikan yang dilakukan dengan menyusuri S. Ingar, ditemukan singkapan-singkapan batuan. Umumnya memperlihatkan perselingan antara perlapisan tebal dengan perlapisan tipis dari batulanau lempungan, batulempung lanauan, batupasir lanauan dan batupasir halus (Foto 2).

Perlapisan tebal umumnya tersusun oleh batuan yang lebih resisten yaitu batupasir halus, sedangkan perlapisan tipis tersusun oleh perselingan batulanau lempungan, batulempung lanauan dan batupasir lanauan. Ketebalan perlapisan berkisar antara beberapa sentimeter sampai 0,50 m, memperlihatkan batuan yang lunak dari batulempung dan batuan yang keras dari batupasir, sedangkan perlapisan tebal cenderung memperlihatkan lapisan masif dengan ketebalan satu meter sampai lebih dari tiga meter. Batuan pada formasi ini umumnya berwarna abu-abu sampai abu-abu kehijauan, pemilahan baik, kesarangan rendah, kemas tertutup, keras, non-karbonatan, pejal pada batuan perlapisan tebal, umumnya terkekarkan dengan tebal kurang dari satu sentimeter. Sebagian kekar terisi mineral kalsit dan menunjukkan choncoidal weathering. Arah jurus perlapisan batuan umumnya Timurlaut - Baratdaya di bagian selatan, sedangkan di bagian utara tidak terbentuk arah jurus secara umum, kemungkinan dipengaruhi oleh batuan-batuan intrusi Sintang.

Formasi Payak tersebar di bagian tengah daerah penyelidikan dengan arah jurus Timurlaut - Baratdaya sampai Timur - Barat. Singkapan-singkapan formasi ini dapat dijumpai di sepanjang dan sekitar aliran S. Kayan, yang tersusun oleh litologi batupasir halus dan batulanau pasiran, berwarna abu-abu kehijauan, pemilahan baik, kemas tertutup, porositas rendah. Satuan ini membentuk perulangan perlapisan tebal dan tipis, umumnya terkekarkan. Setempat dijumpai konglomerat alas pada satuan batupasir halus (Foto 3).

Formasi Tebidah terdapat di bagian selatan umumnya singkapan ditemukan pada aliran sepanjang S. Kayan. Dicirikan oleh perlapisan tebal, tersusun terutama oleh litologi batupasir halus, warna abu-abu kehijauan, pemilahan baik, kemas tertutup, porositas sedang. Sebagian singkapan lagi dicirikan oleh batupasir kasar konglomeratan yang terletak di bagian bawah yang kaya akan fosil moluska, karbonatan dalam masa dasar pasir, sedangkan di bagian atas tersusun oleh batulanau lempungan dan batupasir halus (Foto 4).

Endapan aluvial berumur Holosen terdiri atas material lepas lempung, lanau, material tetumbuhan dan pasir yang mengandung emas menutup tak selaras seluruh formasi di bawahnya.

Potensi Kandungan Minyak dalam Batuan
Potensi kandungan minyak dalam batuan dapat diperoleh berdasarkan analisa di laboratorium. Beberapa conto batuan hasil penyelidikan lapangan dipilih untuk dianalisa petrografi, retort dan rock-eval.

a. Analisa Petrografi
Analisa petrografi organik dilakukan untuk mengetahui tipe kandungan organik yang terkandung di dalam batuan termasuk jenis dan kelimpahannya. Tingkat kematangan batuan diperoleh dari hasil analisis petrografi organik berdasarkan nilai reflektansi maseral vitrinit.

Sepuluh conto batuan dari daerah penyelidikan dianalisis untuk mengetahui kandungan maseral/organik secara umum dan tingkat kematangan batuan. Hasil analisis petrografi dapat dilihat Tabel 1. Hasil analisis petrografi menunjukkan bahwa lima (5) conto batuan mempunyai tingkat kematangan batuan yang direfleksikan oleh vitrinit refleksi berkisar dari Rv 0,39 – Rv 0,83% (mean). Sedangkan lima (5) conto batuan yang lain tidak dapat diukur oleh karena absennya kandungan vitrinit. Secara umum tingkat kematangan batuan di daerah penyelidikan adalah ’immature’. Satu conto batuan yaitu NPH-108 menunjukkan tingkat kematangan batuan agak tinggi yaitu Rv 0,83%. Tingginya nilai ini agak meragukan dan diduga maseral yang dapat diukur bukanlah vitrinit yang sebenarnya. Kemungkinannya adalah kandungan maseral vitrinit yang terkandung di dalam batuan sudah teroksidasi atau bahkan merupakan maseral inertinit. Kandungan maseral vitrinit di dalam conto-conto batuan umumnya jarang (<0,1%) hingga absen. Hanya satu conto (NPH-333) yang mengandung vitrinit ’sparse’ atau <0,49%.

Kandungan maseral inertinit dalam conto batuan juga umumnya jarang (<0,1%) sampai absen. Demikian juga dengan kandungan maseral liptinit sangat jarang hingga absen. Dijumpai sporinit berwarna kekuningan pada conto NPH-333 dengan kandungan kurang dari 0,49%.

Material organik berupa pirit atau oksida besi pada semua conto berkisar antara 0,1 - <2,0%. Fragmen-fragmen fosil (<0,1%) ditemukan pada conto NPH-108.

Keberadaan material organik berupa maseral liptinit dapat dilihat dari sinar fluoresensi. Semua conto tidak menunjukkan adanya maseral liptinit, hanya satu conto yang menunjukkan sporinit pada conto NPH-333.

Keberadaan material organik dalam conto-conto batuan berupa ’dispersed organic matter’ (dom) berdasarkan analisis petrografi memberikan nilai kurang dari 0,1%.

Dari hasil analisis petrografi organik pada semua conto-conto batuan (Tabel 1) dapat disimpulkan bahwa kandungan material organik sangat jarang. Oleh karena itu, dalam hal ini Fm. Ingar yang diduga sebagai formasi batuan sumber diragukan dapat memberikan atau menghasilkan minyak bumi. Jika formasi ini mengandung material organik, maka kemungkinan keberadaannya terletak pada lapisan paling bawah(?).

Informasi terdahulu menyebutkan (Panggabean, H., 2009; personal komunikasi) ditemukannya singkapan atau rembesan minyak bumi (di bagian timur lembar daerah penyelidikan) diduga dapat bersumber dari Fm. Serpih Silat yang memang mengandung ’rich’ material organik (Rahmat, S. B., 2008).

Sebagai tambahan, munculnya rembesan-rembesan minyak bumi di bagian timur daerah penyelidikan yang diduga bersumber dari Fm. Serpih Silat dapat terjadi oleh karena adanya intrusi-intrusi batuan Terobosan Sintang sehingga dimungkinkan tingkat kematangan batuan yang cepat secara setempat.

b. Analisa Retorting
Banyaknya kandungan minyak di dalam batuan dapat diketahui berdasarkan analisis retort.

Analisa retorting dilakukan untuk mengetahui kuantitas minyak yang terkandung di dalam batuan melalui pemanasan. Sebagai hasilnya dapat diketahui kandungan minyak di dalam liter/ton, kandungan air dalam liter/ton dan berat jenis minyak dalam gram/ton.

Sebanyak 10 conto batuan bitumen (Tabel 2) dianalisis untuk mengetahui kandungan minyak yang terdapat di dalam masing-masing conto batuan.

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa semua conto batuan yang dianalisis tidak menunjukkan adanya kandungan minyak dan atau tidak terdeteksi.

c. Analisa TOC dan Rock-Eval
Analisa TOC dan pirolisis Rock-Eval dilakukan untuk mendukung evaluasi potensi hidrokarbon, terutama untuk mengetahui jumlah, tipe kerogen dan tingkat kematangan batuan bitumen.

Analisa ini dilakukan untuk mengetahui potensi, tingkat kematangan termal dan tipe kerogen yang terkandung di dalam bantuan sumber. Selain itu, dengan metode pirolisis dapat ditentukan tipe dari material organiknya. Tingkat kematangan termal batuan induk tersebut hasilnya dikorelasikan dengan tingkat kematangan batuan induk yang diperoleh berdasarkan reflektansi vitrinit (petrografi organik).

Sebanyak 9 conto batuan dianalisis untuk mengetahui kandungan material organik (TOC) dan Analisis Rock Eval untuk mengetahui karakteristik batuan yang menghasilkan minyak yang terkandung di dalam batuan, hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Berdasarkan hasil analisis total organik karbon (TOC) terlihat kandungan material organik batuan berkisar antara 0,08 – 0,39%. Menurut Peters dan Waples, D. W., (1988) batuan yang mengandung <0,5 (% berat) kandungan organik dikategorikan sebagai batuan sesumber minyak “miskin” (poor). Hasil analisis pirolisis menunjukkan hal yang sama, dari 9 conto batuan menunjukkan kandungan kerogen yang rendah dengan nilai S2 antara 0,00 dan 0,25 mg/g (Gambar 5).

Pengukuran tingkat kematangan termal batuan dilakukan berdasarkan harga temperatur maksimum (Tmax) dari analisis pirolisis. Sembilan conto batuan yang dianalisis menunjukkan nilai Tmax antara 3360C – 4630C yang mencerminkan tingkat kematangan termal belum matang - awal matang (immature - early mature). Meskipun terdapat conto dengan tingkat kematangan awal matang, karena nilai S2 yang sangat rendah (<0,5mg/g), harga Tmax pada perconto tersebut tidak dianjurkan untuk dipergunakan.

Penentuan tipe kerogen menggunakan data pirolisis rock-eval. Kombinasi antara indeks hidrogen (HI) dan indeks oksigen menunjukkan kerogen tipe III yang lebih cenderung berpotensi sebagai gas prone (Gambar 6).

Demikian juga kombinasi antara indeks hidrogen (HI) dan TOC menunjukkan perconto lebih cenderung membentuk gas, meskipun diketahui potensi sebagai batuan induknya rendah (Gambar 7).

Dengan kandungan TOC dan S2 yang rendah, conto bebatuan daerah penyelidikan dapat dikategorikan sebagai bukan batuan induk yang potensial (non potential source rock). Dengan kandungan material organik yang rendah tidak dapat diharapkan akan mendapatkan batuan induk yang potensial meskipun telah melewati tingkat kematangan termal batuan. Tipe conto batuan lebih cenderung ke dalam kerogen tipe III (gas prone).

Dengan tingkat kematangan yang rendah, diperkirakan bahwa batuan sesumber memang memiliki kerogen penghasil gas (gas prone) dan bukan gas yang dihasilkan setelah ambang pembentukan minyak (oil window) terlewati.

Sumber Daya Batuan dan Minyak
Sumber daya minyak didapatkan dari hasil perkalian berat batuan pengandung minyak dengan kandungan minyak per ton batuan. Berdasarkan hasil analisa retort perconto batuan tidak menunjukkan adanya kandungan minyak atau tidak terdeteksi sehingga perhitungan sumberdaya batuan maupun minyak tidak dapat dilakukan.
 
KESIMPULAN

Dalam penyelidikan ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Daerah penyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Melawi sebagai salah satu cekungan Tersier yang diduga berpotensi sebagai penghasil endapan hidrokarbon di Indonesia.
  2. Susunan stratigrafi dari tua ke muda yaitu Fm. Ingar, Fm. Payak, Fm. Tebidah dan Endapan Aluvial. Selain itu terdapat intrusi batuan Terobosan Sintang yang memotong hampir semua batuan sedimen di atas.
  3. Litologi batuan pada formasi-formasi yang dijumpai didominasi oleh batulanau hingga batupasir halus dan sedikit batulempung.
  4. Secara visual, semua singkapan-singkapan batuan yang ditemukan baik di dalam Fm. Ingar maupun di dalam Fm. Tebidah dan Fm. Payak tidak menunjukkan adanya kandungan organik yang signifikan.
  5. Hasil analisa petrografi organik menunjukkan kandungan organik dalam batuan tidak memberikan nilai yang cukup sebagai batuan sumber.
  6. Tingkat kematangan batuan berkisar antara Rv. 0,39 – Rv. 0,83% (mean).
  7. Hasil analisa analisa retort maupun TOC dan Rock-Eval menunjukkan bahwa batuan yang diperkirakan sebagai batuan induk memiliki kandungan material organik, kandungan minyak dan tingkat kematangan yang rendah.
UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terimakasih disampaikan kepada pejabat pemerintah daerah di Kalimantan Barat serta masyarakat setempat. Kepada  Kepala Pusat, Pejabat Pembuat Komitmen serta Koordinator Kelompok Program Penelitian Energi Fosil beserta staf, Pusat Sumber Daya Geologi di Bandung disampaikan terimakasih atas bantuan yang diberikan sejak awal sampai selesainya kegiatan lapangan.

DAFTAR PUSTAKA


Amiruddin dan Trail, D. S., 1993. Geologi Lembar Nangapinoh, Kalimantan. Departemen Pertambangan Dan Energi. Direktorat Jenderal Geologi Dan Sumber Daya Mineral. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Ibrahim, D., 2007. Laporan Survey Pendahuluan Bitumen Padat Di Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Badan Geologi. Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.

Ibrahim, D., 2008. Laporan Penyelidikan Pendahuluan Bitumen Padat Di Daerah Nanga Dangkan Dan Sekitarnya, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Badan Geologi. Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.

Rahmat, S. B., 2008. Laporan Penyelidikan Lanjutan Bitumen Padat Di Daerah Nanga Silat dan Sekitarnya, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Badan Geologi. Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.

Zed, F., 2009. Indonesia Energy Outlook 2007 – 2030. Pertemuan Tahunan Pengelolaan Energi Nasional. Jakarta, 3 Desember 2009. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, Jakarta.