Eksplorasi Umum Batumulia Di Daerah Pulau Kasiruta Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara

Irwan Muksin, Zulfikar, Herry R.E., Martua R. P

Kelompok Program Penelitian Mineral

 

Sari


Secara administratif, lokasi eksplorasi umum Batumulia terletak di daerah Pulau Kasiruta, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis, daerah ini dibatasi oleh koordinat  127º 05’ 28” - 127º 12’ 56” Bujur Timur dan 0º 17’ 41” - 0º 28’ 57” Lintang Selatan.

Satuan batuan yang terdapat di daerah penyelidikan adalah Satuan Lava Andesit, satuan ini hampir menutupi sebagian besar daerah penyelidikan; Satuan Batugamping, menempati bagian utara timur daerah penyelidikan: Satuan Breksi Volkanik, menempati sedikit wilayah daerah penyelidikan di sudut selatan; Endapan Aluvium, menempati daerah pedataran bagian selatan daerah penyelidikan.  

Keterdapatan batumulia jenis krisokola dijumpai berupa urat - urat mengisi rekahan yang terdapat pada batuan lava andesit, secara geologi termasuk dalam penyebaran satuan lava andesit yang berumur Oligosen. Batumulia jasper dijumpai berupa bongkah-bongkah di sungai dan di pantai, terdapat bersama-sama dengan bongkah-bongkah krisokola. Di pantai Waringin, Desa Imbuimbu krisokola mempunyai sumber daya hipotetik sebesar 2.000 m3, sedang jasper dengan sumber daya hipotetik sebesar 1.000 m3.

Keterdapatan batumulia krisokola di daerah Pulau Kasiruta ini tersebar di tujuh lokasi meliputi wilayah empat desa, yaitu Desa Palamea, Desa Imbuimbu, Desa Doko dan Desa Bisori. Sedangkan batumulia jasper tersebar di dua desa yakni Desa Doko dan Desa Imbuimbu.

Batumulia krisokola dan jasper dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku batu permata atau perhiasan.
PENDAHULUAN


Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2008, Pusat Sumber Daya Geologi telah mengadakan kegiatan eksplorasi umum endapan batumulia di daerah Pulau Kasiruta, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Eksplorasi umum ini dilaksanakan berdasarkan hasil penyelidikan terdahulu, yaitu Eksplorasi Pendahuluan Batumulia dan Bahan Galian Industri di daerah Pulau Bacan dan Pulau Kasiruta di Kabupaten Maluku Utara, Provinsi Maluku,  pada tahun 1993 yang dilakukan oleh Direktorat Sumberdaya Mineral sekarang menjadi Pusat Sumber Daya Geologi dan merekomendasikan untuk dilakukannya  eksplorasi umum batumulia guna mendapatkan gambaran secara lebih akurat dan lengkap sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengembangan dari potensi batumulia.

Kegiatan eksplorasi umum endapan batumulia di daerah Pulau Kasiruta, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara ini dimaksudkan untuk mendapatkan data yang lebih akurat dan aktual guna mengetahui lebih jauh keterdapatan endapan batumulia yang mempunyai prospek cukup baik untuk dapat dikembangkan.

Lokasi eksplorasi umum terletak di daerah Kecamatan Kasiruta Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis, daerah ini dibatasi oleh koordinat  127º 05’ 28” - 127º 12’ 56” Bujur Timur dan 0º 17’ 41” - 0º 28’ 57” Lintang Selatan.

Pencapaian lokasi dapat dicapai dari Jakarta ke Ternate dengan menggunakan pesawat udara. Daerah eksplorasi dapat dicapai dengan menggunakan jalur laut dari Ternate melalui Pulau Bacan dilanjutkan ke Pulau Kasiruta.
 
GEOLOGI DAN POTENSI BAHAN GALIAN


Satuan morfologi daerah penyelidikan terdiri dari dua satuan morfologi, yaitu :
Satuan morfologi perbukitan, ditandai oleh relief topografi yang bergelombang, di daerah penyelidikan sebagian morfologi ini mempunyai bentuk puncak yang melebar. Satuan ini sebagian besar ditempati oleh batuan volkanik seperti breksi gunungapi dan lava andesit. Bagian puncak dari perbukitan ini masih berupa hutan, sedangkan bagian lerengnya dijadikan oleh masyarakat sekitar sebagai lahan perkebunan. Satuan ini menempati bagian tengah daerah penyelidikan, memanjang hampir utara-selatan.

Satuan morfologi pedataran, terutama didominasi oleh satuan aluvium, terdapat di bagian selatan sekitar daerah aliran sungai Kasiruta serta sedikit di bagian barat daerah penyelidikan di sepanjang pantai. Morfologi ini tersusun oleh batuan hasil endapan sungai berupa kerakal, kerikil dan bongkah.

Dari hasil penyelidikan lapangan, dapat diketahui berbagai jenis batuan di daerah penyelidikan. Jenis-jenis batuan yang terdapat di daerah penyelidikan terdiri dari batuan volkanik dan batuan sedimen. Batuan volkanik terdiri dari breksi gunungapi dan lava andesit, tersebar di bagian barat dan tengah pulau Kasiruta. Lava andesit di beberapa tempat menunjukan struktur lava bantal dan alur-alur bekas aliran lava. Pada umumnya lava andesit ini telah mengalami ubahan propilitisasi, demikian pula halnya dengan komponen andesit dalam breksi gunungapi. Gejala mineralisasi dijumpai berupa mineral berwarna biru kehijauan yang terdapat mengisi rekahan dalam lava andesit ataupun di dalam semen batuan breksi gunungapi. Pada beberapa tempat dijumpai batupasir dan batulempung sebagai sisipan.

Batuan sedimen terdiri dari batugamping dan batugamping pasiran, tersebar di bagian tenggara dan utara Pulau Kasiruta, sedangkan batuan tufa pasiran dijumpai tersebar di bagian selatan dan baratdaya Pulau Kasiruta.

Berdasarkan pengumpulan data primer hasil pengamatan langsung di lapangan, di daerah penyelidikan terdapat beberapa jenis batumulia, yaitu  krisokola dan jasper.

Potensi batumulia di Pulau Kasiruta terpusat di bagian barat pulau Kasiruta, terutama di sekitar wilayah Desa Palamea, Desa Doko, Desa Bisori dan Desa Imbuimbu.

Krisokola
Krisokola dijumpai berwarna hijau kebiruan, bersifat amorf dengan kekerasan berkisar antara 3 – 4 pada skala Mohs. Kilap tanah sampai kaca, dan bersifat translusen sampai opak. Krisokola primer dijumpai terdapat sebagai urat-urat pengisi rekahan dalam batuan breksi volkanik dan lava andesit. Urat-urat dijumpai setempat-setempat dengan ketebalan berkisar antara 0,5 – 20 cm dan panjang tidak menentu, umumnya sekitar 1 – 50 cm. Urat berbentuk tidak beraturan dengan arah umum N 300o E. Sebagian krisokola ini telah mengalami proses silisifikasi sehingga kekerasan dapat mencapai 7 pada skala Mohs.

Urat-urat dapat ditemukan pada permukaan maupun pada kedalamaan beberapa puluh meter di dalam lubang-lubang penggalian. Selain sebagai endapan primer berupa urat-urat, krisokola juga dijumpai sebagai endapan sekunder berupa bongkah-bongkah berukuran mencapai sekitar 10 cm di sungai-sungai yang melalui daerah penyelidikan, ataupun di pantai-pantai.

Lokasi keterdapatan krisokola antara lain daerah Sungai Kawasi dan Sungai Palamea Kecil (Desa Palamea), S. Juli, Tanjung Gulao dan Majiko (Desa Doko), Desa Bisori dan Desa Imbuimbu.
 
a. Daerah Kawasi, Desa Palamea.
Di daerah ini (lokasi KS-01, KS-12, KS-38, dan KS-39) dijumpai beberapa urat-urat krisokola berukuran tebal sekitar 1 hingga 10 cm dengan panjang sekitar 10 cm dengan arah umum N 295o E. Penyebaran urat umumnya tidak menerus dan terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Urat-urat dapat dijumpai di permukaan ataupun pada kedalaman mencapai 35 meter pada lubang-lubang penggalian oleh penduduk setempat. Hasil analisis petrografi terhadap urat krisokola dari lokasi KS-01 menunjukkan komposisi mineral terdiri dari plagioklas (67%), piroksen (25%), mineral opak (8%). Untuk KS-12, komposisi mineral terdiri dari mineral opak (77%), kalsedon 15%, aragonit 5%, zeolit 3%. Sedangkan hasil analisis kimia major element terhadap conto dari lokasi KS-01 memberikan kandungan SiO2 55,65%, Al2O3 16,52%, Fe2O3 8,62%, CaO 6,66%, MgO 2,32%, Na2O 3,03%, K2O 1,7%, P2O5 0,38%, dan MnO 0,16%. Bongkah-bongkah krisokola berukuran 1 - 5 cm dijumpai di Sungai Palamea pada lokasi KS-11 dan KS-14.

Selain sebagai bongkah di sungai, krisokola juga dijumpai berupa butiran berwarna hijau kebiruan, berbentuk menyudut tanggung, berukuran beberapa milimeter pada konsentrat dulang di lokasi KS-13.

b. Daerah S. Palamea Kecil, Desa Palamea.
Di daerah ini krisokola dijumpai di lokasi KS-15 dan KS-41 berupa urat-urat berwarna hijau kebiruan berukuran tebal sekitar 1-10 cm dan panjang mencapai 15 cm dengan arah umum N 300oE. Penyebaran urat umumnya tidak menerus dan terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Hasil analisis petrografis terhadap conto urat di lokasi KS-15 menunjukkan kandungan mineral yang dominan adalah plagioklas 52%, piroksen 3%, gelas 40% dan mineral opak 5%. Sedangkan mineral berwarna hijau kebiruan terdapat dalam jumlah sedikit. Pemeriksaan mineralogi butir terhadap konsentrat dulang di lokasi ini tidak menunjukkan adanya butiran mineral krisokola. Selain berupa urat-urat, di lokasi ini krisokola juga dijumpai berupa bongkah-bongkah berukuran mencapai 20 cm di sepanjang sungai Palamea Kecil, antara lain di lokasi KS-16. 

c. Daerah S. Juli, Desa Doko.
Di daerah sekitar aliran Sungai Juli, terutama di lokasi dan KS-03, KS-04,  KS-19, KS-36 dan KS-37 dijumpai urat-urat mineral krisokola pada batuan breksi gunungapi. Ketebalan urat bervariasi dari beberapa milimeter hingga mencapai 10 cm dengan panjang 20 cm. Arah umum urat N 290o E dan umumnya tidak menerus serta terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung.  Hasil analisis kimia major element terhadap conto urat krisokola dari lokasi KS-03 dan KS-19 menunjukkan kandungan SiO2 55,02-94,70%, Al2O3 0,65-14,56%, Fe2O3 6,86%, CaO 4,03%, MgO 1,54%, Na2O 0,42%, K2O 0,05-0,47%, P2O5 0,20-0,23%, dan MnO 1,56-2,03%.  Sedangkan hasil pemeriksaan petrografi terhadap conto dari lokasi KS-19 menunjukkan komposisi mineral terdiri dari kalsedon 67%, aragonit 13%, mineral opak 10% dan oksida besi 10%. Bongkah-bongkah krisokola berukuran mencapai 15 cm dijumpai tersebar di sepanjang aliran Sungai Juli terutama pada lokasi KS-17 dan KS-18.  Konsentrat dulang dari lokasi KS-22 menunjukkan komposisi mineral didominasi oleh mineral piroksen, kuarsa, magnetit, hematit, dan oksida besi. Sedangkan butiran krisokola dijumpai dalam jumlah sedikit.

d. Daerah Tanjung Gulao, Desa Doko.
Urat-urat mineral krisokola berwarna hijau kebiruan di daerah Tanjung Gulao dijumpai di lokasi KS-10 dan KS-34. Urat-urat dijumpai berukuran tebal mencapai 5 sentimeter dengan panjang rata-rata10 cm. Penyebaran urat umumnya tidak menerus dan terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Hasil analisis kimia unsur utama terhadap conto urat dari lokasi KS-10 menunjukkan kandungan SiO2 72,11%, Al2O3 1,67%, Fe2O3 0,47%, CaO 1,33%, MgO 0,32%, Na2O 0,78%, K2O 0,28%, P2O5 0,27%, dan MnO 2,75%.  Hasil analisis petrografi terhadap urat krisokola dari lokasi KS-10 menunjukkan komposisi mineral terdiri dari mineral opak (80%), dan kalsedon 20%.

e. Daerah Majiko, Desa Doko.
Di daerah Majiko, urat-urat krisokola dijumpai terdapat di lokasi KS-08, KS-24, dan KS-25. Urat krisokola dijumpai berukuran tebal mencapai 20 sentimeter dengan panjang rata-rata 50 – 100 sentimeter berarah umum N 300o E. Penyebaran urat umumnya tidak menerus dan terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Hasil analisis kimia unsur utama  dari conto lokasi KS-08 menunjukkan kandungan SiO2 45,69%, Al2O3 2,85%, Fe2O3 1,04%, CaO 1,14%, MgO 0,41%, Na2O 0,06%, K2O 0,14%, P2O5 0,20%, dan MnO 3,03%.  Hasil pemeriksaan petrografis terhadap conto KS-08, menunjukkan komposisi mineral terdiri dari kuarsa (70%), mineral opak (20%), dan serisit (10%). Krisokola berupa bongkah-bongkah berukuran mencapai 10 sentimeter dijumpai di sepanjang S. Majiko terutama di lokasi KS-05, KS-09, dan KS-23. Pemeriksaan mineralogi butir terhadap konsentrat dulang di lokasi KS-23 menunjukkan komposisi mineral terdiri dari piroksen (60,16%), magnetit (24,05%), kuarsa (15,64%), oksida besi (0,15%), dan sedikit mineral krisokola berwarna hijau kebiruan.

f. Daerah Desa Besori.
Di daerah ini urat-urat krisokola dijumpai di lokasi KS-07, KS-27, KS-29, dan KS-30. Urat-urat krisokola berwarna hijau kebiruan dijumpai berukuran tebal antara 1 hingga 10 cm dengan panjang mencapai 15 cm. Arah umum urat sekitar N 300o E dengan penyebaran secara setempat-setempat dan bersifat tidak menerus sehingga sumber daya tidak dapat dihitung.  Hasil analisis kimia unsur utama terhadap conto urat krisokola dari lokasi KS-07 menunjukkan kandungan SiO2 25,75%, Al2O3 1,09%, CaO 0,22%, MgO 0,03%, Na2O 0,06%, K2,O 0,04%, P2O5 0,20%, dan MnO 2,80%. Hasil analisis petrografi terhadap conto KS-07 menunjukkan komposisi mineral terdiri dari lempung (25%), kalsedon (35%), mineral opak (35%) dan oksida besi (5%).

g. Daerah Waringin, Desa Imbu-imbu.
Keterdapatan urat krisokola di daerah ini dijumpai pada lokasi KS-33. Urat berukuran tebal 0,5 – 5 cm dengan panjang sekitar 25 cm. Penyebaran urat umumnya tidak menerus dan terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Sedangkan keterdapatan krisokola berupa bongkah-bongkah berukuran antara 2 – 10 cm dijumpai di pantai pada lokasi KS-02, tersebar seluas sekitar 200 x 50 meter dengan ketebalan rata-rata sekitar 1 meter. Dengan asumsi keterdapatan bongkah krisokola sekitar 20 %, sumber daya hipotetik dapat ditentukan sebesar 2.000 m3.  

Jasper
Jasper termasuk golongan kuarsa mikrokristalin granular yang mempunyai campuran bermacam-macam warna dan biasanya pekat. Kekerasannya antara 6,5 - 7 pada skala Mohs dan berat jenis 2,7. Lokasi kerdapatan jasper antara lain sekitar daerah Tano Ma’ake dan Sungai Majiko desa Doko, serta pantai Waringin, Desa Imbuimbu, dijumpai sebagai bongkah-bongkah berukuran mencapai antara 5 cm hingga 70 cm.
 Di daerah Tano Ma’ake, Desa Doko jasper dijumpai berupa bongkah berukuran diameter sekitar 70 cm di lokasi KS-06. berwarna coklat muda hingga coklat tua, keras dan masif.

Di daerah sekitar aliran Sungai Majiko, Desa Doko, jasper dijumpai berupa bongkah-bongkah berukuran antara 5 – 20 cm, berwarna coklat muda hingga abu-abu kekuningan, keras.

Di daerah pantai Waringin, Desa Imbuimbu, jasper dijumpai di pantai bersama-sama dengan bongkah krisokola. Bongkah jasper berukuran diameter  5 – 10 cm, berwarna coklat tua, coklat kemerahan dan kehijauan. Di lokasi KS-02 dan KS-31 tersebar seluas sekitar 200 x 50 meter dengan ketebalan rata-rata sekitar 1 meter. Dengan asumsi keterdapatan bongkah jasper sekitar 10 %, sumber daya hipotetik dapat ditentukan sebesar 1.000 m3.

Prospek Pemanfaatan Dan Pengembangan Bahan Galian
Pemanfaatan batumulia krisokola dan jasper cukup banyak dan beragam terutama sebagai bahan baku untuk perhiasan.
Sehubungan semakin meningkatnya kebutuhan batumulia dewasa ini, maka kebutuhan bahan baku batumulia juga meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku batumulia maka diperlukan data-data dan informasi tentang kerdapatan batumulia.

Prospek pengembangan bahan galian yang tergolong batumulia, dapat dilakukan melalui proses pengolahan untuk dijadikan batupermata atau perhiasan. Proses pengolahan tersebut dapat dilakukan oleh penduduk setempat yang didukung dengan ketrampilan khusus dan peralatan yang memadai. Hal lain yang dapat dilakukan dalam hubungannya dengan prospek pengembangan bahan galian ini, yaitu dengan cara membawa bahan baku tersebut ke tempat lain untuk dijadikan batu permata/perhiasan.

Pada saat ini di Pulau Kasiruta dan Labuha (Ibukota Kabupaten) sudah ada pengrajin batumulia, jumlahnya 28 pengrajin. Produk yang dihasilkan dikenal dengan sebutan ”Batu Bacan”. Dalam pengerjaannya para pengrajin ini masih menggunakan peralatan sangat sederhana sehingga produk yang dihasilkan masih terbatas, baik dalam bentuk maupun jumlahnya.

Dalam pengambilan dan pengolahan bahan baku, para penambang dan pengrajin (penduduk setempat) masih menggunakan pahat dan linggis sehingga banyak bahan baku  yang terbuang karena pecah-pecah. Pecahan bahan baku krisokola yang terbuang ini sebenarnya masih dapat digunakan sebagai bahan baku untuk batu hias.

KESIMPULAN DAN SARAN

Keterdapatan batumulia jenis krisokola dijumpai berupa urat - urat mengisi rekahan yang terdapat pada batuan lava andesit, secara geologi termasuk dalam penyebaran satuan lava andesit dari Formasi Bacan yang berumur Oligosen. Karena keterdapatan urat krisokola bersifat setempat-setempat dan tidak menerus, menyebabkan sumber dayanya sulit dihitung.

Batumulia jasper dijumpai berupa bongkah-bongkah di sungai dan di pantai, terdapat bersama-sama dengan bongkah-bongkah krisokola. Di pantai Waringin, Desa Imbuimbu jasper mempunyai sumber daya hipotetik sebesar 2.000 m3, sedangkan krisokola dengan sumber daya hipotetik sebesar 1.000 m3.

Keterdapatan batumulia krisokola di daerah Pulau Kasiruta ini tersebar di tujuh lokasi meliputi wilayah empat desa, yaitu Desa Palamea, Desa Imbuimbu, Desa Doko dan Desa Bisori. Sedangkan batumulia jasper tersebar di dua desa yakni Desa Doko dan Desa Imbuimbu.
Batumulia krisokola dan jasper ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku batu permata atau perhiasan.
 
Untuk itu perlu dilakukan :
Penanganan yang tepat dan terarah dari Pemerintah Daerah dan berbagai pihak yang terkait agar dapat menaikkan pendapatan  dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya.
Perlu bantuan dari Pemerintah dan berbagai Instansi terkait untuk dijadikan sebagai Bapak Angkat dalam rangka peningkatan sumber daya manusia, kualitas, desain, produksi dan pemasarannya.

Perlu pengawasan dari pemerintah daerah kepada pihak pengusaha sehingga pengusaha tidak hanya memikirkan masalah untung rugi dengan investasi yang ditanamkan.